Thursday, June 9, 2016

RAMADHAN DATANG LAGI DAN AKU MASIH BINGUNG

0 comments
RAMADHAN DATANG LAGI DAN AKU MASIH BINGUNG
Tiada bulan yang paling membahagiakan selain bulan Ramadhan, itu sih yang saya tau waktu masih kecil. Iya masih kecil,karena di usia usia kanak-kanak hingga anak anak lah kita bisa merasakan dan menyambut ramdhan dengan suka cita. Selebihnya hanya orang orang dengan maqom tertentu saja yang bisa dengan sangat bahagia menyambut Ramadhan. Dan orang seperti saya ini Cuma orang yang asal puasa,asal sholat di tambah bingungan.
Akhir-akhir ini saya sering melihat fenomena setiap kali Ramadhan datang semua kebutuhan perut manusia mengalami kenaikan. Konsumsi kita naik hampir 100 % prosentase yang sangat tinggi mengingat kita hanya makan mungkin maksimal 2 kali itupun malam hari. Lalu kenapa ini bisa terjadi? Aku yo jane memeng mikir koyo ngene hahaha tapi baiklah saya mencoba sedikit berbagi analisis gila saya kenapa Ramadhan di negeriku yang sangat saya cintai ini agak sedikit lucu. Bagi saya entah bagi sampean semua.
Bulan ramadha adalah bulan dimana seharusnya kita menahan diri untuk berkata iya pada hal yang biasa kita lakuakan sebagai aktivitas sehari hari yang notabene kurang baik. Bulan ini momentum untuk berani dengan tegas mengatakan tidak untuk melakukan hal yang kurang baik.
Kenapa tidak sederhana saja di bulan Ramadhan ini? Kenapa kita harus dengan sangat sibuk menyiapkan segala hal hanya untuk yang namanya berbuka puasa? Semua makanan rasanya pengen kita beli semua? Sebenarnya puasa kita kita itu untuk belajar menahan atau buka itu hanyalah balas dendam dari keseharian kita yang tak makan apa-apa? Katanya makan makanlah hanya untuk menegakan tulang rusuk kita? Puasa kita ini puasa balas dendam atau puasa yang belajar menempa diri kita menjadi manusia yang sederhana dan berlebihan.
Menjelang buka kita di suguhi aneka jajanan di pinggir jalan, dan hampir semua kota melakukan hal semacam ini. Kita justru sibuk mencari makanan ketimbang berdoa menjelang senja. Jalanan macet total semua manusia berlomba mengumpulkan makanan sebanyak-banyak nya, setelah itu apa itu makanan di makan semua? Ini yang menyebabkan konsumsi dan pengeluaran kita naik salah satunya.
Harga daging sapi katanya naik yah? Udah biasa kali g usah kaget, menjelang Ramadhan harga daging kok bisa naik ? tau kan kenapa harga suatu barang bisa naik? Konsumi banyak sedangkan stok sedikit? Ramadhan mbalik lagi ke masalah perut dan perut hahaha.
Kok jadi banyak iklan obat si di bulan Ramadhan.? Katanya puasa itu mencegah kita dari berbagai rasa sakit. Itu banyak ustadz malah jadi bintang iklan suplemen agar puasanya kuat .hahaha memang terkadang demi uang, prisnsip sering kalah kok. Tidak apalah saya juga sering seperti itu tidak Cuma pak ustadz hahahha…
Kalau masalah masjid rame saya tidak berani membahas, soalnya saya sering sholat sendirian hahaha selamat malam semoga puasa kamu dan aku berkah. Masalah puasa di terima atau apapun biar Tuhan saja lah yang menilai. Stop menghami dan saya juga Cuma sharing, teman teman kalau mau makan sampai buncit yo tak masalah, tapi jangan lupa berbagi biar kenyangmu menyebar. Monggo yang mau teraweh,.



TUHAN,PETANI DAN BULOG

0 comments

TUHAN,PETANI DAN BULOG
gambar dari blog.umy.ac.d
Berprofesi sebagai petani bukan lah profesi bonafit di negeri yang ngakunya negeri agraria ini. Petani di nergeri ini kebanyakan hidup di bawah rata-rata. Kebanyakaan yang memilih berprofesi sebagai petani adalah orang desa yang tidak bisa merantau ke kota. Bahkan pilihan menjadi petani adalah pilihan kepepet karena tidak adanya keahlian selain mengangkat pacul da nasal namam.
Namun beberapa tahun terakhir ini memang petani agak di lirik oleh sebagai kalangan karena bermunculan petani organic di negeri ini. Lagi-lagi sialnya tak berlaku di desa , petani di desa tetap tak mengerti apa itu bertani tanaman organic. Tetap di pikiran mereka kalau tidak menanam padi ya menanam jagung. Itu pun terus di tekan untuk bertanam yang baik agar pemerintah bisa suasembada pangan. Duh kok susah bener jadi petani hehehe.
Tapi perlu kita sadari hubungan petani dengan Tuhan itu sangat dekat. Bagaimana tidak petani itu selalu berdoa agar tanamanya tumbuh dengan baik dan tak di serang hama. Dan bagi petani yang hanya mengandalkan hujan, bisa jadi hampir setiap hari berdoa minta hujan. Dan model petani ini kalau ketemu produsen krupuk bisa adu doa. Satu minta hujan satu minta panas. Tapi semoga petani tadah hujan dan produsen krupuk tetap hidup damai dan saling beradu doa dengan fair.
Petani di negeri kita memang di didik dar nenek moyang untuk hidup dengan bersahaja. Mereka di latih menjadi manusia yang kuat. Kuat secara mental dan fisik. Kalau teman-teman mau main ke desa desa yang sebagian besar hidup dari pertanian bisa jadi teman-teman kaget. Mereka hidup dengan harmonis dan bahagia. Ya meskipun itu tampak diluar tidak tau di dalamnya. Tapi konon penampakan sebagaian besar menggambarkan apa yang di dalam.
Jadi doa petani kita itu sebenarnya luar biasa. Di tambah keihlasan mereka menhadapai bagaimana kerasnya pasar. Saat belum pane komoditi pertanian hargnya naik sangat tinggi. Giliran sudah panen eh pemerintah malah import dari luar negeri. Opo ra loro ati kui? Nangis darah bisa jadi kalau saya di posisi itu. Jadi doa petani negeri ini mencakup segal aspek mulai dari awal membajak sawah atau mengolah tanah, kemudian masuk menanam, masuk masa tumbuh tanaman dan agar terhindar dari hama, kemudian masuk menjelang masa panen was was kalau kalau habis panen terus dipasaran malah banyak hasil import. Di tambah doa semoga ikhlas dan tabah menjalani hdiup hahaha. Tapi anehnya mereka tetap bisa tertawa dan cengengesan betapa ikhlas dan bersyukurnya petani negeri ini. Bulog semoga membaca tulisan saya ini biar mereka mau membeli hasil panen dengan harga bagus hahahhaa..


Sunday, November 1, 2015

PASARKU TINGGALAH KENANGAN

0 comments
PASARKU TINGGALLAH KENANGAN
Apa yang terbesit saat kita mendengar tradisional? Bagi sebagian dari kita mungkin akan terbesit dengan lingkungan yang kumuh, becek, bau dan lain sebagainya. Tapi ada sebagaian dari kita juga yang suka dan senang pergi ke pasar tradisional. Terlepas dari itu kembali ke diri kita masing-masing menyikapi hal semacam ini. Namun tak dapat dipungkiri di zaman yang kian modern pasar tradisional tak lagi di lirik apalagi oleh kaum muda negeri ini. Miris? Pastinya bagi yang peduli bahwa poros ekonomi sejatinya ada lingkungan yang paling kecil yaitu pasar. Atau bahasa kerenya UMKM. Dipasarlah barang rakyat kecil bergerak.
Nasib pasar ternyata sekarang ini bukan lagi sekedar di tinggal oleh rakyat negeri ini. Pasar juga sering kali di hancurkan dengan cara yang sangat menyakitkan hati kecil kita. Semua tahu image pasar tradisional pasti terbakar. Seakan tidak ada cara lain selain membakar pasar untuk mematikan khasanah usaha nusantara ini. Terlepas siapa yang bermain di balik terbakarnya pasar yang pasti orang-orang yang terlalu egois dan serakah menyikapi persaingan usaha. Tapi kenapa harus dengan cara di bakar? Kenapa harus dengan penyebab yang sama yaitu konsleting listrik. Semua pasar di negeri ini yang terbakar pasrti dengan sebab konsleting listrik. Seakan penyebab ini menjadi sangat logis. Entahlah ini adalah pekerjaan rumah untuk kita semua.
Mall super market adalah tempat yang sangat favorit bagi generasi masa kini. Wooooo keren, gaul. Bagiku kemodernan sebaiknya tak melupakan tradisional. mestinya tetap berpegang teguh pada khasanah nusantra. Beberapa hal yang harus kita ingat dari pasar tradisional yang kini kalian semua tinggalkan.
1. Pasar Tradisional memberimu semangat gotong royong,  dipasar tradisional kita akan menjumpai orang bersaing saling memeluk bukan saling menikam. Kalau berat di bantu membawa. Guyub rukun dipasar tak akan kau jumpai di mall yang kau banggakan itu.
2. Pasar tradisional memberi ruang untuk rakyat kecil berkarya dan menjual karya. Jika kita hidup dan tak memberi kesempatan orang lain berkembang apa lagi saudara sebangsa maka hati nuranimu perlu dipertanyakan. Otakmu perlu ditanyakan kewarsannya. Dipasarlah mesti kita membantu pengusaha kecil untuk terus menapaki tangga usahanya. Pengusaha kecil, tukang ojek, becak makan. Berusahalah kesenanganmu berdampak terhadap kesenangan orang kecil di sekitarmu.
3. Bangsa yang besar selalu tau identitasnya sendiri, kalau kita tau identitas kita kita akan mampu menjadi besar dan tak akan terijak-ijak. Dipasar kalian akan menemukan menu tradisional khas bangsa kita. Jajanan pasar yang lezat dengan harga yang sangat murah. Murah bagimu namun sangat membantu saudara kita bergerak maju. Kau makan di mall? Kau nisbahkan untuk siapa kebermanfaatmu? Bukalah mata hatimu.
4. Banyak hal yang harus aku tulis namun air mataku tak sangup menahan, pasar johor semarang terbakar. Tau kah kau di sana juga banyak buku yang hangsung dan terbakar.
sekian dulu tulisan yang penuh emosional ini saya tulis. Apapun itu kembalilah ke identitasmu sebagai NUSANTARA. CINTAILAH PASAR TRADISIONAL. 

Tuhan dengan segala Rencana Nya

0 comments
Tuhan dan Segala Rencana-Nya
Pagi ini aku di kagetkan dengan daun daun yang berserakan di beranda kamar kosku. Bunga-bungapun berjatuhan entah angin apa semalam yang membuat semua jadi kian berantakan. Sembari aku membersihkan beranda, aku mendengar pengumuman di speaker masjid. Ada yang meninggal seorang remaja yang masih sangat muda.
Kembali aku melanjutkan membersihkan beranda. Tuhan ternaya punya segala rencana di balik segala hal. Daun yang jatuh sekalipun benar-benar atas kehendaknya atas izinya. Tak peduli daun yang masih hijau ataupun yang sudah coklat menua. Jika Tuhan sudah berkehendak semua bisa saja terjadi.
Hidup kamu apa kabar? masih yang selalu mengeluh seperti saya ini? selalu kahwatir yang berlebihan padahal segalanya sudah di atur sesuai dengan kemampuan kita? Apapun ujian dan cobaanya bukan sudah seporsi dengan kekuatan kita. Apapun masalahnya bukankah sudah sepaket dengan solusinya? akh nyatanya saya juga masih sangat khawatir dan takut.
Barangkali memang manusiawi mearasa takut dan khawatir dengan masa depan. Ya kali kamu tidak seperti saya ini yang masih cemen tapi sok bijak dan kuat seakan hidup ini mudah. Seakan semua hal dalam perjalanan hidup ini kita bisa merencanakan sendiri. Akh aku kan memang suka begitu begitu tidak sesuai dengan apa yang di inginkan saya selalu menyalahkan Tuhan.
Apa yang baik buat kamu barang kali tak baik buat Tuhan. Tapi yakin lah apa yang baik buat Tuhan pasti baik buat kamu. Hidup harus selalu siap dengan segala resiko yang kita ambil. Kalau kita selalu siap dengan segala resiko kita tak akan terlalu sakit hati menyikapi kehidupan ini.
selamat makan siang semuanya.

CINTA DI NEGERI ANDALAS

0 comments
CERITA SENJA DI NEGERI ANDALAS
Ada yang ditangisi dari kepergian senja yang terenggut mentari. Keindahan jingga dan kemuning langit di barat bumi. Seorang gadis termangu duduk diantara pepohonan cemara dan pinus. Mengingat doa-doa yang ia panjatkan setiap saat kepada Tuhannya. Kedatangan kekasihnya dari negeri doa yang tiap siang dan malam dia panjatkan. Seorang laki-laki yang selalu dia doakan datang dan menemuinya. Laki-laki yang tak pernah dilihatnya di dunia nyata. laki-laki yang hanya ada di dalam mimpi dan doa-doanya. Alasan apa yang membuat gadis ini tiba-tiba jatuh cinta dan merasa memiliki laki-laki yang hanya ada dalam dunia khayal dia mungkin hanya dia dan seorang laki-laki itu saja yang tahu.
Sebut saja dia bernama senja, gadis cantik dari negeri andalas. Berfrofesi sebagai pekerja rumah sakit swasta. Kebehagian selalu menyelimutihari-harinya. Sesekali dia terdiam bukan karena sedih namun sekedar bertafakur. Mengingat betapa kehebatan Tuhan mengirimkan cinta kepada nya. Yah cinta kepada orang yang tak pernah sekalipun dia temuinya. Jatuh cinta memang tak pernah direncanakan bagaimana itu bisa terjadi atau itu bisa ada. Semua sudah diatur dengan sangat elegan oleh Tuhan.
Hari itu tepat tanggal 10 Bulan November 1930. Tepat dia berusia 26 tahun. senja mulai realisitis tentang cintanya. Kebahagiaanya tak boleh bergantung kepada siapapun. Apalagi kepada laki-laki yang tak pernah dia temuinya di dunia nyata. hari itu dia memutuskan untuk mulai menjalani hidupnya dengan tanpa berharap pada sosok laki-laki itu.
Tetiba seminggu setelah itu ada secarcik kertas yang tergeletak di kursi di bis yang dia pergunakan sebagai angkutan tiap kali dia berangkat dan pulang kerja. kertas itu bertuiskan seperti ini :

Senja barang kali kita tak pernah bertemu di dunia nyata, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku.
Aku tak lagi berharap kepadamu senja, aku memilih kebahagiaanku. dan semoga Kau pun bisa memilih kebahagianmu.
Aku pergi dan akan terus pergi dari kehidupanmu. Sebarapa pahitnya itu, aku akan pergi karena aku tak mau terus menggoreskan luka dan menyiraminya terus dengan air matamu yang lebih asin dari air laut.
Aku berdoa semoga impianmu, cita-citamu kesampaian. Lupakan lah tentang es cream itu. Lupakan lah kalau kita pernah bermimpi jalan dan menikmati sore hari dengan anak-anak sembari tertawa menikmati es cream kita yang sudah meleleh.
Aku minta maaf untuk semua janji yang tak ku penuhi. Aku minta maaf karena telah mencintaimu. Aku minta maaf telah hadir dalam kehidupanmu. Bahkan hadir dalam doa-doamu yang suci itu.
Tapi senjaa, kau pernah bilang bahwa hidup harus terus berjalan. seperti layaknya bumi. Jika berhenti semua akan jadi kacau. Alam akan hancur jika sedetik saja bumi berhenti. Hidup pun begitu kan? sedetik saja kita mencoba berhenti kita kan kehilangan segala hal. Ada banyak harapan yang harus kau raih di sana. Ada banyak hal yang harus kau penuhi. Lupakan lah aku di dalam doamu. Lupakan lah aku dalam setiap tetes air matamu.
Senja mungkin Tuhan tak akan mempersatukan kita di dunia nyata. Aku dan kamu akan menjadi bagian dari khalayan. Aku pernah bahagia dan tertawa bersama kamu. Aku pernah merasa yakin bahwa kelak kamu dan aku akan hidup di sebuah desa yang damai. Kita pernah berdebat untuk tak memelihara kambing. Senja semoga kelak kita akan berjumpa dalam Renacana Tuhan di kehidupan yang tak aku tahu kelak.
senja aku yakin kau akan menemukan tulisan ini karena aku yakin kau menegrti betapa menyakitkannya merindui. Tapi akan jauh menyakitkan ketika kita saling berharap pada hal yang tak pasti. Aku pergi senja kau harus pergi karena gelap akan merenggutmu jika tak kau pergi dari sini. Kau akan selalu indah sampai kapanpun, sampai aku mati aku akan mengongatmu sebagai senja yang hiasi soreku.

Dari seorang yang hanya ada dalam doa mu.
17-11-1930

MR.


Tuesday, April 8, 2014

DEMOKRASI ASU

0 comments


Menjelang pemilihan umum yang diadakan besok tanggal 9 April saya mungkin menjadi seorang warga negara yang bisa disebut tidak ikut membangun negeri. Iyah orang yang tak mencoblos dinegeriku Indonesia disebut orang yang tak ikut serta membangun negeri. Orang yang tak ikut andil memperjuangkan nasib bangsa. Atau terserahlah apa namanya. Namun saya memilih jalan saya sebagai kau putih. Kaum golput, kaum yang sangat di benci oleh para caleg. Caleg itu calon legeslatif, orang-orang yang berlomba, bersaing memperebutkan kursi jabatan sebagai wakil rakyat. Konon si wakil rakyat entah apa kerja besok namanya tetap wakil rakyat.
Namanya sebenarnya sudah sangat mulia sebagai wakil rakyat. Wakil dari semua rakyat baik yang memilih atau tak memilihnya. Jadi wali murid satu anak saja sudah bangga apalagi jadi wakil rakyat banyak yak? Apakah caleg yang sudah jadi besok itu bakal sebahagia wali murid atau wali kelas? Akh sayang saya tak punya sahabat seorang wakil rakyat jadi tak pernah menanyakan hal semacam ini.
Pemilihan umum tahun 2014 meneurut beritanya menghabiskan dana sekitar 26 T. Wiuuh angka yang luar biasa. Itu biaya resmi buat menyelenggarakan pesta 5 tahunan ini dari mulai persiapan hingga akhir pemilu. Tapi tidak tahu kalau dikalkulasi dengan biaya parpol kampanye. Atau legeslatif berkampanye mengeluarkan biaya jutaan menggaet masa. Dengan biaya yang begitu besar pesta 5 tahunan ini bisa menjadi pesta rakyat yang sangat luar biasa. Pesta rakyat untuk mengangkat orang menjadi wakilnya. Dan kelak wakilnya itu juga yang akan membunuh rakyat secara perlahan dari mulai potong jari kakinya hingga ubun-ubunya hingga mati.
Memang sungguh menyakitkan hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, memilih salah tidak memilihpun salah. Mau memilih lah yang dipilih tak sesuai kriteria kita. Bukanya memilih itu harus sesuai selera? Nah kalau tidak ada yang memberi selera masa iya kita dipaksa mau suka. Contoh gampangnya gini saja, didepan anda disajikan aneka kotoran hewan dari yang paling tak berbau hingga yang paling bau apakah anda akan memakanya meski bukan makanan anda. Hanya jika anda orang gila yang mau makan sesuatu yang kita anggap kotor. Mohon maaf bukan bermaksud mengeneralisasikan caleg yang baik dalam kubangan manusia kotor. Namun orang yang bersih ketika masuk dalam kubangan kotor akan terkotori.
Memang banyak orang yang baik di negeri ini. Banyak orang yang memperjuangakan kebenaran di negeri ini. Tapi rasanya sia-sia memperjuangan kebenaran di negeri pengadop demokrasi yang kebelinger. Menyerahkan kebenaran pada suara terbanyak adalah pilihan yang fatal. Apalagi yang memilih bukan orang yang memiliki kredibilitas dalam kebenaran tersebut. Yang ada sekedar orang yang berebut kebenaran kemudian akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki suara terbanyak. Entah mendapatkan suara tersebut dari membayar orang atau dengan cara curang lainya. Namun point terpentingya kebenaran di negeriku hanya di dasarkan pada suara terbanyak. Bahkan kalaupun penemu teori-teori zaman dahulku hidup diIndonesia mungkin tak pernah ada teori galileo atau teori lainya yang secara mayoritas ditolak.
Negeri ini gagal menggunakan ideologi nya sendiri dan memilih mengadopsi paham dari luar. Nenek moyang kita dan bahkan di masing-masing agama terutama Islam mengajarkan untuk bermusyawarah. Bermusyawarah untuk menentukan suatu pilihan, masing-masing mengadukan kebenaranya an faktanya. Dipilih orang yang ahli dibidangnya untuk mengarahkan jalanya musyawarah. Nah kalau sekarang? Orang yang bukan pada bidangnya pun sok ngoyo memeperebutkan jabatan atas nama wakil rakyat.
Itulah karena kebenaran hanya didasarkan suara terbanyak.. miriss.. semoga negeri ini semakin baik entah kapan saat itu tiba. Tapi setidaknya kita sendiri yang memulai berpikir lebih cerdas, lebih kritis terhadap segala hal yang ada dilingkungan sekitar kita.

Friday, February 28, 2014

ADAKAH DISANA APA YANG AKU CARI?

0 comments

ADAKAH DISANA APA YANG KU CARI?
Awan memang tak selamanya pekat hitam
Mentari juga memang tak selamanya gagah menjaga siang dengan percikan cahaya
Angin-angin tak mungkin terus bergerak diarah yang sama
Hujan pun enggan menguyur bumi sepanjang waktu bergerak
Entah dipahami entah di abaikan semua telah terdesain sebentar
Jalan yang sedang ku tapaki inipun akan berakhir
Suatu tempat dimana apa yang ku cari bersemayam
Tinggal ku tunggu bergulir waktu
Karena disana lah apa yang ku cari.

Thursday, December 5, 2013

MAHA SATPAM

0 comments
          
            TANYA jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak dinyana anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak meningkatkan nada suaranya.
             ”Saya sangat kecewa mengapa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap sedemikian lunak kepada orang-orang yang dating ke kuburan untuk meminta angka-angka buntutan! ” ia menuding-nuding , ”Itu jelas syirik, saya sebagai warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya yang sejak kelahirannya bermaksud memberantas segala tahayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah penghabisan!”
             Bapak ustadz terkesima.
             Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun ”semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajaknya Chairul Anwar ”Aku” atau ”Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltage suaranya meningkat? Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat perjuangan dari generasi satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk soal macam apa semangat itu mesti di terapkan, adalah soal kedua.
             ”Adik manis, maafkan saya kalau memang khilaf,” bapak ustadz berkata dengan lembut, ”Tapi saya berharap aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk tidak terlalu dingin terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuuwun sewu, saya melihat ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke dalam es dawet…”
             Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.
             ”Syirik ya syirik, tapi orang masuk kuburankan macam-macam maunya. Ada yang mau cari tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekedar menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta barang-barang seperti yang diminta tetangganya. Terus terang saya juga sering masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat jenuh oleh acara macam yang kita selenggarakan mala mini, jenuh di undang kesana-kemari untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni pertanyaan-pertanyaan yang khas kaum muslimin abad-20 dari ’apa hukum merangkul rambut’ sampai ’memandang wanita itu zina apa tidak’, atau jenuh dengan pemikiran-pemikiran puber akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan. Apakah buang-jenuh di kuburan syirik?”
             ”Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda ”saya berbicara tentang orang yang minta-minta di kuburan.”
             ”Baiklah,” lanjut pak ustadz. ”Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa, tidak di kuburan atau kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya saya juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”
             ”Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.
             ”Bikinlah proposal untuk meminta biaya siapa saja yangsebenarnya suka mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% peanggan kuburan adalah orang-orang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancer. Di samping itu syukurlah posisi social Anda. Anda termasuk dia antara sedikit anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Karena Anda bersekolah sampai perguruan tinggi sehingga anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih rasional. Harapan anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil. Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah, para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupn menjumpai persoalan-persoalan umum yang menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang memperbincangkan kepentingan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik….”
             Seperti ari bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.
             ”kalaupun anda ogah terlibat bekerja dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau tempat-tempat lain yang anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemampuan itu, anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis ketergantungan terhadap dana luar negri di mana anda bisa numpang makan, minum, mrokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas proposal agar secara pasti anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan langkah ketiga, menyusun kecanggihal lembaga anda sedemikian rupa sehingga anda sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat anda. Kemiskinan adalah export non-migas yang subur bagi kelompok priyai pembebas rakyat di mana anda bisa bergabung…”
             Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.
             ”dengan demikian anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat. Hal-hal semacam itu tidak bisa di lakukan oleh orang-orang miskin yang hendak anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa pada orang kecil yangmelarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”
             Suasana pengajian menjadi semakin senyap.
             ”Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi.
             ”Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau apakah yang dituhankan orang di negeri anda ini? Apa yang di dambakan orang melebihi Tuhan? Apa yang di kejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang di takuti orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orang tunduk, patuh dan loyal sepenuh hidupnya kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran social Anda, pikiran politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan structural Anda…”
             Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.
             ”Berankah anda berangkat membrantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh kekusaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah anda berperang melawan diri Anda sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah” Sanggupkah Anda mengalahkan obesis kehidupan Anda sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang sedikit punya harga diri?”
             Napas mulai agak tersengal-sengal.
             ”Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bukankah Anda tampak bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang terancam oleh badai api sehingga menyingkir kekuburan sepi. Itu karena mata pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh para ulama-ulama yang memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencici mata umatnya, kecuali persoalan yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu di terapkankan pada hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah solat lohor apa belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pake jilbab atau belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk persoalan-persoalan yang lebih luas. Anda tidak pernah mempersoalkan bagaimana sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang tiap hari Anda pakai sembayang. Anda marah pada Cristine hakim tidak pakai jiblab padahal ia muslimah, tetapi anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan social yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya wajib dalam perhitungan makro structural. Anda hanya sibuk mengurusi sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon sifatnya…  ”
             ”Pak! Mengapa jadi sejauh itu….?” Sahut sang pemuda.
             ”Dengar dulu, anak muda!” tegang wajah sang bapak. ”Itu yang menyebabkan Anda tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat sesorang mencuri. Anda hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya….”
             ”Apa-apaan ini, Pak?” sang pemuda menyelonong lagi.
             ”Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan. Dalam rasa ketidakmungkinan menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian cermin yang mampu menyodorkan halusinasi kemenangan kita. Kalau kita tak punya biaya untu knaik haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan mereka telah naik haji. Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk kita taklukan. Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah, kita berduyun-duyun ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut, diskotik si Boy,atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur. Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tan sanggup bersandar pada udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam tempurung. Naluri kekuasan kita tumpahkan dalam tempurung. Kita menjadi ”negara” dalam pesta syairiat dangkal umat di sekeliling kita. Kita mengawasi muda-mudi yang berboncengan motor, kita menepon pasien-pasien kita di pagi buta untuk mengecek apakah dia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi puritan, menjadi ”manusia amat lokal”. Kita mendirikan kekuasan baru di mana kita adalah penguasanya… ”
             Sang pemuda tak bisa tahan lagi, ”Maf, Pak! Berilah saya sedikit peluang…”
            Tapi air bah terus tumpah ke bumi.
Oleh : Emha Ainun Nadjib