Menjelang
pemilihan umum yang diadakan besok tanggal 9 April saya mungkin menjadi seorang
warga negara yang bisa disebut tidak ikut membangun negeri. Iyah orang yang tak
mencoblos dinegeriku Indonesia disebut orang yang tak ikut serta membangun
negeri. Orang yang tak ikut andil memperjuangkan nasib bangsa. Atau terserahlah
apa namanya. Namun saya memilih jalan saya sebagai kau putih. Kaum golput, kaum
yang sangat di benci oleh para caleg. Caleg itu calon legeslatif, orang-orang
yang berlomba, bersaing memperebutkan kursi jabatan sebagai wakil rakyat. Konon
si wakil rakyat entah apa kerja besok namanya tetap wakil rakyat.
Namanya
sebenarnya sudah sangat mulia sebagai wakil rakyat. Wakil dari semua rakyat
baik yang memilih atau tak memilihnya. Jadi wali murid satu anak saja sudah
bangga apalagi jadi wakil rakyat banyak yak? Apakah caleg yang sudah jadi besok
itu bakal sebahagia wali murid atau wali kelas? Akh sayang saya tak punya
sahabat seorang wakil rakyat jadi tak pernah menanyakan hal semacam ini.
Pemilihan
umum tahun 2014 meneurut beritanya menghabiskan dana sekitar 26 T. Wiuuh angka
yang luar biasa. Itu biaya resmi buat menyelenggarakan pesta 5 tahunan ini dari
mulai persiapan hingga akhir pemilu. Tapi tidak tahu kalau dikalkulasi dengan
biaya parpol kampanye. Atau legeslatif berkampanye mengeluarkan biaya jutaan
menggaet masa. Dengan biaya yang begitu besar pesta 5 tahunan ini bisa menjadi
pesta rakyat yang sangat luar biasa. Pesta rakyat untuk mengangkat orang
menjadi wakilnya. Dan kelak wakilnya itu juga yang akan membunuh rakyat secara
perlahan dari mulai potong jari kakinya hingga ubun-ubunya hingga mati.
Memang
sungguh menyakitkan hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, memilih salah tidak
memilihpun salah. Mau memilih lah yang dipilih tak sesuai kriteria kita. Bukanya
memilih itu harus sesuai selera? Nah kalau tidak ada yang memberi selera masa
iya kita dipaksa mau suka. Contoh gampangnya gini saja, didepan anda disajikan
aneka kotoran hewan dari yang paling tak berbau hingga yang paling bau apakah
anda akan memakanya meski bukan makanan anda. Hanya jika anda orang gila yang
mau makan sesuatu yang kita anggap kotor. Mohon maaf bukan bermaksud
mengeneralisasikan caleg yang baik dalam kubangan manusia kotor. Namun orang
yang bersih ketika masuk dalam kubangan kotor akan terkotori.
Memang
banyak orang yang baik di negeri ini. Banyak orang yang memperjuangakan
kebenaran di negeri ini. Tapi rasanya sia-sia memperjuangan kebenaran di negeri
pengadop demokrasi yang kebelinger. Menyerahkan kebenaran pada suara terbanyak
adalah pilihan yang fatal. Apalagi yang memilih bukan orang yang memiliki
kredibilitas dalam kebenaran tersebut. Yang ada sekedar orang yang berebut
kebenaran kemudian akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki suara terbanyak. Entah
mendapatkan suara tersebut dari membayar orang atau dengan cara curang lainya. Namun
point terpentingya kebenaran di negeriku hanya di dasarkan pada suara
terbanyak. Bahkan kalaupun penemu teori-teori zaman dahulku hidup diIndonesia
mungkin tak pernah ada teori galileo atau teori lainya yang secara mayoritas
ditolak.
Negeri
ini gagal menggunakan ideologi nya sendiri dan memilih mengadopsi paham dari
luar. Nenek moyang kita dan bahkan di masing-masing agama terutama Islam
mengajarkan untuk bermusyawarah. Bermusyawarah untuk menentukan suatu pilihan,
masing-masing mengadukan kebenaranya an faktanya. Dipilih orang yang ahli
dibidangnya untuk mengarahkan jalanya musyawarah. Nah kalau sekarang? Orang yang
bukan pada bidangnya pun sok ngoyo memeperebutkan jabatan atas nama wakil
rakyat.
Itulah
karena kebenaran hanya didasarkan suara terbanyak.. miriss.. semoga negeri ini
semakin baik entah kapan saat itu tiba. Tapi setidaknya kita sendiri yang
memulai berpikir lebih cerdas, lebih kritis terhadap segala hal yang ada
dilingkungan sekitar kita.
TANYA jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak
dinyana anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak
meningkatkan nada suaranya.
”Saya sangat kecewa mengapa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap
sedemikian lunak kepada orang-orang yang dating ke kuburan untuk meminta
angka-angka buntutan! ” ia menuding-nuding , ”Itu jelas syirik, saya sebagai
warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya yang sejak kelahirannya
bermaksud memberantas segala tahayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus
memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah
penghabisan!”
Bapak ustadz terkesima.
Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun
”semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajaknya Chairul Anwar
”Aku” atau ”Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltage suaranya meningkat?
Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat
perjuangan dari generasi satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk
soal macam apa semangat itu mesti di terapkan, adalah soal kedua.
”Adik manis, maafkan saya kalau memang khilaf,” bapak ustadz berkata dengan
lembut, ”Tapi saya berharap aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga
tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk tidak terlalu dingin
terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuuwun sewu, saya melihat ada sesuatu
yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke
dalam es dawet…”
Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.
”Syirik ya syirik, tapi orang masuk kuburankan macam-macam maunya. Ada yang mau
cari tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekedar
menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta
barang-barang seperti yang diminta tetangganya. Terus terang saya juga sering
masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat
jenuh oleh acara macam yang kita selenggarakan mala mini, jenuh di undang
kesana-kemari untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni
pertanyaan-pertanyaan yang khas kaum muslimin abad-20 dari ’apa hukum merangkul
rambut’ sampai ’memandang wanita itu zina apa tidak’, atau jenuh dengan
pemikiran-pemikiran puber akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan
itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk
merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan.
Apakah buang-jenuh di kuburan syirik?”
”Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda ”saya berbicara tentang orang yang
minta-minta di kuburan.”
”Baiklah,” lanjut pak ustadz. ”Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa,
tidak di kuburan atau kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang,
jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu
anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya saya
juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”
”Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.
”Bikinlah proposal untuk meminta biaya siapa saja yangsebenarnya suka
mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita
memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung
Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali
harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% peanggan kuburan
adalah orang-orang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya
perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancer.
Di samping itu syukurlah posisi social Anda. Anda termasuk dia antara sedikit
anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah
sampai perguruan tinggi. Karena Anda bersekolah sampai perguruan tinggi
sehingga anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih
rasional. Harapan anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil.
Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah,
para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupn menjumpai persoalan-persoalan
umum yang menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan
berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang
memperbincangkan kepentingan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik….”
Seperti ari bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.
”kalaupun anda ogah terlibat bekerja dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau
tempat-tempat lain yang anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemampuan
itu, anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya
masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis
ketergantungan terhadap dana luar negri di mana anda bisa numpang makan, minum,
mrokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas
proposal agar secara pasti anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan
langkah ketiga, menyusun kecanggihal lembaga anda sedemikian rupa sehingga anda
sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan
memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme
perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat anda.
Kemiskinan adalah export non-migas yang subur bagi kelompok priyai pembebas
rakyat di mana anda bisa bergabung…”
Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.
”dengan demikian anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat.
Hal-hal semacam itu tidak bisa di lakukan oleh orang-orang miskin yang hendak
anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada
Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan
hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa
pada orang kecil yangmelarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”
Suasana pengajian menjadi semakin senyap.
”Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi.
”Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau
apakah yang dituhankan orang di negeri anda ini? Apa yang di dambakan orang
melebihi Tuhan? Apa yang di kejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang di takuti
orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang
seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orangtunduk, patuh dan loyal sepenuh
hidupnya kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi
perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan
dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran social Anda, pikiran
politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan structural Anda…”
Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.
”Berankah anda berangkat membrantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh
kekusaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah anda berperang melawan diri Anda
sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah”
Sanggupkah Anda mengalahkan obesis kehidupan Anda sendiri untuk merintis
peperangan-peperangan yang sedikit punya harga diri?”
Napas mulai agak tersengal-sengal.
”Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bukankah Anda tampak
bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah
terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang
terancam oleh badai api sehingga menyingkir kekuburan sepi. Itu karena mata
pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh para ulama-ulama yang
memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencici
mata umatnya, kecuali persoalan yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda
sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu di terapkankan
pada hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah solat lohor
apa belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pake jilbab atau
belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film
citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk
persoalan-persoalan yang lebih luas. Anda tidak pernah mempersoalkan bagaimana
sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang tiap hari Anda pakai
sembayang. Anda marah pada Cristine hakim tidak pakai jiblab padahal ia
muslimah, tetapi anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan
lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan
social yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya
wajib dalam perhitungan makro structural. Anda hanya sibuk mengurusi
sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon
sifatnya… ”
”Pak! Mengapa jadi sejauh itu….?” Sahut sang pemuda.
”Dengar dulu, anak muda!” tegang wajah sang bapak. ”Itu yang menyebabkan Anda
tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat
kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat sesorang mencuri. Anda
hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas
konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya….”
”Apa-apaan ini, Pak?” sang pemuda menyelonong lagi.
”Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan. Dalam rasa ketidakmungkinan
menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai
wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian cermin yang mampu
menyodorkan halusinasi kemenangan kita. Kalau kita tak punya biaya untu knaik
haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan mereka telah naik haji.
Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk kita taklukan.
Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah, kita
berduyun-duyun ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut, diskotik si
Boy,atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur.
Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tan sanggup bersandar pada
udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf
dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam
tempurung. Naluri kekuasan kita tumpahkan dalam tempurung. Kita menjadi
”negara” dalam pesta syairiat dangkal umat di sekeliling kita. Kita mengawasi
muda-mudi yang berboncengan motor, kita menepon pasien-pasien kita di pagi buta
untuk mengecek apakah dia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik
apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi
puritan, menjadi ”manusia amat lokal”. Kita mendirikan kekuasan baru di mana
kita adalah penguasanya… ”
Sang pemuda tak bisa tahan lagi, ”Maf, Pak! Berilah saya sedikit peluang…”
Selamat siang sahabat semua mungkin postingan ini agaknya
kontroversi tapi saya harapkan baca saja dengan kepala dingin dan hati sejuk.
Nikmati saja alur tulisannya. Pada kesempatan kali ini saya sengaja memposting
hasil kultwit akun yang lumayan agak nyeleneh sekilas kalau kita membacanya. Yups
akun ini bernama @IBLIS_wa iya alisan IBLIS Wallahu A’lam. Kurang lebihnya
seperti ini mari kita petik ilmu nya bersama dan semoga bermanfaat.
Setelah gempa di Jogja yang membikin
hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh
pulang.Aku segera teringat Mbah Maridjan,
bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa.Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan,
kucari tadi di rumahnya beliau tidak ada.Setengah
berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah, sambil sesekali
menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau
sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil
beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering).
Setelah dekat,kulihat Mbah Maridjan yg
sedang mnyalakan rokok
lintingannya.Baunya mnyengat,tetapi segar apalagi ditambah suasana sore yg
semilir. “Mbah,bagaimana
ini Mbah,musibah datang silih brganti,sprtinya sudah waktunya kita mlakukan
tobat nasional.”
Mbah Maridjan malah tenang2 saja”. Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana
rahmat juga bisa jadi musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le.”“Gimana sih Mbah, musibah ini
peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita, sekaligus juga ujian apakah kita
tabah menghadapi musibah.”
Mbah
Maridjanpun menjawab santai “
Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le”. Aku seperti ditampar langsung di
otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini.“Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?” sahutku keras
kemudian Mbah Maridjan menjelaskan ulang kata-katanya dengan lengkap “Tuhan itu Le, baru diduakan saja
sudah marah2,baru perintahnya tidak dilaksanakan
saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah, ciptaannya bisa
lebih gak tabah lagi”.
Sebentar2, aku masih tidak mengerti
apa maksud Mbah Maridjan.” “ Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam
dan Hawa? yang
dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu? itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan
marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis
dan Adam,Iblis disuruh menghormati Adam,suruh sujud di depan Adam, lha wong
Iblis itu pinter, ya dia nggak mau,dia hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan
marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat.Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena
homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan.Tuhannya saja kurang dewasa, jangan pula salahkan umatnya
kalau kekanak2an.”
Aku hanya bengong, mendengarkan
tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di
jari2 tangannya.Sungguh-sungguh "gila" Mbah Maridjan ini,
berani-beraninya
menggoyang tahta diktatur Tuhan.“ Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita
harus lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.”Sahut
lagi keras.
“ Hahahahahaha…………………..” Mbah
Maridjan tertawa terkekeh-kekeh, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan pandangan lucu
kepadaku.“Kamu
ini Le,produk jaman modern kok berpikirnya
idiot kaya gitu.Kalau
banyak orang berdosa,dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia.Minta ampun lah kepada alam, dengan
merawat mereka dengan baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya.Minta ampunlah kepada
manusia2,berhenti korupsi,bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim
piatu,jalankan negara dngan jujur dan bersih.Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama
Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia.”
“ Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu
pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari derita ini.” Protesku keras
kepada mbah Maridjan. “
Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri,kamu boleh minta tolong sampai air
matamu habis, tapi kalau kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma.Lihat itu orang Jepang, kena gempa
mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan gempa.Lihat orang Belanda,kena banjir
banding mereka itu,tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa,sekarang selamatlah
mereka dari petaka banjir.Bencana
itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali.Lihat orang2 Eropa,dikaruniai penyakit pes,sampai separuh
penduduknya mati,tapi mereka memperbaiki diri,dan hidup sehatlah mereka
sekarang.”
Dongkol hatiku bukan main sama Mbah
Maridjan, dari dulu dia selalu bisa membolak-balik perspektif.Dan dia sudah berani mempermainkan
syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku.“Mbah, kita ini manusia yang egois.
Tuhan telah menciptakan alam dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai
kalifahnya di dunia ini.Kitalah
yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.”
Mbah Maridjan kembali meringis,
seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di
depannya.“ Oalah Le,kalau mau jujur
sih.Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh manusia yangg egosentris,akhirnya manusia tambah
kelihatan egois.Seharusnya
kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan antroposentrismu,
kuno sekali cara berpikirmu Le.Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa
alam.”
“Ya biarin Mbah,pandangan
antroposentris kan lebih baik daripada percaya hal2 mistis kaya sampeyan,ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai
Plered, Kebo Kiai Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.”Sahutku
sembari meledek mbah karena sudah gregetan.
“Para kawulo cilik seperti kita ini
kan sering ditipu sama para penggede2 istana.Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro
Kidul itu kan cuman mitos Le,Raja-raja Mataram jaman dulu malu karena di Segoro
Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis,jadi mereka menghibur diri dengan mnciptakan mitos Nyi Roro
Kidul,seolah-olah
mreka masih mnguasai Segoro Kidul,memperistri penguasa Segoro Kidul.Cilokone, kita semua percaya adanya
Nyi Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho
mbodhoni wong mesisan.”
Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku
klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja
Mbah tua satu ini. “Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus
bergerak Mbah.”. “
Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi.Sudah sana, belajar yang bener,
santri kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune
nggedabus, pangertene mbladhus.Kamu
yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan
orang dari sikap fatalis menghadapi musibah.Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan
tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari,kitab putih pun harus kau pelajari,
dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari.”
Sambil menggerakkan tangannya
menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit
50 ribu.“ Ini hanyalah lembaran 50 ribuan
Le,kuserahkan padamu. Duit ini akan
benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan.Dilemparkannya duit itu kepadaku,
aku mengambilnya sambil bingung memikirkan apa maksud kata-kata Mbah Maridjan yang terakhir tadi. Semoga bermanfaat buat kita semua salam sejahtera dari edi sumiarjo sebarkan kalau merasa bermanfaat.:-)