Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, June 10, 2013

Petaka di Bulan Desember

0 comments

Desember adalah bulan penuh dengan kebahagian. Di Bulan desember  cairnya gaji ke tiga belas. Bulan desember penuh dengan target atau yang sering di sebut resolusi awal tahun. Bulan di akhir perhitungan masehi ini memang di rasa begitu spesial bagi sebagian besar orang di dunia ini.
Namun bulan desember agaknya tidak begitu indah bagi si Atun. Gadis pekerja sebagai cleaning service di salah satu pabrik di kota jakarta. Sebagai seorang cleaning service Atun bisa dibilang cantik. Temen-temennya di tempat kerja sering menggodainya dengan sebutan cleaning service berparas pramugari. Tubuhnya yang tinggi dengan rambut panjang dan gigi yang tertata rapi, memang membuat atun lebih pantas bekerja sebagai pramugari. Namun apa daya pendidikan atun hanyalah seorang gadis tamatan SMP. Bisa bekerja di pabrik saja sudah bersyukur. Temen-temenya di pabrik sesama Cleaning Service memang lebih banyak berpendidikan tamatan SMA. Entah kenapa Atun bisa di terima bekerja di perusahaan tersebut. Atun datang dari sebuah desa di kecamatan paguyangan dengan bermodalkan tekat ingin merubah keadaan ekonomi keluarga.
Di desanya atun termasuk lulusan sekolah yang cukup tinggi. Pasalnya temen-temen sebaya atun tamatan SD bahkan kebanyakan tidak lulus SD. Atun di besarkan di keluarga yang bisa di bilang kental dengan agamis. Pada saat sekolah dasar paginya atun sekolah formal dan siangnya sekolah di madrasah diniyah. Sekolah diniyah merupakan sekolah untuk memperdalam ilmu agama. Jarak yang harus di tempuh pun untuk sampai di sekolah diniyah cukup jauh. 30 menitan dengan jalan kaki cepat. Melewati sungai dengan arus yang deras. Atun kecil memang penuh dengan semangat yang tinggi bersama teman-temanya dalam mencari ilmu pengetahuan.
Atun semasa sekolah dari SD, Madrasah Diniyah hingga SMP selalu mendapatkan ranking pertama. Atun memang gadis yang penuh tata krama dalam menjalankan aktivitasnya. Setiap kali berbicara dengan orang yang lebih tua dari dirinya selalu menggunakan bahasa kromo inggil. Bahsa yang dalam suku jawa menunjukan ketata kramaan. Di zaman sekarang agaknya bahasa semacam ini sudah hilang dari jiwa anak muda. Namun karena pendidikan dari orang tuanya atun mampu berkomunikasi dengan bahsa kromo ingil dengan fasih dan menunjukan betapa gadis ini penuh dengan sopan santun.
Juni 2009 Atun telah tamat dari SMP swasta di kecematan Paguyangan. Sabtu pagi saat itu orang tua Atun dengan memakai batik serasi seakan bangga menunjukan bahwa telah berhasil menyekolahkan anaknya lebih tinggi. Mereka bertiga bergegas menuju sekolah Atun yang jaraknya cukup jauh bisa di tempuh 1 jam jalan kaki. Karena memang tidak ada kendaran umum jadi jalan kaki menjadi pilihan paling tepat menuju sekolah Atun. Selain itu jalan yang harus di laluinya juga cukup terjal melalui bukit dan lembah yang kalau hujan bisa sangat licin dan becek. Namun pagi yang cerah saat itu seakan melengkapi kebahagian orang tua Atun.
Pak Sutrisno dan Ibu Saliem iya itulah nama orang tua Atun. Nama yang santer jadi pembicaraan warga desa karena meski hidup serba kekurangan namun masih bisa menyekolahkan anaknya hingga tamat SMP. Hampir semua warga dusun membicarakan Pak Sutrisno yang dengan gigih menyekolahkan Atun. Pak Sutrisno dan Ibu Saliem hanyalah seorang petani. Mereka berdua hidup hanya dengan bergantung pada tanah hutan. Tanah yang hanya bisa ditanami 2 kali dalam setahun dengan tanaman jagung. Dan di selingi dengan tanaman ubi dan pisang. Memang bukan hanya Pak Sutrisno saja yang menggantungkan hidup di hutan hampir semua warga menggantungkan hidupnya dari hasil hutan.
Pukul 13.00 WIB Pak Sutrisno, Ibu Saliem dan Atun kelihatan dengan muka bahagia meski terik mentari saat juni itu sedang musim kemarau. Dengan wajah merah-merah ciri khas orang gunung kalau terkena sinar mentari langsung merah. Belum sampai di rumah warga yang ada di jalan bertanya-tanya. “lulus gak tun? Lulus gak tun?, Ranking berapa tun?” dengan bangga meski keringat masih berkucurang Pak Sutrisno menjawab dengan latang “Alhamdulillah lulus Ranking 2”.
Rasa bangga Pak Sutrisno berlanjut malamnya dengan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Mengumpulkan warga dan memanjatkan doa di rumahnya. Menaruh harapan agar Atun bisa bermanfaat dan ilmunya bisa di gunakan dengan semestinya. Malam itu atun tampak begitu ceria serasa bebanya telah selesai. Mungkin Atun juga menyadari bahwa selesai dari SMP ini dia tidak akan melanjutkan ke SMA. Sekolah yang mungkin jadi dambaannya namun dia kubur dalam-dalam mimpinya untuk sekolah di SMA. Malam itu begitu khidmat dan penuh haru.
Dua minggu setelah Atun lulus, Atun memutuskan untuk pergi merantau ikut tetangganya yang bekerja di Jakarta. Jakarta memang bagi orang desa selalu menjanjikan. Segala impian mereka untuk menjadi kaya agaknya memang terukir di Jakarta. Dengan berpikiran semacam itu orang tua Atun pun merelakan dan mengizinkan anak Putri yang di sayanginya pergi ke ibu kota.
Malam senin tepatnya Atun meninggalkan desa dan merantau ke ibu kota. Hanya dengan mengantongi uang RP.400.000 hasil menjual kambing Atun nekat mengadu nasib di ibu kota. Dasarnya Atun memang baik, sesampainya di Jakarta tanpa menunggu lama dia di terima di sebuah Pabrik sepatu kulit. Menjadi karyawan cleaning service pabrik tak membuatnya minder atau surut semangat. Gadis yang masih di bawah umur harus di pekerjakan di pabrik. Aturan pemerintah saat itu masih membolehkan karyawan di bawah umur. Andai saja sekarang mungkin Atun tidak bisa bekerja. Karena untuk bekerja seorang harus memenuhi umur.
Hari terus berlalu sebulan sudah Atun bekerja sebagai Cleaning Servie. Saat tiba gaji pertama Atun cair. 1.000.000, uang yang nampaknya begitu besar bagi gadis desa seperti atun. Atun memang anak yang berbakti kepada orang tua. Hasil kerjanya setiap bulan dia kirimkan ke orang tuanya tentunya setelah di potong untuk kebutuhan di ibu kota yang memang begitu mencekik. Setiap bulan sembari kirim surat lewat pos Atun mengirimkan uangnya lewat wesel. Meskipun orang tuanya tidak dapat membaca dan menulis namun ada tentangga mas Abik yang biasanya membacakan surat untuk warga dusun. Mas Abik adalah guru ngaji Atun dan anak-anak dusun.
September akhir adalah lebaran. Momen yang begitu sakral dan hampir semua anak rantau pada kembali ke kampung halamanya. Semua seakan menunjukan keglamoran betapa kerja di Jakarta memang menjanjikan. Tak terkecuali Atun, sekarang Atun nampak bersih dan sudah bisa dandan. Meskipun masih berumur belasan badan Atun bisa di bilang bongsor (cepet tumbuhnya). Atun yang biasanya pake rok dari tambalan-tambalan kain kini sudah memakai jeans dan dengan kaos yang serasi. Paras Atun yang cantik memang membuat mata terpana melihatnya. Dan tak banyak mengira kalau gadis itu baru kemaren lulus SMP.
Sepekan sudah Atun berada di kampung halamanya. Sudah saatnya dia harus kembali menuju ibu kota tentunya untuk kembali mengadu nasib. Sembari berpelukan dengan ibu bapaknya Atun berpamitan.
Sesampai tiba di jakarta Atun di datangi temen-temen kontrakanya. Menanyakan oleh-oleh seperti biasanya orang yang baru pulang dari kampung. Atun mengeluarkan jajanan khas kampungnya dan dimakan bersama teman-temanya.
Bulan terus berlalu hingga akhirnya bulan desember. Iya bulan dimana cerita ini bermula. Cerita ini di hadirkan dalam goresan luka dan air mata. Atun gadis berparas cantik, klinik service dengan penampilan pramugari.
Menjelang malam pergantian tahun tanggal 31 Desember 2009. Atun pergi bersama teman-temanya untuk berlibur akhir tahun dan merayakan tahun baru 2010. Pabrik dan kantor libur dengan cuti bersama hingga 4 hari. Puncak menjadi pilihan Atun dan tema-temanya. Puncak memang selalu menjadi tempat favorit warga ibu kota ketika libur panjang. Puncak menghadirkan panorama yang begitu indah dan elok yang tentunya tidak akan di temui di kota metro politan seperti Jakarta.
Sesampainya di vila atun dan teman-temanya bergegas ke kamar dan membersihkan diri. Siap-siap untuk malam tahun baru dengan pesta kembang api. Bakaran dan jagung muda sudah siap. Tinggal di bakar saja. Minuman dari coca-cola hingga vodka tersaji di meja.
Semua bernyanyi dan begitu larut dalam pesta kecil-kecilan akhir tahun. Tibalah pukul 23.45, semua siap-siap untuk menyalakan kembang api dari berbagai ukuran dan bentuk. Semua akan teriak Happy new year. Dan apa yang menjadi petaka itu tiba. Pukul 23.55 tepatnya. 5 menit menjelang pergantian tahun baru. Kembang api telah menghiasi langit puncak malam itu. Dari berbagai vila dari berbagai sudut. Dengan warna warni menghiasi langit yang saat itu begitu cerah. Tiba-tiba tabung 3 KG lpj produk pemerintah meledak. Tabung LPG yang di gunakan untuk menggoreng naget. Yang sengaja di bawa ke taman. Harus meledak entah karena apa? Mungkin produk yang menjadi banggaan pemerintah pegganti minyak tanah ini penuh dengan permsalahan. Tabung itu mengenai muka dan sisa belahanya harus menghujam menusuk Atun dan seketika itu Atun menghembuskan nafas terakhir akibat terkena ledakan Gas LPG 3 Kg.
Gadis tulang punggung keluarga. Gadis cerdas yang harus terhenti sekolah karena biaya sekolah yang mahal yang tak bisa di jamah oleh kalangan ekonomi bawah. Gadis desa cerdas yang harus mati sia-sia karena ledakan Gas LPG 3 Kg.


Monday, April 29, 2013

Cinta di Bukit Gunung Sumbing

0 comments

Pagi memang selalu memberikan nuansa indah dengan pancaran sinar mentari di ufuk timur. Sinar yang memancarkan vitamin D dipagi itu yang di berikan Sang Maha Kasih selalu di nanti di Nola gadis berumur 18 tahun yang hidup bersama keluarganya di puncak gunung sumbing. Suatu puncak pegunungan di sebuah kabupaten Brebes. Keluarga kecil ini hidup dengan bergantung pada alam sekita pegunungan yang subur. Apapun yang di tanam di sini selalu tumbuh. Jadi persediaan pangan di sekitar pegunungan ini selalu melimpah. Baik yang berupa umbi-umbian ataupun buah-buahan seperti pisang dan pepaya yang sangat baik untuk pencernaan manusia.
Pagi itu tak seperti biasanya bagi nola gadis yang hampir setiap hari hidupnya bisa di bilang tak pernah mengetahui dunia luar.  Kehidupan yang dia  ketahui hanya sekitar kampung di puncak gunung tempat dia tinggal. Gadis dengan paras tinggi dan berambut panjang lurus terurai dengan kulit putih. Iya gadis-gadis di sekitar pegunungan memang terkenal dengan kulit yang putih mungkin karena cuaca yang dingin. Namun ketika kena sinar mentari sekita wajahnya nampak kemarah-merahan. Tampak begitu menawan dan cantik. Nola selalu duduk di depan rumahnya tak kala pagi dan sore menjelang. Sebuah kursi yang terbuat dari bambu menjadi tempat yang begitu special bagi si nola. Waktunya di habiskan dengan menunggu mentari pagi dan senja di kala sore hari.
Nola adalah gadis yang dengan kondisi badan cacat ganda. Gadis canti ini mengalami gangguan Tuna Netra, Tuna Rungu dan Tuna Wicara. Gangguan ini secara psikologis sering di sebut dengan sebutan Tuna Grahita atau cacat ganda. Untuk mengatasi seorang dengan kondisi fisik seperti ini memang begitu susah. Tokoh yang mampu tambil luar biasa dengan kondisi Buta, Tuli dan Bisu adalah Hellen Khaler. Iya tokoh yang begitu fenomenal dengan kondisi badan cacat. Dan mampu memotivasi orang-orang di berbgai belahan dunia dan mampu membuat buku.
Untuk menjadi tokoh yang fenbomenal mungkin jelas tidak terbesit di pikiran nola. Bisa makan dan minum saja suatu kebahagiaan bagi nola. Terapi untuk orang dengan gangguan fisik seperti nola membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan suatu hal yang berat bagi keluarga nola. Terlebih nola hidup di keluarga yang nota bene suatu keluarga besar. Orang tua nola memiliki anak 6. Dan nola merupakan anak ketiga dari ke enam bersaudara. Kakak nola cewe Mona namanya sudah berkeluarga dan hidup bersama dalam satu keluarga bersama nola. Kakak cowonya  Baharudin dengan kondisi tuli dan gangguan tempramental dan harus dipasung dikamarnya. Adik nola Widiya yang berumur 12 tahun putus sekolah karena biaya. Dan si kembar Dina dan Dini berumur 5 tahun.
Dari keluarga, nola bisa di bilang yang paling malang hidupnya secara kasat mata. Nola tak pernah mengenyam pendidikan. Keseharian nola hanya duduk di teras dan saat makan masuk ke dalam di antar Widya dan kembali duduk di teras lagi. Dia baru memasuki rumah ketika mentari di ufuk barat telah menghilang dan langit kemerahan muncul bagai pijaran api. Nola karakternya begitu penurut dan tak seperti biasanya seorang dengan kondisi badan seperti itu. Dia selalu mau di suapin tak kala waktu makan tiba. Dia juga selalu mau mandi tak kala sore menjelang. Tak kala malam menjelangpun dia selalu bergegas ke kamar tidurnya untuk beristirahat.
“Selamat pagi mba” sapa seorang yang entah dari kampung mana. Tapi nola hanya diam saja menikmati hangat mentari yang kebetulan pagi itu begitu cerah semilir angin juga sejuk disertai dengan nyanyian burung yang berlirik kesedihan melepas kekerinagn embun pagi. “pagii mba permisi” sapa orang tersebut dengan nada yang agak kesel. “mbaaaaa selamat pagiiii permisi mbaa” sapa orang tersebut dengan anda marah dan kesel. Teriakan orang ini sontak membuat keluarga nola keluar dari rumahnya. “maaf mas ada apa yah kok teriak-teriak?” sapa bapak Nola. “maaf pak saya tadi nyapa mbanya mau nanya rumah ketua RT sini pak tapi mbanya cuek saja” sanggah si cowo yang berbaju compang camping serta bertato ular naga di tanganya. “maaf mas Nola memang mengalami tuli, buta serta bisu mas jadi bukanya dia cuek tapi memang tak bisa mendengar apapun yang mas teriakan, kalau rumah pat RT di ujung kampung ini mas, adalagi mas yang ditanyakan?” sahut bapak nola dengan sabar. Cowo itu seketika diam dan mulai memperhatikan Nola yang pagi itu memang nampak anggun dengan gaun ungu dan rambut panjang terurai. “mass..” sahut bapak Nola. “oooooh iyaa bapak maaf bapak, iya Pak terimaksih bapak untuk alamatnya pak mohon maaf bapak saya kira tadi anak bapak tidak seperti yang bapak ucapkan tadi”. “iya mas tidak apa-apa kami sudah terbiasa kok, itulah resiko punya anak seperti nola mas oiya kalau bingung nanti bisa tanyakan saja ke warga di sana mas”. “iyaa bapak terimakasih pak” jawab pemuda itu dengan muka yang malu dan perasaan tidak enak kepada nola dan keluarganya.
Nolapun masih diam dan mungkin sedikit mendengar teriakan yang kencang dari pemuda tadi dan gaduh di dekatnya duduk. Dia menoleh kemudian bapaknya memgang tangannya serta memeluk anak gadisnya itu. Sembari meneteskan air mata dan di kuti sang ibu yang mendekap dari belakang nola. “yang sabar ya nak, hidup di dunia memang seperti ini” meski tak mendengar apapun ibu nola menasehati anaknya dengan suara yang pelan. Namun nola tetap meneteskan air mata, mungkin dia merasakan kesedihan yang dialami keluarganya. Dari matanya keluar butiran air mata yang mengalir di pipinya yang nampak kemarahan terkena sinar mentari.
Kemudian nola di tuntun di bawa masuk oleh ayah dan ibunya diajak untuk sarapan bersama karena hidangan pagi saat itu telah siap. Teh anget dengan gula batu sudah tersaji di meja makan, nasi jagung dengan lalapan daun singkong sambal terasi juga telah siap di meja. Ikan asin yang goreng kering dengan bumbu penyedap rasa khas desa (micn saset) dengan potongan cabai serta bawang merah menjadi menu yang begitu special bagi keluarga nola. Ibu nola menyuapi si kembar dina dan dini sedangkan nola di suapin adiknya Widya. Adik nola ini memang begitu perhatian sama nola dia sambil makan juga menyuapin nola. Sedangkan kakak nola memang mendapat jatah terakhir karena dia dikamar di pasung. Ibu nola selalu menyuapi kakak nola sehabis sarapan itu. Kakak perempuan nola memilih memasak sendiri dan makan bersama suaminya dengan meja yang berbeda. Mungkin karena merasa sudah berkeluarga. Padahal orang tuanya tak pernah sedikitpun melarang kakaknya nola untuk bersama-sama pait asam, hambar asin makan bersama. Menu makanan sederhana namun begitu spesial itu telah di lahap nola sekeluarga. Seperti biasanya bapak nola pergi ke hutan untuk menggarap ladang dan saat itu di tanami jagung dan singkong serta beberapa pohon pisang susu dan pisang ambon.
Widya bisa di bilang gadis yang begitu tanggap dia selalu membantu ibunya mencuci piring dan perlengkapan masak. Ibu nola juga pergi keladang untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak buat makan siang nola dan keluarga.
Nola yang masih dengan baju ungu dan rambut masih terurai kembali duduk di bangku bambunya. Widya memang mendandani nola dengan segitu cantiknya. Maklum satu sisi widya juga beranjak ke masa remaja. Masa yang kita tahu serba pingin mencoba hal baru dan suka berdandan bagi cewe.
Matahari mulai beranjak tinggi terik panasnya menyengat dirasa nola. Dan dia pun dengan nalurinya mencari-cari pintu dan memasuki rumahnya. Sebelum dia masuk datanglah lelaki yang saat pagi itu datang kerumahnya namun nola tak tahu cowo itu. Nola berontak dan tak mau di tuntun. “Ekhh ekkkh ”  hanya penolakan seperti itu yang dilakukan nola. Dia terus memberontak menolak si cowo yang hendak membantu menuntunya masuk. Kejadian itu di dengar widya yang berada di belakang rumah sedang menyapu. “kakak, kakak,” dengan panik widya mendekap nola. “Ada apa ya mas?” tanya widya dengan nafas yag tak teratur. “gak de, tadi pas aku jalan melihat nola sedang merambat-rambat mau masuk niatnya mau membatu nuntun dia de” jawab sang cowo. “gini mas mba nola memang buta, tuli, dan bisu. Tapi dia bisa merasakan sentuhan orang yang dia kenal dan bau keringatnya juga mas”. Sahut widya. Sambil mencium keteknya cowo itu tersenyum, “sial aku baru sadar kalau sudah 5 hari belum mandi”. “mass, mass malah senyum-senyum sendiri mas?” tanya widya. “Kenalin saya Bagas, Bagas Wiwoho” sambil njulurin tangan mengajak salaman. “Widya dan ini..” “Nola” ptong Bagas. Kok sudah tau kakak saya mas? Tadi pagi bapak sudah bilang ke saya kalau ini namanya nola, saya yang tadi pagi teriak-teriak”. “ walah mas to orangnya?” tanya widya menegaskan.
“gini mas mba nola ini memang sudah dari umur 11 tahun mengalami penyakit ini mas, keseharianya ya duduk di kursi bambu itu mas, mba nola ini memang paling cantik di keluarga kita hehehe.. mba ini orang nya baik mas, kalau mau tidur saja saya selalu di peluk sama mba nola. Kalau subuh juga dia selalu bangun duluan dan membangunkan aku. Gak tau padahal dia mba tak mendengar suara yang kecil apa lagi adzan dari masjid yang jawaknya jauh. Mungkin itu karunia dari Tuhan ke mba. Mba di beri insting yang tinggi kalau bangun buat sholat subuh mas. Saat waktu sholat tiba kaya dhur atau asharmba juga langsung masuk rumah mas ya dengan gaya seperti itu yang mas lihat. Tapi tak perlu khawatir mba sudah terbiasa meraba-raba jalanya gitu tapi nyampai kamar juga kok. Mba selalu sholat karena diajari ibu waktu kecil. Bacaan dan gerakanya masih mba ingat dan itu begitu luar biasa mas.” Sambil menghela nafa widya. “terus?” sambung bagas.
“iya kata ibu dulu mba gak separah ini mas, sedikit-dikit masih bisa dengar dan bisa melihat tapi lambat laun pertyakitanya mulai menjakiti tubuh mba mas dan akhirnya seperti ini”. “emang gak berobat ya wid?” tanya bagas penasaran. “wah mas jangankan untuk berobat mba bisa makan saja kami bersyukr bange mas, saya saja sekolah Cuma sampai SD mas”. Bagas diam sambil memandang nola. “dulu tu ibu bilang juga kalau mba sempat kaget karena petir yang menyambar pohon kelapa depan rumah itu mas, deket tempat mba duduk yang sekarang tinggal pohon tanpa daun itu mas”.
“kasiahan Nola kalau mandi gimana dia, kalau makan bagaimana?”. “kalau mandi kadang saya yang mandiin mas, kadang juga ibu mas, mas bagas orang mana sedang apa di desa kami? Saya dari kecil tidak melihat mas soalnya”. “saya memang bukan orang sini wid, saya disini Cuma kepengen melihat pemandangan saja wid, indah banget soalnya melihat dari puncak gunung ini wid.” Tegas sambil menghela nafas. “iya sudah wid saya tak pergi dulu kayanya nola juga mau sholat duhur kan? Mkasih loh wid, besok-besok bisa dilanjutkan ya wid?”. “oiya mas hati-hati mas?” sambung widya.
Sambil jalan keluar Bagas pun memikir kan widya. Agaknya bagas merasa jatuh cinta pada saat melihat Nola. Cowok dengan tampang serem itu agaknya luluh di hadapan wanita bernama nola. Bagas pun merasakan getaran perasaan kepada nola sigadis yang meamng begitu cantik. Sambil memukul-mukul pipinya bagas berjalan meninggalkan rumah nola.
Bagas di desa itu menempati sebuah rumah warga dekat rumah pak RT. Sesampainya di rumah itu bagas masih tak percaya perasaanya saat itu mamng bercampur aduk. Paginya bagas memutuskan untuk mengutrakan perasaanya kepada orang tua nola dan heranya bagas berniat meminang nola.
Pagi menjelang seperti biasanya burung selalu bernyanyi namun kini entah kenapa banyak burung mprit bernyanyi kegembiraan. Matahari yang sayup-sayup dan ta terlalu menyengat namun cerahnya membuka cakrawala pagi. “tok-tok” suara ketukan pintu. Nola yang sudah cantik baru keluar dari kamar dan mau berjemur nola memang selalu mengambil vitamin yang di berika Tuhan di pagi hari itu. Bapak pun membukakan pintu, “kreeeekett.” Suara pintu yang sudah rusak yang terbuiat dari bambu menyerupai gerbang orang kota. “eeekh kamu mas, silahkan masuk mas,” dudukalah bagas di meja kayu memanjang yang terbuat dari kayu pinus dan meja yang penuh dengan noda hitam. Ini disebabkan oleh getah pinus yang terkena panas teko air minum. “ada apa ya mas pagi-pagi ini sudah mampir ke rumah?”. Sambil memandang nola sebentar yang hendak keluar bagas menajwab “gini pak saya yang petama mohon maaf atas kejadian kemaren, yang kedua nama saya bagas pak saya sudah banyak cerita dengan widya kemaren pak, asli saya dari kampung seberang pak kampung Karang Gedang Pak. Kedatangan saya mungkin membuat bapak kaget dan apa lagi kalau bapak tahu maksdu dan tujuan saya juga pagi ini pak. Gini pak langsung saja ya pak? Jujur pak sejak kejadian kemaren pagi saya  masih teringat denga wajah nola pak. Apa lagi kemaren sempat ngobrol dengan widya pak. Saya merasa menyukai dan cinta ke putri bapak si Nola pak. Iya mungkin bapak menganggap saya main-main karena saya baru kenal kemaren pagi. Tapi inilah yang saya rasakan pak. Saya berniat meminang putri bapak. Kalau bapak masih ragu besok saya akan membawa keluarga saya sowan ke sini pak. Gimana bapak?”
“gini mas bagas [ertama bapak bahagia sekalai baru pertama kali ini ada seorang yang berniat meminang nola. Tapi apa gak mas bagas pikirkan ter;lebih dahulu keadaan nola itu bagaimana mas? Gini saja mas, mas bagas pulang dan mas bagas diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga mas bagas bagaimana baiknya mas. Menikah itu bukan hanya suatu hal yang dilandasi oleh nafsu memiliki atau dilandasi suka semata. Nikah juga diharapkan hanya sekali seumur hidup mas. Kalau bapak setuju saja mas. Mas musyawarahkan dulu mas dengan keluarga mas. Kalau sudah mantap barulah datang lagi ke sini mas. Begitu ya mas? Sekali lagi bapak tidak melarang mas, tapi mas pertimbangkan dahulu mas, kalau perlu mohon ke yang Maha kuasa mas.”
Seketika itu juga bagas mohon pamit ke ayah nola dan bergegas untuk pulang. Dan selang beberapa hari kemudian datanglah bagas dan keluarga besarnya. Tak di duga ayah dan ibu bagas tenyata tuna netra. Bagas terlahir dengan keadaan normal. Kemudian bagas menjelaskan latar belakang keluarganya yang semuany tuna netra yaitu ayah dan ibunya. Bagi bagas mencintai bukan hanya tentang permaalahan kulit atau maujud mencintai teteap sejatinya mencintai esensi yang nantinya akan kembali ke  Tuhanya. Bagas juga menjelaskan bagaimana keluarganya hidup dengan rukun dan harmonis. Bisa di bilang ayah dan ibu bagas bangga punya anak seperti bagas yang selalu bekerja keras dan mau berjuang menghidupi keluarganya. Bagas juga mampu membelikan rumah orang tuanya serta mencukupi semua kebutuhan orang tuanya. Bagas adalah anak tunggal.
Dan akhirnya pada hari jumat usai sholat jumat Bagas Wiwiho dengan Nola Yolanda menikah dan mengucapkan ijab dan qobul sebagai syarat syah bagas meminang Nola. Yang di ikuti tangisan di dalam masjid. Keadaannya begitu haru. Nola tak henti-henti meneteskan air matanya. Prang tuanya nola juga terus menangis bahagia melihat anaknya duduk cantik di hadapan penghulu menjadi istri syah Bagas Seorang pengusaha seni. Widya yang begitu sayang dengan nola juga menangis bahagia melihat kakaknya menikah. Semua warga di pegunungan sumbing itu berkumpul di masjid dan berdoa demi kebahagian bagas dan nola. Suara meriam bambu silih berganti berbunyi. Burung-burung berterbangan diatas langit yang siang itu begitu cerah namun tak menyengat karena angin yang berhembus begitu sejuk. Kemudian pengatin ini diarak hingga sampai di rumah Bagas. Bagas dan Nola berada di kereta kudanyasedang warga berjalan kaki yang berjarak 8 km. Sesampai di rumah bagaspun warga sudah mempersiapkan penyambutan pengantin baru ini. Bagas menggendong nola di ikuti senyum di bibir nola yang tipis bak wilat (sayatan bambu).



Friday, December 14, 2012

Aku dan kamu yang masih dalam rencana Tuhan

0 comments
Mendengar tangisan anak kecil setiap hari mengingatkan ku aklan se kecil imut adiku sayang yang di rumah. Karena dulu setiap pagi selalu males untuk bangun pagi dan berangkat ke sekolah. Hal seperti ini yang mengingatkan ku kepada si kecil itu dan semoga dia menjadi anak yang cerdas dan sholeh. Namun entah karena apa terbesit begitu saja tentang tangisan yang hampir setiap pagi dan sore terngiang di telingaku yang lama-lama membuat bosan saja. Iya, bagaimana kalau aku punya anak? hakh pikiran itu memang konyol lah nikah saja masih begitu jauh sudah terpikiran anak.

Bagiku anak kecil memiliki dunia yang begitu menarik dan sangat baik untuk kita contoh. Bagaimana tidak ketika anak kecil menangis dia nagis nya total menangis. Ketika dia tertawa juga tertawanya total tertawa. Ketika dia bahagia juga totalitas bahagianya. Hal semcam ini yang mestinya kita mampu mengambil sisi baik dari dunia anak kecil. 

Aku dan kamu yang msih dalam rencana Tuhan adalah gambaran anaku kelak. Entah dari siapa akan terlahir kelak namun aku yakin dia adalah wanita sholehah nan baik hatinya. Iya mencintai wanita dan menyangi dengan sepenuh hati memang bukanlah perkara medah. Sujiwo Tedjo pernah berkata "lebih baik menaklukan 100.000 serdadu dari pada menaklukan wanita. Pernyataan ini memang terasa konyol, yang bikin konyol bagiku bukanlah jumlahnya tapi pertanyaan ku lah kalau sebagian serdadunya wanita itu bagaimana? Seraya ketawa terbahak.

Iya menggengam sukma wanita itu hal yang sulit. Mungkin saat ini anda dan bahkan saya mampu menggengam tangan wanita yang kita cintai dalam artian kita telah memiliki dia (istri, pacar, ttm dan lainya) namun menggenggam sukmanya belum tentu bahkan sangat sulit kita bisa. 

Mencintai karena kelebihan masing-masing mungkin itu suatu hal yang biasa, namun ketika kita mampu mempersatukan insan karena kekurangannya itu baru keren. Ketika kita mampu menjadikan diri kita mencintai orang lain karena kekurangannya kita kan lebih mampu dan siap dalam penerimaan kelebihanya pstinya. Tapi ketika kita hanya memandang kelebihanya, cakepnya, cantiknya, pinternya, dan nya lainya. Kita hanya di pertemukan di tataran kenikmatan yang tampak, namun untuk menyelami rasa kita masih di tataran dangkal. 

Bayangkan saja banyak orang-orang yang bercerai atau putus hubungan hanya karena alasan yang klise. Aku sudah tidak sepaham lagi dengan dia, Aku sudah berbeda pandangan lagi dengan dia. Iya jelaslah lah orang kita itu tercipta dengan perbedaan, iya wajarkalau ada perbedaan. Harusnya yang jadi masalah bukan di perbedaanya tapi bagaimana salaing mengerti perbedaanya dan menikmatinya dalam perbedaan (saling melengkapi)

Aku dan kamu yang masih dalam rencana Tuhan, aku tidak mengaharap terlalu berlebih akan kedepannya seperti apa. Hanya yang bisa ku lakukan ya aku lakukan dengan sepenuh hatiku. Memang terbesit bayangan akan hidup bersama dalam lingkaran ikatan yang sah hidup dan bercanda dengan anak-anak. Tapi lagi-lagi itu kan juga mimpi wajar-wajar saja. Iya entah siapa kelak yang menjadi bagian dalam hidupku aku yakin itu yang terbaik dan terindah untukku. Diamana aku dapat berbagi suka dan duka. Berbagi perbedaan dalam setiap perjalanan yang coba kita hadapi.

Aku dan kamu yang masih dalam rencana Tuhan semoga Engkau selalu memperbaiki diri mempantaskan kehidupan yang baik Aku pun akan memulai mempantaskan membaikan kehidupan yang aku sendiri kurang mengerti akan di bawa kemana kehidupanku ini kelak. Tapi yang jelas akan selalu bersama mu.

Friday, December 7, 2012

Kesaksian Diri

0 comments
Pagi ini entah apa yang sedang ku rasakan. Pagi ini alam begitu mendukung untuk terus menghakimi seakan diriku tak berarti apa-apa. Berbagai dosa ku lakukan dengan sengaja. Tanpa malu diri ini terbahak-bahak untuk tertawa. Tanpa malu diri ini teriak-teriak meneriakan kata kotor yang tak pantas terlontar. Meskipun diri ini tahu bahwa Tuhan yang Maha Pengampun akan mengampuninya tapi rasanya saya tak lagi pantas datang dan meminta dan merengek. Baju yang di berikan Tuhan kini kotor penuh debu dunia yang melekat dan sulit ku hilangkan. 

Iri ini, sombong ini, sedikit frustasi, sedikit-dikit marah. Mungkin itulah gambaran yang sedang kini ku jalani dalam hidup yang dianugrahkan Tuhan kepada hamba yang hina dan penuh pembangkangan. Iya hamba yang selalu bertingkah tak sesuai dengan kaidah religiusitas. 

Pagi ini mendengar lagu opick dengan judul kesaksian diri, saya mencoba mengerti pesan yang di sampaikan lagu ini. Perlahan-lahan ku replay dnegan sedikit peresapan-peresapan kebohongan menikmati lagu. Ku paksakan saja ternyata begitu dalam. Selama ini kekonyolan dan kebiadaban ku menjalani kehidupan dengan toh akan diperhitungkan juga di sisi-Nya. Duka sepi tangis an rengekan saat itu terasa percuma. Karena keputusan itu telah menjadi final result dan tak mungkin bisa diputar kembali dimensi yang kita sia-siakan. 


Iya mungkin harus nya saat ini detik ini mulai perlahan memperbaiki diri menjadikan kualitas diri lebih baik di sisi-Nya dlam rangka menghamba. Dan semoga Tuhan selalu membimbing jalan kita agar kita mampu melangkah dan menjalani hidup ini seseuai dengan petunjuknya yakni ayat kauliyah dan kauniyahnya.

lirik lagu
tak satupun orang bisa menjamin dirinya
selamat disaat ajal memanggilnya
setitik kesalahan semua akan diperhitungkan
semisai buih dosa yang kita kerjakan

setiap mata, hati, tangan, kaki akan jadi saksi
tiada dusta diri yang tak terhakimi
luka, sepi, air mata tak berarti lagi
akan terlambat segala sesal diwaktu nanti

Allah mohon jangan hukum kami dari dosa
ampuni kami, karena tak mungkin kami sanggup menahan pedih
setitik rahmat yang kau beri lebih berarti dari segalanya
setitik ampunanMu kan menghapus dosa kami

karena mata, hati, tangan, kaki akan jadi saksi
tiada dusta diri yang tak terhakimi
luka, sepi, air mata tak berarti
akan terlambat segala sesal diwaktu nanti



Friday, November 23, 2012

Cinta itu tak Butuh Pengorbanan

0 comments
Cinta itu tak Butuh Pengorbanan

Cinta? Bicara mengenai persoalan cinta memang begitu mengasyikan. Apalagi yang nota benenya masih muda dan masih dalam proses mencari dan menemukan cinta. Cinta terkdang membuat seseorang menjadi begitu tegar dan juga bisa membuat manusia begitu tampak goblok. Sorry bahasanya sengaja saya kasarkan biar kelihatan menekan. Dan para pembaca sadar bahwa cinta seharusnya menguatkan dan memberi kebahagiaan.  
Cinta dewasa ini sering dikaitkan dengan yang berhubungan dengan hal intim baik berupa pacaran ataupun hubungan lainya.  Padahal secara hakekatnya cinta memiliki banyak makna dan denganya kita mampu tersenyum dan berkata aku sayang kamu atau sejenisnya. Baik itu untuk keluarga ataupun untuk orang terdekat kita. Namun cinta yang paling tinggi tentu hanya ke Tuhan kita pastinya.
Dari judul diatas mengkin terasa menentang terhadap kepercayaan yang berkembang dimasyarakat bahwa cinta membutuhkan pengorbanan. Padahal jika kita mau menelaah lebih dalam cinta yang tulus tak lagi memerlukan pengorbanan. Kalaupun ada tindakan untuk membahagiakan pasangan atau orang yang kita sayangi semata harusnya dilandasi karena memang cinta yang tulus. Seorang budayawan Sudjiwo Tejo mengatakan bahwasanya ketika cinta membutuhkan pengorbanan maka cinta mu itu sedang mengalami penurunan.
Iya memang benar tak kala melakukan sesuatu untuk orang yang kita sayangi semata karena kita berkorban itu ada unsur ada balasan. Padahal cinta itu ya tulus ya ikhlas ya bertanggung jawab. Berkorban identik dengan balasan yang hendak dicapai setelah melakukan pengorbanan. Contoh gampangnya, aku datang ke sini hujan-hujan semua ini aku lakuakn berkorban demi kamu. Disitu ada harapan tolong hargai pengorbanan ku. Namun jika kita melakukan segala sesuatunya karena memang cinta beda lagi kata-katanya. Aku kesini karena aku cinta sama kamu yak arena memang cinta tujuannya bukan untuk berkorban dan kemudian mendapatkan sesuatu/perhatia/balasan yang sama.
Jadi mulai dari sekarang belajar tentang rasa yang kita rasakan. Kalau melakukan sesutau hal ya sudah lakukan itu karena memang perlu melakukan itu bukan karena terpaksa atau karena mau berkorban dengan embel-embel pingin ada balasanya.

GAMBARAN CINTA
Alla SWT (Tuhan YME)






Orang Tua





Orang yang kita cintai/Pasangan/sahabat/teman dll





Diri kita harus mampu berhubungan dengan Tuhan kita juga dengan sesama atas nama cinta kita dan penuh dengan ketulusan dan keikhlasan.

Thursday, November 22, 2012

Manusia itu Sempurna

0 comments

MANUSIA ITU SEMPURNA
Aku galau, aku malu, aku minder, aku tidak bisa apa-apa. Beberapa penghakiman trehadapa diri sendiri sering sekali kita lakukan entah dengan alsan apa kita melakukan hal semacam itu. Kita cenderung mematematikan kehidupan. Hidup dipenuhi dengan membadingkan dan hnay terfokus pada kekurangan. Lebih dari itu hidup itu indah, hidup ini tidak ada yang pasti. Semua yang ada di hidup ini seatu waktu pasti bisa berubah dan mau tidak mau kita harus menyadari nya. Jika kesadaran akan kehidupan ini sudah kita tanamkan maka hidup ini akan di lalui dengan penuh irama kehidupan. Pahit manisnya tetap di olah menjadi lebih enak. 




(gambar dengan modal pas bisa muter-muter bali itu bertanda manusia sempurna dan punya banyak cara menjalani hidup)

Terkadang kita terlalu di sibukan memfokuskan diri kita pada kekurangan kita sehingga apa yang menjadi kelebihan kita terabaikanbegitu saja. Potensi kita terkubur oleh ego kita yang hanya mau memikirkan hal-hal yang mungkin kurang kita sukai atau bahkan menurut persepsi orang buruk. Perasaan semacam ini lah yang sering membuat kita menjadi under achievement.
Pandangan bahwa kita tak berguna itu sangat konyol dan naïf sekali. Setiap manusia di ciptakan sudah di gariskan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Jadi setiap manuisa memiliki potensi untuk menjadikan kehidupannya dan hidup dunia menjadi lebih baik. Namun jika yang ada manusia menghakimi dan menggerutu kepada dirinya sendiri tanpa mau merubah pandangannya. Selain itu tidak  mau menggunkan kemampuannya yang ada dunia ini makin di penuhi manusia dengan ketahan hidup yang sangat rendah.
Seperti yang telah kita ketahui angka bunuh diri dunia saat ini setiap tahunnya mengalami peningkatan tajam. Dan hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan. Ini menggambarkan terlalu banyak manusia yang putus asa terhadap kehidupan ini. Terlalu banyak manusia yang enggan untuk berterimakasih dan mau berusaha serta bangkit kembali. Yang di pikirkan hanya hasil akhir bukan bagaimana mengakhirinya dengan sebaik-baiknya dari effort atau usahanya.
Pikiran atau mind set kita telah tertanam kuat bahwa kebahagiaan itu harus perfect, dengan wajah tampat atau cantik, banyak uang, hidup mewah dan di elu-elu kan orang banyak. Sehingga ketika mendapatkan sesuatu yang berbeda sedikit / kekurangan nya, mereka langsung down dan tidak mau bangkit lagi.
Harus nya kita lebih mau membuka mata hati kita akan hakekat kehidupan ini. Kita sadari tujuan dan fungsi kita masing-masing. Kita sadari apa yang ada atau potensi apa yang ada dalam diri kita untuk kita kembangkan. Dengan begitu rasa bersyukur kita akan termanifestasi dalam wujud yang nyata berupa karya nyata. Bukan hanya di tingkatan lidah atau ucapan semata sebagi terima kasih atas kenikmatan. Lebih dari itu implementasi atas ucapanya dalam kehidupan lebih baik dari sekedar ucapan.
Bersyukur artinya mau berusaha dan mau merelakan apa yang bukan menjadi hak tubuh kita. Artinya kita jangan memaksakan apa yang bukan menjadi proporsi bagi tbuh kita. Setiap orang memiliki persepsi tersendiri dalam memandang suatu hal. Barang kali baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, begitu pun sebaliknya. Jadi yang harus kita pahami tubuh kita memiliki proporsi dan potensi tersendiri. Jangan terlalu memaksakan memasukan sesuatu ke tubuh kita yang justru akan menambah kesusahan tubuh kita terutama hati kita. Jangan terlalu sering menggunkan hati untuk sekedar iri atas kenikmatan seseorang, dengki atas keberhasilan seseorang atau susudzon atas hasil yang di capai seseorang.
Marilah kita mulai melapangkan dada kita memandang kehidupan ini dari sudut pandang yang baik. Kita mulai menyadari diri kenali diri, ingat lah bahwasannya kekurangan itu nikmat karena memang tidak ada  kekurangan di dunia ini. Bukan kah Tuhan menciptakan kita sesuai dengan proporsi yang sangat sempurna? Tidak kah kita menyadari itu? Atau kita memang tidak mau menyadari itu? Tetaplah tegakan langkah mu di muka bumi ini jangan takut dan jangan gentar Tuhan mengiri setiap langakh mu dan Dia adalah sebaik-baiknya penjaga.

Indah Pada manfaatnya

0 comments

Semua akan indah pada manfaat nya
Berambisi mendapatkan sesuatu itu wajar, punya keinginan yang menggebu-gebu juga wajar sebagai manusia yang hidup di dunia yang fana ini. Namun tidak kah kita menyadari bahwasannya hal yang kita kejar belum tentu memberikan dampak atau manfaat bagi kita atau bahkan sekeliling kita? Pertanyaan semacam ini lah yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri. Sejauh mana manfaat dapat kita peroleh dari apa yang kita kejar selama ini. Apa mungkin kita hanya memenuhi nafsu atau ambisi sang diri semata. Sudah seharusnya azas manfaat harus kita bangun kembali di sendi-sendi kehidupan yang sekarang ini. Hidup di zaman yang sudah di penuhi kompetensi semata, tanpa memandang lawan atau kawan. Hidup di dunia yang  begitu tragis.
Sebuah cerita lucu namun engelitik akan coba saya bagikan kepada temen-temen semoga kita dapat termotivasi untuk hidup lebih bermanfaat.
Cerita ini bermula saat seorang pemuda  yang kerjaannya setiap hari hanya membawa sepotong kayu dari hutan dekat tempat dia tinggal. Hampir setiap hari dua sampai tiga kali dia bolak balik hutan untuk membawa potongan kayu bekas untuk di kumpulkan. Semua orang yang melihat nya selalu menertawakannya tiap kali dia lewat di hadapan mereka. Namun dengan penuh ketegaran pemuda itu terus melangkahkan kaki nya membawa potongan kayu yang berat.  Satu demi satu batang kayu di kumpulkan di gubuknya yang sederhana. Teman sebayanya kebanyakan lebih memilih menjadi buruh tani demi uang yang jumlahnya tidak seberapa. Di mata orang-orang pemuda itu di anggap pemuda yang tak memiliki masa depan yang cerah dan hanya seorang pengangguran yang kerjanya Cuma membawa ptongan kayu.
Lambat laun kayu-kayu yang dia bawa dari hutan, di potongi kecil-kecil dan dia ukir sederhana. Dengan bentuk yang bermacam-macam, mulai dari kotak, bulat dan oval. Dia bekerja sednririan tanpa di bantu oleh siapa pun. Hanya ayah dan ibunya yang setia melihat hasil karya anaknya yang kian hari kian menumpuk di beranda rumah. Dan mereka hanya mendukung tanpa mengerti banyak apa yang hendak di lakukan anaknya kelak. dan hasil yang bisa di capai dari potongan kayu-kayu kecil sepeti itu.
Setelah beberapa bulan warga desa bingung kenapa pemuda yang biasanya membawa kayu tidak lagi beraktifitas seperti biasanya. Kemudian ada beberapa informasi dari mulut ke mulut pemuda itu sudah pergi ke kota dengan membawa potongan dan ukiran kayunya. Dan dia menjualnya di kota dalam bentuk mainan anak yang uni, kerajianan pot bunga, alat-alat keperluan rumah tangga dan lain sebagainya. Dan semua karyanya laku keras di kota sehingga dia kebanjiran orderan setiap harinya bahkan dari orang-orang asing. Semua yang dia buat ternyata manfaat sangat besar, karena hanya memanfaatkan sisa limbah potongan kayu yang terdapat banyak di hutan dekat tempat dia tinggal di desa. Dan singkat cerita dia menjadi jutawan dan mampu membangun desa nya menjadi lebih baik. Memperkerjakan pemuda-pemuda sebagai pengrajin. Dan membangun jalan-jalan di desanya temapt dia tinggal sebagai sarana transportasi. Sehingga akses ke desa nya pun menajdi lebih mudah dan warga yang tadinya menertawakan kini jadi bangga dengan usahanya. Dan yang membanggakan lagi hutan dekat temapt dia tinggal tetap terjaga karena di samping selalu reboisasi dia juga hanya memanfaatkan kayu-kayu limbah.
Itulah lah bukti bahwa segala hal yang kita lakukan akan indah pada manfaatnya kelak ketika semua orang tepuk tangan bangga pada usaha kita.

Monday, November 19, 2012

Seri hidup harus berusaha 3

0 comments
Entah petunjuk apa yang hendak di berikan kepadaku oleh sang punya jiwa. sepanjang jalanku hari ini menju kampus dan kembali lagi dari kampus suasana begitu menarik perhatianku. Dari berangkat dengan nuansa mendung dan penuh kabut dingin hiruk pikuk manusia tak berkurang sedikitpun dari hari biasanya. Rasa malas yang ada mungkin terpupus oleh rasa hidup bahwa memang hidup harus berkarya atau berusaha. Berusaha menjadikan kehidupan menjadi lebih hidup.

Sepanjang jalan yang ku lalui suara nyaring dari klakson kendaraan yang tergesa-gesa dan ingin mendahului memberi nuansa yang beda dan indah. Setiap persimpangan tampak begitu rame dan sesak penuh dengan para pejuang kehidupan. Lagi-lagi memang muncul pertanyaan apa yang hendak ku lakukan? aku sudah melakukan apa? jawaban itu tak kunjung ku temukan dan hanya hujatan akan diriku yang merasa tak berguna.

Selama ini hidupku hanya dipenuhi dengan rutinitas yang ku rasakan tampak tak memberikan makna apapun untuk hidupku tau orang lain. Aku menjalani hidup bagaikan si alif kecil yang hanya mencari jalan karena tersesat. Bagaikan air yang hanya mengalir makin kebawah dan kebawah. Semakin bertambah kuantitas umurku tak di barengi dengan kualitas umurku. 

Sesampainya dikampus pagi itu, semua orang-orang nampak santai dan tanpa beban menjalani hari-hari merka. Tapi apa iya mereka tak memikirkan apapun tentang hidup? Aku masuk kelas dan berdiam dipojokan tempat yang sekarang jadi tempat favoritku. Nilai ujian tengah semester kemaren dibagikan dalam lembaran klasikal berisi tulisan acak-acakan dan tercantum angka dengan tinta merah 42/100. Angka yang begitu kecil dan berasa bodoh sekali dan rasa tak berguna itu muncul dan kembali muncul. Rutinitasku saat ini cuma kuliah - pulang untuk mendapat nilai yang bagus saja aku tak mampu. Keterlaluan gejolak jiwaku meradang, namun nyatanya itu hasil yang objektif dan tentunya dengan proses yang jeli dari dosenku.

Hari ini memang begitu penuh dengan kode-kode yang tak terungkap entah sebagai tamparan atau penyadaran akan jiwaku. Semuanya terasa kian bobrok dan hati yang kian kotor ataukah mungkin otak yang makin bebal. Entahlah jawabku lirih dalam hati. Sambil keluar dari kelas yang kian bising dengan orang-orang yang kelaparan dan pusing mengerjakan test kreaplin aku lepas canda tawa palsu.

Pulang menuju parkiran beban rasa yang ku padukan dengan tawa palsu ku lemparkan semua orang dengan harapan ku dapat menutupi betapa saat itu suasana hati sedang tak menentu. Perjalanan pulang aku menawarkan diri untuk membawa motor dengan temanku. Betapa terperangah kaget saat di perjalanan sekitar jalan magelang ku melihat nenek tua menggendok dagangan dengan susah payah namun tetap tersenyum. Berjalan lagi dipertigaan indomaret sesudah lampu merah nenek tua sedang tersenyum melayani pembeli yang hendak membeli baju bekas jualannya. Betapa seakan mereka menyadarkan ku dan seakan berkata "ayo bangit ayo bergegas", dengan simbol menutup mata aku mengiyakan semuanya.

Pikiran saat itu tak menentu samapai laju motorpun kebablasan dari rute yang biasanya kita lalui namun ku tak ambil pusing dengan terus membawa nya melalui jalan yang sedikit lebih padat dan jauh. Sepanjang jalan itu aku masih berpikir dan lampu seakan menjadi hijau semua aku melaluinya seakan tak berhenti di persimpangan jalan itu. Ini siapa yang mengatur sebenarnya? atau kebetulan belaka tanyaku penasaran. Akh mas bodoh yang penting ku sampai di kost batin ku menggerutu. 

Kridosono stadiun yang tak terurus menjadi rute perjalanan kami berdua dengan temanku. Tepat di depan ku seorang kakek dengan berjalan pincang dan dengan tongkat kayu sederhana dia membawa gerobak sampah yang melebihi kapasitasnya sebagai seorang kakek. Begitu terenyuh dan tambah tidak menentu rasa ku saat itu. Berhenti lagi aku dipersimpangan lampu merah mandala krida seorang kakek pincang dengan ingus di hidungnya yang molor mencoba menjajakan koran di mobil-mobil dan orang yang berhenti di lampu merah. Aku hanya diam dan menyebut terimaksih ya Allah semoga engkau memberi kekuatan keapada orang-orang yang ku lihat tadi dan telah memberikan pelajaran arti hidup. Seberapapun sulitnya hidup yang harus ku jalani aku harus tetap berguna bagi orang lain. Seberapa menderitanya hidup aku akan mencoba tetap tegar dan terus berusaha dengan semampuku. Dan seberapapun beratnya hidup akan ku coba tetap bersyukur kepada Engaku atas nikmat yang di berikan. Semoga Engkau melindungi hamba, keluarga hamba dan orang-orang yang hidup dalam derita. Sadarkanlah orang-orang yang menghianati hidup dan mengingkari nikmat-Mu, berilah mereka embun sebagai pendingin atas iri dan dengi kepada yang lain.

Hari ini atau nanti kewajibanku hanya berusaha dan Kau penuntun dan pereralisasi jalanku.