Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Wednesday, April 15, 2020

Pesan Perpisahan

0 comments
Pesan Perpisahan

Senja sore yang indah, sepasang merpati terbang bebas di langit sore yang cerah. Semilir angin berhembus pelan menggerkan dedaunan dan pepohonan kecil. Sekelompok anak kecil bermain bola di lapangan dengan cerianya. Ibu-ibu sedang asyik bergosip sembari menyuapi anaknya di pinggir lapangan.

Dewa Cuma duduk termanggu dan diam sendirian sembari menikmati lagu viera berjudul Seandainya. Sore yang syahdu namun tidak dengan hati dewa yang hancur berantakan bak di sayat sembilu. Perpaduan lagu dan suasanya begitu magic. Andai saja tidak di tempat yang ramai sudah pasti dia akan teriak sekencang-kencangnya entah itu memaki atau apapun asal buat lega.

Entah sepulangnya dari bepergian dia terlihat manyun dan terus berdiam di pojokan lapangan deket rumahnya. Cowo yang sangat gesit dan trengginas itu tetiba mendadak mellow tidak jelas. Muka cerianya berubah seperti kuburan keramat yang angker dan seram itu. Berulang kali dia mentap handphone nya yang jadul itu. Entah apa yang sedang dia tunggu atau harapkan setiap kali handphone nya berbunyi. Selesai melihat handphone manyun lagi dan berulang terus sampai malam tiba.

“Kenpa kau diam seperti itu anak muda yang namanya agung dewa?”
“kakek liat lah pesan ini.” Sembari memberikan handpehone jadulnya.

Ini keputusanmu, bukan keputusanku, ini inginmu dan sama sekali bukan inginku, aku bakalan inget2 terus apapun yg kamu ucapkan sayang

Aku sayang sama kamu. Bahkan sangat sayang. Aku lakukan apapun hal gila jg demi kamu dan cuma ke kamu sayang.

Aku akan berusaha, sangat berusaha, walaupun aku tahu hasilnya nanti seperti apa?
Aku tahu cinta sayangmu tak sebesar cintaku ke kamu, akupun smpe detik ini masih ga tahu kamu beneran sayang atau ga tapi yang kamu harus tahu aku cinta dan sayang banget pingin selamanya sama kamu.

Ini cuma salah satu cara yang detik ini bisa kulakukan, nanti akan kulakukan hal gila apapun untuk bisa lupain kamu. walaupun ga tahu akan bisa berhasil atau enggak, 1 hari 2 hari atau mgkn cm beberapa jam aku tetap berusaha. Nanti pasti aku bakalan kangen, pasti pingin ini itu dll.. tp aku udh ga tahu lagi caranya supaya ga sayaang ke kamu tuh gimana?

Aku nulis smbil bingung sedih keinget omonganmu. yang aku takutin kalau aku ga berhasil itu aja sih.. Dan besok-brsok aku harus denger kata-kata itu berulang-ulang dari kamu aku ga mau, itu nyakitin seolah-olah seperti mencintai orang yang sama sekali ga sayang ke aku. Itu yg kadang aku rasakan. Tp kamu GA PERLU minta maaf.. krn seharusnya aku yang sadar, aku yang salah, aku yang slalu minta ini itu, aku yang selalu kangen, semuanya aku.

Kmupun td jg bilang akan sama2 bantu aku. Semoga kita sama2 berhasil.

Makasih ya sayang buat smuanya.. aku inginnya berakhir indah bukan seperti ini. tapi sepertinya kamupun ga tahan penat dengan aku, dengan keadaan dan smua. Maafin aku selama ini minta waktu ini itu dari kamu.

Aku sayang kamu"

“Gimana kek? Aku kudu kepiye?” Tanya dewa
“Laaah kenapa gak kamu hubungi dia?” Tanya sang kakek
“gimana mau hubungi wong dia ngeblok semua nomer saya kek”
“duuuh kamu dalam masalah besar dewa, makanya adil lah kamu jadi manusia itu. Berbuat baik jangan suka menyakiti hati seseorang. Kalau udah kaya gini sudah selesai kamu. Sudah tidak bisa apa-apa kamu. Udah kamu berdoa saja semoga dia mau memaafkan kamu itu aja sudah bagus. Tidak usah mengharapkan apapun selain kebikan hatinya memaafkan kamu. “
“baik kek. Terima kasih banyak kek.”

Sejak itu dewa mulai perlahan menyadari kesalahan fatalnya kepada sang kekasih. Namun dia sudah gagal sebagai manusia baik karena melukai seseorang. Namun sejatinya tidak ada jatuh cinta yang tak sakit. Setiap kisah cinta selalu ada bumbu sakitnya. Namun dewa tak dapat berbuat banyak karena semuanya sudah di ahiri sang kekasih lewat pesanya. Dan parahnya pesanya tak akan pernah bisa dewa balas karena semua media telah di blok oleh sang pujaan hati. Benar kata sang kakek berdoa dan memohon agar di bukakan hati sang kekasih untuk memaafkan saja sudah sangat bersyukur. Karena dengan di maafkan kita sedikit lebih tenang menjalani hari-hari. Meskipun paku yang telah tertanjap meski sudah di cabut akan tetap meninggalkan bekas. Begitu juga dengan kita, kalau sudah melukai meski di maafkan namun tak bisa di lupakan. Aaaah saya ini juga sering banget berbuat kesalahan dan menyakiti orang lain. Semoga kalian semua yang baca tulisaku tidak yah.

Friday, April 3, 2020

Belajar Dari Pak Tani

0 comments

Belajar dari Pak Tani.

Setiap perjalanan panjang memang harus kita mulai dari langkah kecil. Setiap hal besar harus kita mulai dengan hal-hal yang kecil. Tanpa hal-hal kecil kecil itu hal besar tak akan terjadi kecuali pada sebab-sebab tertentu. Dan tentunya hal kecil itu di lakukan secara konsisten.

Di belakang rumah saya ada beberapa sawah yang setiap hari saya pandangi di kala pagi hari. Setiap pagi itu pula seorang bapak-bapak dengan setia menengok sawahnya yang di tanami padi. Dari mulai mencangkul sampai proses tanam beliau selalu datang ke sawah dengan segala harap kelak 2-3 bulan beliau akan punya beberapa karung beras dari hasil tanamnya itu.

Beberapa hari yang lalu hujan dan badai melanda Jogjakarta tak terkecuali di daerah saya tinggal. Hujan dari sore hingga malam hari itu cukup deras. Dan saya menyaksikan sendiri betapa padi yang sudah mulai menguning itu luluh lantah terkena angina, roboh. Hanya kurang beberapa hari panen angina benar-benar membuat semua rencana bisa berubah. Dan saya yang Cuma bisa menyaksikan saja bisa sedih, saya tidak tahu perasaan bapak  yang hamper setiap hari datang ke sawah ini.

Hari  ini beliau memanen padinya, saya melihat raut wajahnya agak sedikit ceria. Saya tak melihat kesedihan terlintas di wajahnya. Agaknya memang betul bahwa manusia yang paling sabar, ikhlas dan hidupnya penuh kepasrahan adalah petani.  Lah wong saya yang melihat saja sedih, beliau yang mengalami malah tak terlalu memikirkannya. Hehehhe

Dua petak sawah itu kini sudah menghasil kan beberapa karung gabah. Tak peduli seberapa banyak hasil yang sudah di dapat. Yang jelas langkah kecilnya yang setiap hari beliau lakukan menghasilkan seberapapun besarnya hasil itu. Toh meratapi semua yang sudah terjadi tak akan mengembalikan apapun. Dan mungkin cara terbaiknya ya ikhlas.

Beda ya sama kita terutama saya sendiri. Apa-apa selalu di pikirkan terlalu dalam. Banyak ngeluh kesana kemari gak jelas. Kalau ada hal buruk menimpa atas pilihan saat ini selalu bandingkanya dengan masa lalu. Eh btwe kalian juga kan? Hahahha istilahnya susah move on. Ada yang sampai bertahun-tahun sudah melewati kehidupannya masih aja yang di banding-bandingkan masa lalunya. Nyesel terus hidupnya. Padahal mungkin tak berat-berat amat kalau kita bandingkanya dengan kemalangan orang lain atas hidup yang di jalaninya. Cara pandang kita atau penyikapan kita terhadap suatu masalah memang berbeda-beda, tapi kita ini manusia modern banyak manjanya. Ya kan?? Ngaku deh heheh..



Thursday, June 9, 2016

RAMADHAN DATANG LAGI DAN AKU MASIH BINGUNG

0 comments
RAMADHAN DATANG LAGI DAN AKU MASIH BINGUNG
Tiada bulan yang paling membahagiakan selain bulan Ramadhan, itu sih yang saya tau waktu masih kecil. Iya masih kecil,karena di usia usia kanak-kanak hingga anak anak lah kita bisa merasakan dan menyambut ramdhan dengan suka cita. Selebihnya hanya orang orang dengan maqom tertentu saja yang bisa dengan sangat bahagia menyambut Ramadhan. Dan orang seperti saya ini Cuma orang yang asal puasa,asal sholat di tambah bingungan.
Akhir-akhir ini saya sering melihat fenomena setiap kali Ramadhan datang semua kebutuhan perut manusia mengalami kenaikan. Konsumsi kita naik hampir 100 % prosentase yang sangat tinggi mengingat kita hanya makan mungkin maksimal 2 kali itupun malam hari. Lalu kenapa ini bisa terjadi? Aku yo jane memeng mikir koyo ngene hahaha tapi baiklah saya mencoba sedikit berbagi analisis gila saya kenapa Ramadhan di negeriku yang sangat saya cintai ini agak sedikit lucu. Bagi saya entah bagi sampean semua.
Bulan ramadha adalah bulan dimana seharusnya kita menahan diri untuk berkata iya pada hal yang biasa kita lakuakan sebagai aktivitas sehari hari yang notabene kurang baik. Bulan ini momentum untuk berani dengan tegas mengatakan tidak untuk melakukan hal yang kurang baik.
Kenapa tidak sederhana saja di bulan Ramadhan ini? Kenapa kita harus dengan sangat sibuk menyiapkan segala hal hanya untuk yang namanya berbuka puasa? Semua makanan rasanya pengen kita beli semua? Sebenarnya puasa kita kita itu untuk belajar menahan atau buka itu hanyalah balas dendam dari keseharian kita yang tak makan apa-apa? Katanya makan makanlah hanya untuk menegakan tulang rusuk kita? Puasa kita ini puasa balas dendam atau puasa yang belajar menempa diri kita menjadi manusia yang sederhana dan berlebihan.
Menjelang buka kita di suguhi aneka jajanan di pinggir jalan, dan hampir semua kota melakukan hal semacam ini. Kita justru sibuk mencari makanan ketimbang berdoa menjelang senja. Jalanan macet total semua manusia berlomba mengumpulkan makanan sebanyak-banyak nya, setelah itu apa itu makanan di makan semua? Ini yang menyebabkan konsumsi dan pengeluaran kita naik salah satunya.
Harga daging sapi katanya naik yah? Udah biasa kali g usah kaget, menjelang Ramadhan harga daging kok bisa naik ? tau kan kenapa harga suatu barang bisa naik? Konsumi banyak sedangkan stok sedikit? Ramadhan mbalik lagi ke masalah perut dan perut hahaha.
Kok jadi banyak iklan obat si di bulan Ramadhan.? Katanya puasa itu mencegah kita dari berbagai rasa sakit. Itu banyak ustadz malah jadi bintang iklan suplemen agar puasanya kuat .hahaha memang terkadang demi uang, prisnsip sering kalah kok. Tidak apalah saya juga sering seperti itu tidak Cuma pak ustadz hahahha…
Kalau masalah masjid rame saya tidak berani membahas, soalnya saya sering sholat sendirian hahaha selamat malam semoga puasa kamu dan aku berkah. Masalah puasa di terima atau apapun biar Tuhan saja lah yang menilai. Stop menghami dan saya juga Cuma sharing, teman teman kalau mau makan sampai buncit yo tak masalah, tapi jangan lupa berbagi biar kenyangmu menyebar. Monggo yang mau teraweh,.



Sunday, November 1, 2015

CINTA DI NEGERI ANDALAS

0 comments
CERITA SENJA DI NEGERI ANDALAS
Ada yang ditangisi dari kepergian senja yang terenggut mentari. Keindahan jingga dan kemuning langit di barat bumi. Seorang gadis termangu duduk diantara pepohonan cemara dan pinus. Mengingat doa-doa yang ia panjatkan setiap saat kepada Tuhannya. Kedatangan kekasihnya dari negeri doa yang tiap siang dan malam dia panjatkan. Seorang laki-laki yang selalu dia doakan datang dan menemuinya. Laki-laki yang tak pernah dilihatnya di dunia nyata. laki-laki yang hanya ada di dalam mimpi dan doa-doanya. Alasan apa yang membuat gadis ini tiba-tiba jatuh cinta dan merasa memiliki laki-laki yang hanya ada dalam dunia khayal dia mungkin hanya dia dan seorang laki-laki itu saja yang tahu.
Sebut saja dia bernama senja, gadis cantik dari negeri andalas. Berfrofesi sebagai pekerja rumah sakit swasta. Kebehagian selalu menyelimutihari-harinya. Sesekali dia terdiam bukan karena sedih namun sekedar bertafakur. Mengingat betapa kehebatan Tuhan mengirimkan cinta kepada nya. Yah cinta kepada orang yang tak pernah sekalipun dia temuinya. Jatuh cinta memang tak pernah direncanakan bagaimana itu bisa terjadi atau itu bisa ada. Semua sudah diatur dengan sangat elegan oleh Tuhan.
Hari itu tepat tanggal 10 Bulan November 1930. Tepat dia berusia 26 tahun. senja mulai realisitis tentang cintanya. Kebahagiaanya tak boleh bergantung kepada siapapun. Apalagi kepada laki-laki yang tak pernah dia temuinya di dunia nyata. hari itu dia memutuskan untuk mulai menjalani hidupnya dengan tanpa berharap pada sosok laki-laki itu.
Tetiba seminggu setelah itu ada secarcik kertas yang tergeletak di kursi di bis yang dia pergunakan sebagai angkutan tiap kali dia berangkat dan pulang kerja. kertas itu bertuiskan seperti ini :

Senja barang kali kita tak pernah bertemu di dunia nyata, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku.
Aku tak lagi berharap kepadamu senja, aku memilih kebahagiaanku. dan semoga Kau pun bisa memilih kebahagianmu.
Aku pergi dan akan terus pergi dari kehidupanmu. Sebarapa pahitnya itu, aku akan pergi karena aku tak mau terus menggoreskan luka dan menyiraminya terus dengan air matamu yang lebih asin dari air laut.
Aku berdoa semoga impianmu, cita-citamu kesampaian. Lupakan lah tentang es cream itu. Lupakan lah kalau kita pernah bermimpi jalan dan menikmati sore hari dengan anak-anak sembari tertawa menikmati es cream kita yang sudah meleleh.
Aku minta maaf untuk semua janji yang tak ku penuhi. Aku minta maaf karena telah mencintaimu. Aku minta maaf telah hadir dalam kehidupanmu. Bahkan hadir dalam doa-doamu yang suci itu.
Tapi senjaa, kau pernah bilang bahwa hidup harus terus berjalan. seperti layaknya bumi. Jika berhenti semua akan jadi kacau. Alam akan hancur jika sedetik saja bumi berhenti. Hidup pun begitu kan? sedetik saja kita mencoba berhenti kita kan kehilangan segala hal. Ada banyak harapan yang harus kau raih di sana. Ada banyak hal yang harus kau penuhi. Lupakan lah aku di dalam doamu. Lupakan lah aku dalam setiap tetes air matamu.
Senja mungkin Tuhan tak akan mempersatukan kita di dunia nyata. Aku dan kamu akan menjadi bagian dari khalayan. Aku pernah bahagia dan tertawa bersama kamu. Aku pernah merasa yakin bahwa kelak kamu dan aku akan hidup di sebuah desa yang damai. Kita pernah berdebat untuk tak memelihara kambing. Senja semoga kelak kita akan berjumpa dalam Renacana Tuhan di kehidupan yang tak aku tahu kelak.
senja aku yakin kau akan menemukan tulisan ini karena aku yakin kau menegrti betapa menyakitkannya merindui. Tapi akan jauh menyakitkan ketika kita saling berharap pada hal yang tak pasti. Aku pergi senja kau harus pergi karena gelap akan merenggutmu jika tak kau pergi dari sini. Kau akan selalu indah sampai kapanpun, sampai aku mati aku akan mengongatmu sebagai senja yang hiasi soreku.

Dari seorang yang hanya ada dalam doa mu.
17-11-1930

MR.


Thursday, December 5, 2013

MAHA SATPAM

0 comments
          
            TANYA jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak dinyana anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak meningkatkan nada suaranya.
             ”Saya sangat kecewa mengapa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap sedemikian lunak kepada orang-orang yang dating ke kuburan untuk meminta angka-angka buntutan! ” ia menuding-nuding , ”Itu jelas syirik, saya sebagai warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya yang sejak kelahirannya bermaksud memberantas segala tahayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah penghabisan!”
             Bapak ustadz terkesima.
             Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun ”semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajaknya Chairul Anwar ”Aku” atau ”Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltage suaranya meningkat? Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat perjuangan dari generasi satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk soal macam apa semangat itu mesti di terapkan, adalah soal kedua.
             ”Adik manis, maafkan saya kalau memang khilaf,” bapak ustadz berkata dengan lembut, ”Tapi saya berharap aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk tidak terlalu dingin terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuuwun sewu, saya melihat ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke dalam es dawet…”
             Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.
             ”Syirik ya syirik, tapi orang masuk kuburankan macam-macam maunya. Ada yang mau cari tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekedar menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta barang-barang seperti yang diminta tetangganya. Terus terang saya juga sering masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat jenuh oleh acara macam yang kita selenggarakan mala mini, jenuh di undang kesana-kemari untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni pertanyaan-pertanyaan yang khas kaum muslimin abad-20 dari ’apa hukum merangkul rambut’ sampai ’memandang wanita itu zina apa tidak’, atau jenuh dengan pemikiran-pemikiran puber akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan. Apakah buang-jenuh di kuburan syirik?”
             ”Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda ”saya berbicara tentang orang yang minta-minta di kuburan.”
             ”Baiklah,” lanjut pak ustadz. ”Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa, tidak di kuburan atau kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya saya juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”
             ”Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.
             ”Bikinlah proposal untuk meminta biaya siapa saja yangsebenarnya suka mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% peanggan kuburan adalah orang-orang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancer. Di samping itu syukurlah posisi social Anda. Anda termasuk dia antara sedikit anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Karena Anda bersekolah sampai perguruan tinggi sehingga anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Harapan anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil. Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah, para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupn menjumpai persoalan-persoalan umum yang menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang memperbincangkan kepentingan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik….”
             Seperti ari bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.
             ”kalaupun anda ogah terlibat bekerja dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau tempat-tempat lain yang anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemampuan itu, anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis ketergantungan terhadap dana luar negri di mana anda bisa numpang makan, minum, mrokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas proposal agar secara pasti anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan langkah ketiga, menyusun kecanggihal lembaga anda sedemikian rupa sehingga anda sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat anda. Kemiskinan adalah export non-migas yang subur bagi kelompok priyai pembebas rakyat di mana anda bisa bergabung…”
             Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.
             ”dengan demikian anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat. Hal-hal semacam itu tidak bisa di lakukan oleh orang-orang miskin yang hendak anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa pada orang kecil yangmelarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”
             Suasana pengajian menjadi semakin senyap.
             ”Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi.
             ”Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau apakah yang dituhankan orang di negeri anda ini? Apa yang di dambakan orang melebihi Tuhan? Apa yang di kejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang di takuti orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orang tunduk, patuh dan loyal sepenuh hidupnya kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran social Anda, pikiran politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan structural Anda…”
             Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.
             ”Berankah anda berangkat membrantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh kekusaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah anda berperang melawan diri Anda sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah” Sanggupkah Anda mengalahkan obesis kehidupan Anda sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang sedikit punya harga diri?”
             Napas mulai agak tersengal-sengal.
             ”Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bukankah Anda tampak bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang terancam oleh badai api sehingga menyingkir kekuburan sepi. Itu karena mata pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh para ulama-ulama yang memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencici mata umatnya, kecuali persoalan yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu di terapkankan pada hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah solat lohor apa belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pake jilbab atau belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk persoalan-persoalan yang lebih luas. Anda tidak pernah mempersoalkan bagaimana sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang tiap hari Anda pakai sembayang. Anda marah pada Cristine hakim tidak pakai jiblab padahal ia muslimah, tetapi anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan social yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya wajib dalam perhitungan makro structural. Anda hanya sibuk mengurusi sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon sifatnya…  ”
             ”Pak! Mengapa jadi sejauh itu….?” Sahut sang pemuda.
             ”Dengar dulu, anak muda!” tegang wajah sang bapak. ”Itu yang menyebabkan Anda tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat sesorang mencuri. Anda hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya….”
             ”Apa-apaan ini, Pak?” sang pemuda menyelonong lagi.
             ”Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan. Dalam rasa ketidakmungkinan menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian cermin yang mampu menyodorkan halusinasi kemenangan kita. Kalau kita tak punya biaya untu knaik haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan mereka telah naik haji. Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk kita taklukan. Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah, kita berduyun-duyun ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut, diskotik si Boy,atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur. Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tan sanggup bersandar pada udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam tempurung. Naluri kekuasan kita tumpahkan dalam tempurung. Kita menjadi ”negara” dalam pesta syairiat dangkal umat di sekeliling kita. Kita mengawasi muda-mudi yang berboncengan motor, kita menepon pasien-pasien kita di pagi buta untuk mengecek apakah dia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi puritan, menjadi ”manusia amat lokal”. Kita mendirikan kekuasan baru di mana kita adalah penguasanya… ”
             Sang pemuda tak bisa tahan lagi, ”Maf, Pak! Berilah saya sedikit peluang…”
            Tapi air bah terus tumpah ke bumi.
Oleh : Emha Ainun Nadjib

Wednesday, December 4, 2013

SANGGUPKAH TUHAN MENERIMA MUSIBAH?

0 comments

Selamat siang sahabat semua mungkin postingan ini agaknya kontroversi tapi saya harapkan baca saja dengan kepala dingin dan hati sejuk. Nikmati saja alur tulisannya. Pada kesempatan kali ini saya sengaja memposting hasil kultwit akun yang lumayan agak nyeleneh sekilas kalau kita membacanya. Yups akun ini bernama @IBLIS_wa iya alisan IBLIS Wallahu A’lam. Kurang lebihnya seperti ini mari kita petik ilmu nya bersama dan semoga bermanfaat.
Setelah gempa di Jogja yang membikin hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh pulang. Aku segera teringat Mbah Maridjan, bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa. Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan, kucari tadi di rumahnya beliau tidak ada. Setengah berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah, sambil sesekali menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering).
Setelah dekat,kulihat Mbah Maridjan yg sedang mnyalakan rokok lintingannya.Baunya mnyengat,tetapi segar apalagi ditambah suasana sore yg semilir. Mbah,bagaimana ini Mbah,musibah datang silih brganti,sprtinya sudah waktunya kita mlakukan tobat nasional. Mbah Maridjan malah tenang2 saja”. Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana rahmat juga bisa jadi musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le.” Gimana sih Mbah, musibah ini peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita, sekaligus juga ujian apakah kita tabah menghadapi musibah.
Mbah Maridjanpun menjawab santai “ Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le”. Aku seperti ditampar langsung di otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini. Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?” sahutku keras kemudian Mbah Maridjan menjelaskan ulang kata-katanya dengan lengkap “Tuhan itu Le, baru diduakan saja sudah marah2, baru perintahnya tidak dilaksanakan saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah, ciptaannya bisa lebih gak tabah lagi”.
Sebentar2, aku masih tidak mengerti apa maksud Mbah Maridjan.” “ Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam dan Hawa? yang dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu? itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis dan Adam, Iblis disuruh menghormati Adam, suruh sujud di depan Adam, lha wong Iblis itu pinter, ya dia nggak mau, dia hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat. Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan. Tuhannya saja kurang dewasa, jangan pula salahkan umatnya kalau kekanak2an.
Aku hanya bengong, mendengarkan tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di jari2 tangannya. Sungguh-sungguh "gila" Mbah Maridjan ini, berani-beraninya menggoyang tahta diktatur Tuhan. “ Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita harus lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.” Sahut lagi keras.
“ Hahahahahaha…………………..” Mbah Maridjan tertawa terkekeh-kekeh, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan pandangan lucu kepadaku. Kamu ini Le, produk jaman modern kok berpikirnya idiot kaya gitu. Kalau banyak orang berdosa,dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia. Minta ampun lah kepada alam, dengan merawat mereka dengan baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya. Minta ampunlah kepada manusia2,berhenti korupsi,bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim piatu,jalankan negara dngan jujur dan bersih. Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia.
“ Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari derita ini.” Protesku keras kepada mbah Maridjan. “ Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri, kamu boleh minta tolong sampai air matamu habis, tapi kalau kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma. Lihat itu orang Jepang, kena gempa mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan gempa. Lihat orang Belanda,kena banjir banding mereka itu,tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa,sekarang selamatlah mereka dari petaka banjir. Bencana itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali. Lihat orang2 Eropa,dikaruniai penyakit pes,sampai separuh penduduknya mati,tapi mereka memperbaiki diri,dan hidup sehatlah mereka sekarang.
Dongkol hatiku bukan main sama Mbah Maridjan, dari dulu dia selalu bisa membolak-balik perspektif. Dan dia sudah berani mempermainkan syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku. “Mbah, kita ini manusia yang egois. Tuhan telah menciptakan alam dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai kalifahnya di dunia ini. Kitalah yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.”
Mbah Maridjan kembali meringis, seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di depannya. “ Oalah Le,kalau mau jujur sih.Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh manusia yangg egosentris,akhirnya manusia tambah kelihatan egois. Seharusnya kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan antroposentrismu, kuno sekali cara berpikirmu Le.Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa alam.”
“Ya biarin Mbah,pandangan antroposentris kan lebih baik daripada percaya hal2 mistis kaya sampeyan, ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai Plered, Kebo Kiai Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.” Sahutku sembari meledek mbah karena sudah gregetan.
“Para kawulo cilik seperti kita ini kan sering ditipu sama para penggede2 istana. Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro Kidul itu kan cuman mitos Le, Raja-raja Mataram jaman dulu malu karena di Segoro Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis, jadi mereka menghibur diri dengan mnciptakan mitos Nyi Roro Kidul,seolah-olah mreka masih mnguasai Segoro Kidul,memperistri penguasa Segoro Kidul. Cilokone, kita semua percaya adanya Nyi Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho mbodhoni wong mesisan.”
Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja Mbah tua satu ini. “Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus bergerak Mbah.”. “ Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi. Sudah sana, belajar yang bener, santri kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune nggedabus, pangertene mbladhus. Kamu yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan orang dari sikap fatalis menghadapi musibah. Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari, kitab putih pun harus kau pelajari, dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari.
Sambil menggerakkan tangannya menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit 50 ribu. “ Ini hanyalah lembaran 50 ribuan Le, kuserahkan padamu. Duit ini akan benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan. Dilemparkannya duit itu kepadaku, aku mengambilnya sambil bingung memikirkan apa maksud kata-kata Mbah Maridjan yang terakhir tadi. 
Semoga bermanfaat buat kita semua salam sejahtera dari edi sumiarjo sebarkan kalau merasa bermanfaat.:-)