Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, February 28, 2014

ADAKAH DISANA APA YANG AKU CARI?

0 comments

ADAKAH DISANA APA YANG KU CARI?
Awan memang tak selamanya pekat hitam
Mentari juga memang tak selamanya gagah menjaga siang dengan percikan cahaya
Angin-angin tak mungkin terus bergerak diarah yang sama
Hujan pun enggan menguyur bumi sepanjang waktu bergerak
Entah dipahami entah di abaikan semua telah terdesain sebentar
Jalan yang sedang ku tapaki inipun akan berakhir
Suatu tempat dimana apa yang ku cari bersemayam
Tinggal ku tunggu bergulir waktu
Karena disana lah apa yang ku cari.

Wednesday, December 4, 2013

Nyanyian Daun Kering

0 comments


Pagi masih terlalu dingin untuk sekedar menghirup udara
Embun masih dalam bentuk butiran yang belum menetes
Gemercik air layaknya alunan yang terdengar nyaring
Ikan berenang tenang tanpa jeritan
Katak melompat-lompat bukan karena rasa
Angin semilir hembuskan pelan
Bergoyang-goyang dedaunan hasilkan nada-nada seirama
Kresak-kreask bunyi nyaring tak bersajak
Kemudian jatuh dari ranting menuju tanah tanpa suara
Tersapu dan terbakar daun yang telah kering
Nyanyainya tak akan lagi terdengar esok hari
Begitulah peristiwa pagi tanpa cahaya

Monday, December 2, 2013

Pelangi dan Secangkir Kopi

0 comments


Tak terasa mentari telah bersembunyi di awan yang menghitam

Anginpun membawakan aroma tak sedap di sore ini

Rintik hujan tidak terlihat tapi dapat di rasakan hadirnya kian dekat

Secangkir kopi yang tersaji adalah percampuran sempurna

Yang menjadikannya dunia yang sementara terasa kelal adanya

Entah karena iri pelangi tiba-tiba saja terbantuk di sisi barat

Tempat dimana aku hadapkan wajahku kepada Cinta

Tempat dimana pusat bumi berada di titik sana

Iya serong kanan aku melihat keindahan

Keindahan yang tersaji kala rintik ini mulai membasahi

Kala rintik ini berpadu dengan mentari dan menjadikanya pelangi

Memang tak ada percampuran yang seindah pelangi dan kopi

Thursday, June 6, 2013

KARENA

0 comments
Karena
Bukan karena emosi puisiku tercipta
Bukan karena duka lara setiap jengkal kata ku rangkai mendayu-dayu
Bukan karena senja saja langit sore nampak indah merona
Bukan karena bahagia aku tersenyum
Bukan karena derita aku bersedih hati
Aku menulis puisi memang sudah seharusnya aku tulis
Mendayu-dayu memohon memang hanya Kau yang sanggup mendengarkan
Senja adalah perantara aku dan Kau melihat sore
Aku tersenyumpun karena Kau selalu mendekap dan menghiburku
Dan aku bersedih hati karena telah jauh namun Kau masih setia menanti hadirku
Tak pernah Kau marah meski aku datang dengan lusuh dan kumuh
Memang hidupku bukan karena apa-apa
Tetapi Kau menjadi kan hidup penuh Karena
Selamat malam aku Rindu Kekasih

Friday, May 10, 2013

Adakah Rindu lagi

1 comments


Luka baru selalu saja tertumpuk di duka lama
Tak pernah kering kubangan air mata ini
Sayatan demi sayatan tergores di relung hati yang terdalam
Pejamkan mata sudah tak lagi menutup beban
Pejaman mata hanya mengingatkan betapa bodoh dan tololnya mengarungi samudra ini
Tak kuat dikuatkan, tak tegar di tegarkan sampai kapan?
Rindu sudah tak lagi menggebu
Cinta sudah tak lagi terasa manisnya
Derita dan airmata memang sudah begitu bersahabat
Kekeliruan demi kekeliruan menghiasi warna menjadikanya pelangi
Apakah alif akan tetap berdiri atau kelak akan runtuh termakan rasa
Akankah hancur tergerus oleh putusnya asa di tengah samudra ini?
Jika masih rindu lagi kembalikan kami di beranda itu
Jika rindu lagi dekaplah dan bawalah ke sana
Tempat dimana angin, air, api dan tanah sudah menyatu
Tempat dimana berakhirnya rindu
Tempat dimana ku melihat secangkir kopi di menja menikmati senja di sore hari

Wednesday, May 8, 2013

Jemput Aku

0 comments
Jemput aku

Bersama rindumu
Bersama deritamu
Bersama tangismu
Bersama bahagiamu
Jemputlah aku di kesunyian malam
Jemputlah aku di pojokan ini yang pekat tanpa cahaya
Aku terlampau takut tersesat dan hilang arah tanpa genggaman tanganmu

Sajak Pencundang

0 comments
Hujan di Terik Mentari
Kenyataan kadang membingungkan
Atau impian juga jauh lebih membingukan
Di terik panas mentaripun bagi pemimpi masih akan datang hujan
Namun kenyataanya panas terik menyengat itu tak akan menghasilkan butiran air hujan
Bau tanah ini hanyalah liarnya imajinasi
Harum tanah usai hujan ini hanyalah mimpi bolong
Aku bingung
Kata-kata ku inipun sudah tak lagi dengan rasa hati penuh cinta
Kata-kata ini kata-kata kebimbangan dan kebingungan
Kau tak perlu mengartikannya cukup tersenyum dan tertawa membaca
Seraya hujatlah aku sebagai pecundang
Hujatlah aku sebagai pemimpi tanpa aksi
Hujat lah aku agar akupun dapat mendekapmu dipanas ini 

Tuesday, May 7, 2013

Setetes Madu yang kau teguk kemaren sore

0 comments
Setetes Madu yang kau teguk kemaren sore
Manis itu masih terasa katamu sambil tersenyum
Di diding bibirmu yang belum sempat kau usap bekas madu sore itu
Madu alami yang kau panen dari hutan di dekat rumah mu itu
Kini kau tiba-tiba ceritakan kisah mu di depanku dengan tetesan air mata
Kau bilang hendak membuang kotak sederhana berisi madu itu
Kau bilang hendak melupakan manis madu yang memberimu energi
Kau bilang dan akan memilih pahitnya brantawali yang baru kau tanam seminggu itu
Kaupun dengan berkeyakinan akan lebih sehat mengkonsumsi brantalawali
Kau bilang semakin cepat malupakan madu semakin cepat pula kau akan bebas peryakit
Kau tau setetes madu sore itu bukankah madu terakhir yang lebah hasilkan
Duka mu tak berarti duka mu hanya mengkuliti luka baru diatas duka lama
Pergilah dan jangan pernah kembali bercerita tentang madu di hadapku



Tuesday, April 23, 2013

Iyaa

0 comments
Hujan di Terik Mentari
Kenyataan kadang membingungkan
Atau impian juga jauh lebih membingukan
Di terik panas mentaripun bagi pemimpi masih akan datang hujan
Namun kenyataanya panas terik menyengat itu tak akan menghasilkan butiran air hujan
Bau tanah ini hanyalah liarnya imajinasi
Harum tanah usai hujan ini hanyalah mimpi bolong
Aku bingung
Kata-kata ku inipun sudah tak lagi dengan rasa hati penuh cinta
Kata-kata ini kata-kata kebimbangan dan kebingungan
Kau tak perlu mengartikannya cukup tersenyum dan tertawa membaca
Seraya hujatlah aku sebagai pecundang
Hujatlah aku sebagai pemimpi tanpa aksi
Hujat lah aku agar akupun dapat mendekapmu 

Saturday, February 23, 2013

Sajak Tanpa Rasa

0 comments

Aku Mencintaimu dengan Caraku
Jika saja aku ini mentari ku akan selalu menyinari tiap langkahmu
Jika saja aku ini alunan nada-nada aku akan selalu menyemarakan sepi dan sunyimu
Jika saja aku ini air aku akan selalu ada saat engkau dahaga
Jika saja aku ini bintang aku akan memberikan warna saat redup malammu
Jika saja aku ini rembulan aku akan menerangi gelap malammu
Aahhh nyatanya aku bukan siapa-siapa di duniamu
Inilah aku yang mencintaimu dengan caraku


Tuesday, February 19, 2013

0 comments
Sajaku Langit Gelap
Bukan lagi tentang perasaan duka ataupun bahagia
Bukan lagi tentang buruk ataupun tentang baik
Ini tentang langit gelap siang itu
Gemuruh langit itu atau angin itu
Gelegar petir itu menyambar-nyambar entah kemana ujung dan tujuanya
Duka dan gembira itu kini melebur menjadi Syukur
Syukur itu mnjadi kan semuanya nampak begitu indah
Kau petir, Kau angin, dan Kau Hujan engkau adalah aku
Aku adalah bagian Dia
Dia adalah Dia yang berdiri sendiri tanpa dimensi Ruang dan waktu

Friday, February 15, 2013

0 comments
Andai Saja
Andai saja aku bisa mngulang waktu itu
Andai saja aku terlahir lagi
Andai saja aku bisa memilih untuk terlahir dimana
Andai saja aku bisa dengan instan merubah
Andai saja aku milioner yang kaya raya
Andai saja saya bajingan yang berbuat semena-mena
Andai saja aku Asu yang hina dimata manusia
Andai saja aku malakaikat yang bisa berbuat baik selamanya
Andai saja aku iblis yang berbuat jahat selamanya
Andai saja aku malam yang pekat
Andai saja aku siang yang terang benderang
Sial semuanya itu hanya andai-andai disiang bolong atas mimpi dan derita yang sengaja ku balut
Luka parah yang tak terlihat
Derita mendalam yang kian menjerat
Kegoblokan sifat dan sikap yang ku milki
Nyatanya aku bukan siapa-siapa untuk berandai-andai.


Aku dan Dia

0 comments

Dia sayang ma aku Dia Tuhanku
Yang hadir saat aku lemah dan kuat
Meski aku hanya datang untuk-Nya saat aku butuh saja
Saat aku lemah dan tak berdaya aku datang pada-Nya
dengan nada lirih aku berbisik memohon kepada-Nya
Yaa inilah aku aku seakan-akan suka bercanda dan bermain-main dengan Tuhan
Aku sebenarnya malu menjadi hamba yang banyak ku inginkan
Tapi aku juga kadang bingung karena hanya Tuhan yang mau menerima aku apa adanya
Sehingga semua rasaku, ku curahkan kepada-Nya
Ketika ku sedih Tuhan tersenyum dan menghiburku lewat saudara-saudaraku
yang tiap hari mengais sesuap nasi dengan susah payah tapi masih tersenyum ikhlas
saudaraku yang terkena bencana yang masih tersenyum dengan ujian dan cobaan yang berat dan belum seberapa dibanding aku.
Ketika aku marah Tuhan memelukku dengan erat lewat kesabaran orang-orang yang begitu pelik menghadapi kehidupanya
Ketika aku mencoba putus asa Tuhan menasehatiku lewat adik-adik panti yang hidup tegar
Katika aku mencoba berhenti di jalan ini Tuhan kembali menyadarkan ku lewat orang yang tanpa kakipun bisa berlari..
Malu rasanya,
Tuhan maafkanlah hamba yang masih senang bercanda dan bermain-main dengan –Mu dengan
segala aturan-Mu...

Saturday, February 9, 2013

Memang Salahku

0 comments

Aku tersakiti? Sepertinya tak pantas aku menyatakan itu
Aku dipuji? Rasanya tak pantas pula aku menerimanya
Lalu apa?
Ketika mereka memuji, akulah yang salah mengartikan kata lembut itu
Mereka tak pernah memuji aku saja yang tarlalu sok Hebat
Mereka menghina? Bukan.!
Aku yang terlalu berperasa dan terburu menolak nasehat yang berbeda
Mereka mengganggu? Tidak..!
Aku saja yang merasa sok sibuk dan tak mau membuka diri.
Mereka berperilaku tak sopan? Tidak..!
Mata ku saja yang terlalu sok suci menerima kenyataan berdampingan dengan sesame
Mereka bikin bising dan brisik? Tidak..!
Telinggaku saja yang terlalu sensitive menerima suara
Iya mereka yang nampak baik belum tentu baik, mereka yang burukpun begitu
Semua memang salahku, bukan dia atau mereka tapi memang aku.

Wednesday, January 30, 2013

Aku bukanlah siapa-siapa

0 comments
Aku bukanlah siapa-siapa

Aku bukanlah malaikat yang selalu menyapamu dengan kelembutan tanpa salah
Aku juga bukanlah iblis yang selalu kejam menyesatkanmu
Aku juga bukalah penjahat yang selalu menghuluskan pedang panjang
Kemudian menikamu secara perlahan
Aku bukanalah api atau mentari yang menerangi dan menghangatkanmu
Aku juga bukanlah air yang selalu memadamkan api amarahmu
Aku bukanlah tanah subur yang hendak kau tanami
Akupun bukanlah angin yang selalu menyapamu ramah setiap hari
Aku hanyalah insan yang memiliki hidup dan kehidupan seperti manusia lainya
Aku hanya punya satu cara yang mungkin membuatmu bahagia
Aku hanya punya cara mendekatkan diri kepadamu yang setahuku itu baik
kau dan aku beda tapi tak sama karena aku bukan siapa-siapa

Sunday, December 16, 2012

Bersama derita Aku mulai tegar

0 comments
Entah kenapa angin pagi ini menyapaku sombong
Burung yang biasanya berkicau kedaiamaian membisu dalam kebekuan
Mentari yang biasanya tersenyum tiba-tiba mengamuk dan menyembunyikan dirinya dipekatnya awan hitam
Aku menghibur diri dengan menyalakan alunan melodi nada yang kurasakan makin sumbang
Pertikaian antara logika dan persaan kian membesar
Api kebencian kian menyala dan membakar asa
Aku tertunduk malu dalam penghadapan suci
Mengaharap segeralah berakhir kesulitan dan derita ini
Segeralah datang cahaya yang Kau janjikan itu
Seakan gelap pandangan yang ku layangkan ke seluruh penjuru bumi yang kian tak ramah 
Langkah yang ku tapakan dijalan hidup ini kian penuh duri derita yang tak mampu ku singkirkan
Bagaimana mungkin aku mampu melanjutkan langkah sedang rumah yang ku tuju masih terlalu jauh untuk ku datangi dalam hitungan dimensi yang kian cepat
Akupun rasanya perlu membiasakan diriku dengan perjalanan yang melelahkan ini
Akankah ini membuatku tegar? Akan kah membuatku kuat?
entahlah yang ku tahu Bersama derita ini aku mulai tegar

Sunday, November 25, 2012

Wahai kamu

0 comments
jiwa yang sedang gelisah
jiwa tak tahu lagi arah
mari bernyanyi lagu sumbang
mari bersajak dengan bait sajak yang tak berirama
mari pegal lidah dan mulai tutup telinga
dan mulai dengan kata itu
mulai dengan urutan yang tak lagi pasti
atau takan dimuali saja semua ini
drama kebodohan jiwa
wahai kamu
iya kamu yang bersemayam di ragaku
hei kamu si tolol dari negri tak bernama
iya kamu si naif yang merangkai bait sajak tak beraturan
kamu si bdoh yang bernyai lagu sumbang bernada kesedihan
wahai kau iya kau yang pura-pura ikhlas
kau sisombong dan angkuh
mau bangkit atau mati
iya kamu itu kamu kamu kamu kamu
kamu kamu kamu jiwaku sadar dan mulai hidup dalam kedaiamain yang semestinya.

Bersama Derita

0 comments
Angin Kencang
Panas terik mentari membakar
Nenek tua berjalan dengan beban dan derita kehidupan
Bersamanya kau tersenyum
Kegigihan dan ketulusanmu meluluh lantahkan jiwa-jiwa pendusta
Gedung beratap hijau itu
Disudut jalan itu kau rebahkan lelah badanmu
Jiwa yang tegar dan kuat kau tunjukan
Para pejuang kehidupan  yang hanya berpamrih kepada Tuhan
Kaum tak tahu isme-isme hidup dengan prinsip dan cara yang isme
Kau mampu menggampar wajah kaum moralis dengan rasa syukurmu
Bersama deritamu kau manusia luar biasa

Saturday, November 24, 2012

Sajaku Tentang WTS

0 comments
Ku Sampaikan Lewat doa
Aku memang tiada punya keberanian mengutaran kejangalan yang ku liat
Aku juga tak mampu memberikan suatu hal yang berarti untuk merubahnya
Aku tiada akan menghujat ataupun menghakiminya
Aku juga tiada akan menutup mata atau memandang sebelah mata
Mereka bagian dari kehidupanku
Mereka bagian dari perjalanan kehidupanku
Mereka di ciptakan agar ku mengenal Dia
Mereka di ciptakan agar ku lebih sadar akan siapaku
Hanya doa yang ku samapaikan agar Tuhan mengangkat derajat mereka
Wahai wanita-wanita berparas sexi di pinggir jalan-jalan itu.

Aku Mengaji

0 comments

AKU MENGAJI

Dalam bait kalam ilahi yang kau baca dikala senja ataupun dikala fajar menyapa
Lidah tua suara serak mengheningkan alam yang saat itu tak ramah
Alunan nada sederhana penuh makna bagaikan embun mendinginkan suasana gersang
dimeja kecil sederhana itu penuh kenangan 
saat kau kenalkan ku urutan huruf yang tak pernah ku lihat sebelumnya
Alif, Ba, Taa, Tsa, Jaa kau ucap dan kau suruhku mengikiutinya
dengan terbata-bata ku ikuti ucapanmu yang mulai terasa asing di telingaku
Kau bagai mentari yang menerangi gelap jalanku
kini ku mengerti akan betapa berharganya nilai moralitas yang kau tanamkan
dengannya kini ku mengerti hidup
dengannya kini mampu berjalan dalam kegelapan dunia
Guruku, tanganku menari dan bibirku sering bernyanyi 
namun nadaku tak mungkin sebaik nadamu yang penuh ketulusan
kini kehidupan yang dulu kau ceritakan begitu indah telah berganti wajah
kini aku dan sebagaian anak didikmu mungkin telah enggan mengingat ajaranmu
Guruku tampang sederhana hati luas bak samudra
doaku menyertaimu semoga Tuhan tetap menjagamu 
Aku mengaji dan aku mengerti hidup..