Senja sore yang indah, sepasang
merpati terbang bebas di langit sore yang cerah. Semilir angin berhembus pelan
menggerkan dedaunan dan pepohonan kecil. Sekelompok anak kecil bermain bola di
lapangan dengan cerianya. Ibu-ibu sedang asyik bergosip sembari menyuapi
anaknya di pinggir lapangan.
Dewa Cuma duduk termanggu dan
diam sendirian sembari menikmati lagu viera berjudul Seandainya. Sore yang syahdu
namun tidak dengan hati dewa yang hancur berantakan bak di sayat sembilu. Perpaduan
lagu dan suasanya begitu magic. Andai saja tidak di tempat yang ramai sudah
pasti dia akan teriak sekencang-kencangnya entah itu memaki atau apapun asal
buat lega.
Entah sepulangnya dari bepergian
dia terlihat manyun dan terus berdiam di pojokan lapangan deket rumahnya. Cowo yang
sangat gesit dan trengginas itu tetiba mendadak mellow tidak jelas. Muka cerianya
berubah seperti kuburan keramat yang angker dan seram itu. Berulang kali dia
mentap handphone nya yang jadul itu. Entah apa yang sedang dia tunggu atau
harapkan setiap kali handphone nya berbunyi. Selesai melihat handphone manyun
lagi dan berulang terus sampai malam tiba.
“Kenpa kau diam seperti itu anak
muda yang namanya agung dewa?”
“kakek liat lah pesan ini.” Sembari
memberikan handpehone jadulnya.
Ini keputusanmu, bukan keputusanku, ini inginmu dan sama sekali bukan
inginku, aku bakalan inget2 terus apapun yg kamu ucapkan sayang
Aku sayang sama kamu. Bahkan sangat sayang. Aku lakukan apapun hal gila
jg demi kamu dan cuma ke kamu sayang.
Aku akan berusaha, sangat berusaha, walaupun aku tahu hasilnya nanti
seperti apa?
Aku tahu cinta sayangmu tak sebesar cintaku ke kamu, akupun smpe detik
ini masih ga tahu kamu beneran sayang atau ga tapi yang kamu harus tahu aku
cinta dan sayang banget pingin selamanya sama kamu.
Ini cuma salah satu cara yang detik ini bisa kulakukan, nanti akan
kulakukan hal gila apapun untuk bisa lupain kamu. walaupun ga tahu akan bisa
berhasil atau enggak, 1 hari 2 hari atau mgkn cm beberapa jam aku tetap
berusaha. Nanti pasti aku bakalan kangen, pasti pingin ini itu dll.. tp aku udh
ga tahu lagi caranya supaya ga sayaang ke kamu tuh gimana?
Aku nulis smbil bingung sedih keinget omonganmu. yang aku takutin kalau
aku ga berhasil itu aja sih.. Dan besok-brsok aku harus denger kata-kata itu
berulang-ulang dari kamu aku ga mau, itu nyakitin seolah-olah seperti mencintai
orang yang sama sekali ga sayang ke aku. Itu yg kadang aku rasakan. Tp kamu GA
PERLU minta maaf.. krn seharusnya aku yang sadar, aku yang salah, aku yang slalu
minta ini itu, aku yang selalu kangen, semuanya aku.
Kmupun td jg bilang akan sama2 bantu aku. Semoga kita sama2 berhasil.
Makasih ya sayang buat smuanya.. aku inginnya berakhir indah bukan
seperti ini. tapi sepertinya kamupun ga tahan penat dengan aku, dengan keadaan
dan smua. Maafin aku selama ini minta waktu ini itu dari kamu.
Aku sayang kamu"
“Gimana kek? Aku kudu kepiye?” Tanya
dewa
“Laaah kenapa gak kamu hubungi
dia?” Tanya sang kakek
“gimana mau hubungi wong dia
ngeblok semua nomer saya kek”
“duuuh kamu dalam masalah besar
dewa, makanya adil lah kamu jadi manusia itu. Berbuat baik jangan suka
menyakiti hati seseorang. Kalau udah kaya gini sudah selesai kamu. Sudah tidak
bisa apa-apa kamu. Udah kamu berdoa saja semoga dia mau memaafkan kamu itu aja
sudah bagus. Tidak usah mengharapkan apapun selain kebikan hatinya memaafkan
kamu. “
“baik kek. Terima kasih banyak
kek.”
Sejak itu dewa mulai perlahan
menyadari kesalahan fatalnya kepada sang kekasih. Namun dia sudah gagal sebagai
manusia baik karena melukai seseorang. Namun sejatinya tidak ada jatuh cinta
yang tak sakit. Setiap kisah cinta selalu ada bumbu sakitnya. Namun dewa tak
dapat berbuat banyak karena semuanya sudah di ahiri sang kekasih lewat pesanya.
Dan parahnya pesanya tak akan pernah bisa dewa balas karena semua media telah
di blok oleh sang pujaan hati. Benar kata sang kakek berdoa dan memohon agar di
bukakan hati sang kekasih untuk memaafkan saja sudah sangat bersyukur. Karena dengan
di maafkan kita sedikit lebih tenang menjalani hari-hari. Meskipun paku yang
telah tertanjap meski sudah di cabut akan tetap meninggalkan bekas. Begitu juga
dengan kita, kalau sudah melukai meski di maafkan namun tak bisa di lupakan. Aaaah
saya ini juga sering banget berbuat kesalahan dan menyakiti orang lain. Semoga kalian
semua yang baca tulisaku tidak yah.
Setiap perjalanan panjang memang
harus kita mulai dari langkah kecil. Setiap hal besar harus kita mulai dengan
hal-hal yang kecil. Tanpa hal-hal kecil kecil itu hal besar tak akan terjadi
kecuali pada sebab-sebab tertentu. Dan tentunya hal kecil itu di lakukan secara
konsisten.
Di belakang rumah saya ada
beberapa sawah yang setiap hari saya pandangi di kala pagi hari. Setiap pagi
itu pula seorang bapak-bapak dengan setia menengok sawahnya yang di tanami
padi. Dari mulai mencangkul sampai proses tanam beliau selalu datang ke sawah
dengan segala harap kelak 2-3 bulan beliau akan punya beberapa karung beras
dari hasil tanamnya itu.
Beberapa hari yang lalu hujan dan
badai melanda Jogjakarta tak terkecuali di daerah saya tinggal. Hujan dari sore
hingga malam hari itu cukup deras. Dan saya menyaksikan sendiri betapa padi
yang sudah mulai menguning itu luluh lantah terkena angina, roboh. Hanya kurang
beberapa hari panen angina benar-benar membuat semua rencana bisa berubah. Dan saya
yang Cuma bisa menyaksikan saja bisa sedih, saya tidak tahu perasaan bapak yang hamper setiap hari datang ke sawah ini.
Hari ini beliau memanen padinya, saya melihat raut
wajahnya agak sedikit ceria. Saya tak melihat kesedihan terlintas di wajahnya. Agaknya
memang betul bahwa manusia yang paling sabar, ikhlas dan hidupnya penuh
kepasrahan adalah petani. Lah wong saya
yang melihat saja sedih, beliau yang mengalami malah tak terlalu memikirkannya.
Hehehhe
Dua petak sawah itu kini sudah
menghasil kan beberapa karung gabah. Tak peduli seberapa banyak hasil yang
sudah di dapat. Yang jelas langkah kecilnya yang setiap hari beliau lakukan
menghasilkan seberapapun besarnya hasil itu. Toh meratapi semua yang sudah
terjadi tak akan mengembalikan apapun. Dan mungkin cara terbaiknya ya ikhlas.
Beda ya sama kita terutama saya
sendiri. Apa-apa selalu di pikirkan terlalu dalam. Banyak ngeluh kesana kemari
gak jelas. Kalau ada hal buruk menimpa atas pilihan saat ini selalu
bandingkanya dengan masa lalu. Eh btwe kalian juga kan? Hahahha istilahnya
susah move on. Ada yang sampai bertahun-tahun sudah melewati kehidupannya masih
aja yang di banding-bandingkan masa lalunya. Nyesel terus hidupnya. Padahal mungkin
tak berat-berat amat kalau kita bandingkanya dengan kemalangan orang lain atas
hidup yang di jalaninya. Cara pandang kita atau penyikapan kita terhadap suatu
masalah memang berbeda-beda, tapi kita ini manusia modern banyak manjanya. Ya kan??
Ngaku deh heheh..
Tiada bulan yang paling membahagiakan selain bulan Ramadhan,
itu sih yang saya tau waktu masih kecil. Iya masih kecil,karena di usia usia
kanak-kanak hingga anak anak lah kita bisa merasakan dan menyambut ramdhan
dengan suka cita. Selebihnya hanya orang orang dengan maqom tertentu saja yang
bisa dengan sangat bahagia menyambut Ramadhan. Dan orang seperti saya ini Cuma orang
yang asal puasa,asal sholat di tambah bingungan.
Akhir-akhir ini saya sering melihat fenomena setiap kali Ramadhan
datang semua kebutuhan perut manusia mengalami kenaikan. Konsumsi kita naik hampir
100 % prosentase yang sangat tinggi mengingat kita hanya makan mungkin maksimal
2 kali itupun malam hari. Lalu kenapa ini bisa terjadi? Aku yo jane memeng
mikir koyo ngene hahaha tapi baiklah saya mencoba sedikit berbagi analisis gila
saya kenapa Ramadhan di negeriku yang sangat saya cintai ini agak sedikit lucu.
Bagi saya entah bagi sampean semua.
Bulan ramadha adalah bulan dimana seharusnya kita menahan
diri untuk berkata iya pada hal yang biasa kita lakuakan sebagai aktivitas
sehari hari yang notabene kurang baik. Bulan ini momentum untuk berani dengan
tegas mengatakan tidak untuk melakukan hal yang kurang baik.
Kenapa tidak sederhana saja di bulan Ramadhan ini? Kenapa kita
harus dengan sangat sibuk menyiapkan segala hal hanya untuk yang namanya
berbuka puasa? Semua makanan rasanya pengen kita beli semua? Sebenarnya puasa
kita kita itu untuk belajar menahan atau buka itu hanyalah balas dendam dari
keseharian kita yang tak makan apa-apa? Katanya makan makanlah hanya untuk
menegakan tulang rusuk kita? Puasa kita ini puasa balas dendam atau puasa yang
belajar menempa diri kita menjadi manusia yang sederhana dan berlebihan.
Menjelang buka kita di suguhi aneka jajanan di pinggir
jalan, dan hampir semua kota melakukan hal semacam ini. Kita justru sibuk
mencari makanan ketimbang berdoa menjelang senja. Jalanan macet total semua
manusia berlomba mengumpulkan makanan sebanyak-banyak nya, setelah itu apa itu
makanan di makan semua? Ini yang menyebabkan konsumsi dan pengeluaran kita naik
salah satunya.
Harga daging sapi katanya naik yah? Udah biasa kali g usah
kaget, menjelang Ramadhan harga daging kok bisa naik ? tau kan kenapa harga
suatu barang bisa naik? Konsumi banyak sedangkan stok sedikit? Ramadhan mbalik
lagi ke masalah perut dan perut hahaha.
Kok jadi banyak iklan obat si di bulan Ramadhan.? Katanya puasa
itu mencegah kita dari berbagai rasa sakit. Itu banyak ustadz malah jadi
bintang iklan suplemen agar puasanya kuat .hahaha memang terkadang demi uang,
prisnsip sering kalah kok. Tidak apalah saya juga sering seperti itu tidak Cuma
pak ustadz hahahha…
Kalau masalah masjid rame saya tidak berani membahas,
soalnya saya sering sholat sendirian hahaha selamat malam semoga puasa kamu dan
aku berkah. Masalah puasa di terima atau apapun biar Tuhan saja lah yang
menilai. Stop menghami dan saya juga Cuma sharing, teman teman kalau mau makan
sampai buncit yo tak masalah, tapi jangan lupa berbagi biar kenyangmu menyebar.
Monggo yang mau teraweh,.
Ada yang ditangisi dari kepergian
senja yang terenggut mentari. Keindahan jingga dan kemuning langit di barat
bumi. Seorang gadis termangu duduk diantara pepohonan cemara dan pinus.
Mengingat doa-doa yang ia panjatkan setiap saat kepada Tuhannya. Kedatangan
kekasihnya dari negeri doa yang tiap siang dan malam dia panjatkan. Seorang
laki-laki yang selalu dia doakan datang dan menemuinya. Laki-laki yang tak
pernah dilihatnya di dunia nyata. laki-laki yang hanya ada di dalam mimpi dan
doa-doanya. Alasan apa yang membuat gadis ini tiba-tiba jatuh cinta dan merasa
memiliki laki-laki yang hanya ada dalam dunia khayal dia mungkin hanya dia dan
seorang laki-laki itu saja yang tahu.
Sebut saja dia bernama senja,
gadis cantik dari negeri andalas. Berfrofesi sebagai pekerja rumah sakit
swasta. Kebehagian selalu menyelimutihari-harinya. Sesekali dia terdiam bukan
karena sedih namun sekedar bertafakur. Mengingat betapa kehebatan Tuhan
mengirimkan cinta kepada nya. Yah cinta kepada orang yang tak pernah sekalipun
dia temuinya. Jatuh cinta memang tak pernah direncanakan bagaimana itu bisa
terjadi atau itu bisa ada. Semua sudah diatur dengan sangat elegan oleh Tuhan.
Hari itu tepat tanggal 10 Bulan
November 1930. Tepat dia berusia 26 tahun. senja mulai realisitis tentang
cintanya. Kebahagiaanya tak boleh bergantung kepada siapapun. Apalagi kepada
laki-laki yang tak pernah dia temuinya di dunia nyata. hari itu dia memutuskan
untuk mulai menjalani hidupnya dengan tanpa berharap pada sosok laki-laki itu.
Tetiba seminggu setelah itu ada
secarcik kertas yang tergeletak di kursi di bis yang dia pergunakan sebagai
angkutan tiap kali dia berangkat dan pulang kerja. kertas itu bertuiskan
seperti ini :
Senja barang kali kita tak pernah
bertemu di dunia nyata, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku.
Aku tak lagi berharap kepadamu
senja, aku memilih kebahagiaanku. dan semoga Kau pun bisa memilih kebahagianmu.
Aku pergi dan akan terus pergi
dari kehidupanmu. Sebarapa pahitnya itu, aku akan pergi karena aku tak mau
terus menggoreskan luka dan menyiraminya terus dengan air matamu yang lebih
asin dari air laut.
Aku berdoa semoga impianmu,
cita-citamu kesampaian. Lupakan lah tentang es cream itu. Lupakan lah kalau
kita pernah bermimpi jalan dan menikmati sore hari dengan anak-anak sembari
tertawa menikmati es cream kita yang sudah meleleh.
Aku minta maaf untuk semua janji
yang tak ku penuhi. Aku minta maaf karena telah mencintaimu. Aku minta maaf
telah hadir dalam kehidupanmu. Bahkan hadir dalam doa-doamu yang suci itu.
Tapi senjaa, kau pernah bilang
bahwa hidup harus terus berjalan. seperti layaknya bumi. Jika berhenti semua
akan jadi kacau. Alam akan hancur jika sedetik saja bumi berhenti. Hidup pun
begitu kan? sedetik saja kita mencoba berhenti kita kan kehilangan segala hal.
Ada banyak harapan yang harus kau raih di sana. Ada banyak hal yang harus kau
penuhi. Lupakan lah aku di dalam doamu. Lupakan lah aku dalam setiap tetes air
matamu.
Senja mungkin Tuhan tak akan
mempersatukan kita di dunia nyata. Aku dan kamu akan menjadi bagian dari
khalayan. Aku pernah bahagia dan tertawa bersama kamu. Aku pernah merasa yakin
bahwa kelak kamu dan aku akan hidup di sebuah desa yang damai. Kita pernah
berdebat untuk tak memelihara kambing. Senja semoga kelak kita akan berjumpa
dalam Renacana Tuhan di kehidupan yang tak aku tahu kelak.
senja aku yakin kau akan
menemukan tulisan ini karena aku yakin kau menegrti betapa menyakitkannya
merindui. Tapi akan jauh menyakitkan ketika kita saling berharap pada hal yang
tak pasti. Aku pergi senja kau harus pergi karena gelap akan merenggutmu jika
tak kau pergi dari sini. Kau akan selalu indah sampai kapanpun, sampai aku mati
aku akan mengongatmu sebagai senja yang hiasi soreku.
TANYA jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak
dinyana anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak
meningkatkan nada suaranya.
”Saya sangat kecewa mengapa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap
sedemikian lunak kepada orang-orang yang dating ke kuburan untuk meminta
angka-angka buntutan! ” ia menuding-nuding , ”Itu jelas syirik, saya sebagai
warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya yang sejak kelahirannya
bermaksud memberantas segala tahayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus
memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah
penghabisan!”
Bapak ustadz terkesima.
Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun
”semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajaknya Chairul Anwar
”Aku” atau ”Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltage suaranya meningkat?
Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat
perjuangan dari generasi satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk
soal macam apa semangat itu mesti di terapkan, adalah soal kedua.
”Adik manis, maafkan saya kalau memang khilaf,” bapak ustadz berkata dengan
lembut, ”Tapi saya berharap aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga
tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk tidak terlalu dingin
terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuuwun sewu, saya melihat ada sesuatu
yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke
dalam es dawet…”
Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.
”Syirik ya syirik, tapi orang masuk kuburankan macam-macam maunya. Ada yang mau
cari tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekedar
menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta
barang-barang seperti yang diminta tetangganya. Terus terang saya juga sering
masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat
jenuh oleh acara macam yang kita selenggarakan mala mini, jenuh di undang
kesana-kemari untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni
pertanyaan-pertanyaan yang khas kaum muslimin abad-20 dari ’apa hukum merangkul
rambut’ sampai ’memandang wanita itu zina apa tidak’, atau jenuh dengan
pemikiran-pemikiran puber akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan
itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk
merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan.
Apakah buang-jenuh di kuburan syirik?”
”Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda ”saya berbicara tentang orang yang
minta-minta di kuburan.”
”Baiklah,” lanjut pak ustadz. ”Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa,
tidak di kuburan atau kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang,
jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu
anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya saya
juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”
”Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.
”Bikinlah proposal untuk meminta biaya siapa saja yangsebenarnya suka
mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita
memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung
Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali
harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% peanggan kuburan
adalah orang-orang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya
perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancer.
Di samping itu syukurlah posisi social Anda. Anda termasuk dia antara sedikit
anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah
sampai perguruan tinggi. Karena Anda bersekolah sampai perguruan tinggi
sehingga anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih
rasional. Harapan anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil.
Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah,
para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupn menjumpai persoalan-persoalan
umum yang menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan
berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang
memperbincangkan kepentingan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik….”
Seperti ari bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.
”kalaupun anda ogah terlibat bekerja dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau
tempat-tempat lain yang anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemampuan
itu, anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya
masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis
ketergantungan terhadap dana luar negri di mana anda bisa numpang makan, minum,
mrokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas
proposal agar secara pasti anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan
langkah ketiga, menyusun kecanggihal lembaga anda sedemikian rupa sehingga anda
sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan
memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme
perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat anda.
Kemiskinan adalah export non-migas yang subur bagi kelompok priyai pembebas
rakyat di mana anda bisa bergabung…”
Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.
”dengan demikian anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat.
Hal-hal semacam itu tidak bisa di lakukan oleh orang-orang miskin yang hendak
anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada
Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan
hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa
pada orang kecil yangmelarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”
Suasana pengajian menjadi semakin senyap.
”Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi.
”Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau
apakah yang dituhankan orang di negeri anda ini? Apa yang di dambakan orang
melebihi Tuhan? Apa yang di kejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang di takuti
orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang
seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orangtunduk, patuh dan loyal sepenuh
hidupnya kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi
perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan
dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran social Anda, pikiran
politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan structural Anda…”
Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.
”Berankah anda berangkat membrantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh
kekusaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah anda berperang melawan diri Anda
sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah”
Sanggupkah Anda mengalahkan obesis kehidupan Anda sendiri untuk merintis
peperangan-peperangan yang sedikit punya harga diri?”
Napas mulai agak tersengal-sengal.
”Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bukankah Anda tampak
bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah
terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang
terancam oleh badai api sehingga menyingkir kekuburan sepi. Itu karena mata
pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh para ulama-ulama yang
memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencici
mata umatnya, kecuali persoalan yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda
sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu di terapkankan
pada hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah solat lohor
apa belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pake jilbab atau
belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film
citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk
persoalan-persoalan yang lebih luas. Anda tidak pernah mempersoalkan bagaimana
sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang tiap hari Anda pakai
sembayang. Anda marah pada Cristine hakim tidak pakai jiblab padahal ia
muslimah, tetapi anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan
lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan
social yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya
wajib dalam perhitungan makro structural. Anda hanya sibuk mengurusi
sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon
sifatnya… ”
”Pak! Mengapa jadi sejauh itu….?” Sahut sang pemuda.
”Dengar dulu, anak muda!” tegang wajah sang bapak. ”Itu yang menyebabkan Anda
tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat
kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat sesorang mencuri. Anda
hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas
konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya….”
”Apa-apaan ini, Pak?” sang pemuda menyelonong lagi.
”Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan. Dalam rasa ketidakmungkinan
menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai
wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian cermin yang mampu
menyodorkan halusinasi kemenangan kita. Kalau kita tak punya biaya untu knaik
haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan mereka telah naik haji.
Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk kita taklukan.
Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah, kita
berduyun-duyun ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut, diskotik si
Boy,atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur.
Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tan sanggup bersandar pada
udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf
dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam
tempurung. Naluri kekuasan kita tumpahkan dalam tempurung. Kita menjadi
”negara” dalam pesta syairiat dangkal umat di sekeliling kita. Kita mengawasi
muda-mudi yang berboncengan motor, kita menepon pasien-pasien kita di pagi buta
untuk mengecek apakah dia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik
apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi
puritan, menjadi ”manusia amat lokal”. Kita mendirikan kekuasan baru di mana
kita adalah penguasanya… ”
Sang pemuda tak bisa tahan lagi, ”Maf, Pak! Berilah saya sedikit peluang…”
Selamat siang sahabat semua mungkin postingan ini agaknya
kontroversi tapi saya harapkan baca saja dengan kepala dingin dan hati sejuk.
Nikmati saja alur tulisannya. Pada kesempatan kali ini saya sengaja memposting
hasil kultwit akun yang lumayan agak nyeleneh sekilas kalau kita membacanya. Yups
akun ini bernama @IBLIS_wa iya alisan IBLIS Wallahu A’lam. Kurang lebihnya
seperti ini mari kita petik ilmu nya bersama dan semoga bermanfaat.
Setelah gempa di Jogja yang membikin
hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh
pulang.Aku segera teringat Mbah Maridjan,
bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa.Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan,
kucari tadi di rumahnya beliau tidak ada.Setengah
berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah, sambil sesekali
menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau
sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil
beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering).
Setelah dekat,kulihat Mbah Maridjan yg
sedang mnyalakan rokok
lintingannya.Baunya mnyengat,tetapi segar apalagi ditambah suasana sore yg
semilir. “Mbah,bagaimana
ini Mbah,musibah datang silih brganti,sprtinya sudah waktunya kita mlakukan
tobat nasional.”
Mbah Maridjan malah tenang2 saja”. Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana
rahmat juga bisa jadi musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le.”“Gimana sih Mbah, musibah ini
peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita, sekaligus juga ujian apakah kita
tabah menghadapi musibah.”
Mbah
Maridjanpun menjawab santai “
Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le”. Aku seperti ditampar langsung di
otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini.“Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?” sahutku keras
kemudian Mbah Maridjan menjelaskan ulang kata-katanya dengan lengkap “Tuhan itu Le, baru diduakan saja
sudah marah2,baru perintahnya tidak dilaksanakan
saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah, ciptaannya bisa
lebih gak tabah lagi”.
Sebentar2, aku masih tidak mengerti
apa maksud Mbah Maridjan.” “ Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam
dan Hawa? yang
dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu? itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan
marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis
dan Adam,Iblis disuruh menghormati Adam,suruh sujud di depan Adam, lha wong
Iblis itu pinter, ya dia nggak mau,dia hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan
marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat.Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena
homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan.Tuhannya saja kurang dewasa, jangan pula salahkan umatnya
kalau kekanak2an.”
Aku hanya bengong, mendengarkan
tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di
jari2 tangannya.Sungguh-sungguh "gila" Mbah Maridjan ini,
berani-beraninya
menggoyang tahta diktatur Tuhan.“ Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita
harus lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.”Sahut
lagi keras.
“ Hahahahahaha…………………..” Mbah
Maridjan tertawa terkekeh-kekeh, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan pandangan lucu
kepadaku.“Kamu
ini Le,produk jaman modern kok berpikirnya
idiot kaya gitu.Kalau
banyak orang berdosa,dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia.Minta ampun lah kepada alam, dengan
merawat mereka dengan baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya.Minta ampunlah kepada
manusia2,berhenti korupsi,bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim
piatu,jalankan negara dngan jujur dan bersih.Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama
Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia.”
“ Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu
pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari derita ini.” Protesku keras
kepada mbah Maridjan. “
Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri,kamu boleh minta tolong sampai air
matamu habis, tapi kalau kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma.Lihat itu orang Jepang, kena gempa
mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan gempa.Lihat orang Belanda,kena banjir
banding mereka itu,tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa,sekarang selamatlah
mereka dari petaka banjir.Bencana
itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali.Lihat orang2 Eropa,dikaruniai penyakit pes,sampai separuh
penduduknya mati,tapi mereka memperbaiki diri,dan hidup sehatlah mereka
sekarang.”
Dongkol hatiku bukan main sama Mbah
Maridjan, dari dulu dia selalu bisa membolak-balik perspektif.Dan dia sudah berani mempermainkan
syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku.“Mbah, kita ini manusia yang egois.
Tuhan telah menciptakan alam dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai
kalifahnya di dunia ini.Kitalah
yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.”
Mbah Maridjan kembali meringis,
seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di
depannya.“ Oalah Le,kalau mau jujur
sih.Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh manusia yangg egosentris,akhirnya manusia tambah
kelihatan egois.Seharusnya
kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan antroposentrismu,
kuno sekali cara berpikirmu Le.Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa
alam.”
“Ya biarin Mbah,pandangan
antroposentris kan lebih baik daripada percaya hal2 mistis kaya sampeyan,ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai
Plered, Kebo Kiai Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.”Sahutku
sembari meledek mbah karena sudah gregetan.
“Para kawulo cilik seperti kita ini
kan sering ditipu sama para penggede2 istana.Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro
Kidul itu kan cuman mitos Le,Raja-raja Mataram jaman dulu malu karena di Segoro
Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis,jadi mereka menghibur diri dengan mnciptakan mitos Nyi Roro
Kidul,seolah-olah
mreka masih mnguasai Segoro Kidul,memperistri penguasa Segoro Kidul.Cilokone, kita semua percaya adanya
Nyi Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho
mbodhoni wong mesisan.”
Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku
klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja
Mbah tua satu ini. “Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus
bergerak Mbah.”. “
Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi.Sudah sana, belajar yang bener,
santri kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune
nggedabus, pangertene mbladhus.Kamu
yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan
orang dari sikap fatalis menghadapi musibah.Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan
tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari,kitab putih pun harus kau pelajari,
dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari.”
Sambil menggerakkan tangannya
menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit
50 ribu.“ Ini hanyalah lembaran 50 ribuan
Le,kuserahkan padamu. Duit ini akan
benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan.Dilemparkannya duit itu kepadaku,
aku mengambilnya sambil bingung memikirkan apa maksud kata-kata Mbah Maridjan yang terakhir tadi. Semoga bermanfaat buat kita semua salam sejahtera dari edi sumiarjo sebarkan kalau merasa bermanfaat.:-)