Tiada bulan yang paling membahagiakan selain bulan Ramadhan,
itu sih yang saya tau waktu masih kecil. Iya masih kecil,karena di usia usia
kanak-kanak hingga anak anak lah kita bisa merasakan dan menyambut ramdhan
dengan suka cita. Selebihnya hanya orang orang dengan maqom tertentu saja yang
bisa dengan sangat bahagia menyambut Ramadhan. Dan orang seperti saya ini Cuma orang
yang asal puasa,asal sholat di tambah bingungan.
Akhir-akhir ini saya sering melihat fenomena setiap kali Ramadhan
datang semua kebutuhan perut manusia mengalami kenaikan. Konsumsi kita naik hampir
100 % prosentase yang sangat tinggi mengingat kita hanya makan mungkin maksimal
2 kali itupun malam hari. Lalu kenapa ini bisa terjadi? Aku yo jane memeng
mikir koyo ngene hahaha tapi baiklah saya mencoba sedikit berbagi analisis gila
saya kenapa Ramadhan di negeriku yang sangat saya cintai ini agak sedikit lucu.
Bagi saya entah bagi sampean semua.
Bulan ramadha adalah bulan dimana seharusnya kita menahan
diri untuk berkata iya pada hal yang biasa kita lakuakan sebagai aktivitas
sehari hari yang notabene kurang baik. Bulan ini momentum untuk berani dengan
tegas mengatakan tidak untuk melakukan hal yang kurang baik.
Kenapa tidak sederhana saja di bulan Ramadhan ini? Kenapa kita
harus dengan sangat sibuk menyiapkan segala hal hanya untuk yang namanya
berbuka puasa? Semua makanan rasanya pengen kita beli semua? Sebenarnya puasa
kita kita itu untuk belajar menahan atau buka itu hanyalah balas dendam dari
keseharian kita yang tak makan apa-apa? Katanya makan makanlah hanya untuk
menegakan tulang rusuk kita? Puasa kita ini puasa balas dendam atau puasa yang
belajar menempa diri kita menjadi manusia yang sederhana dan berlebihan.
Menjelang buka kita di suguhi aneka jajanan di pinggir
jalan, dan hampir semua kota melakukan hal semacam ini. Kita justru sibuk
mencari makanan ketimbang berdoa menjelang senja. Jalanan macet total semua
manusia berlomba mengumpulkan makanan sebanyak-banyak nya, setelah itu apa itu
makanan di makan semua? Ini yang menyebabkan konsumsi dan pengeluaran kita naik
salah satunya.
Harga daging sapi katanya naik yah? Udah biasa kali g usah
kaget, menjelang Ramadhan harga daging kok bisa naik ? tau kan kenapa harga
suatu barang bisa naik? Konsumi banyak sedangkan stok sedikit? Ramadhan mbalik
lagi ke masalah perut dan perut hahaha.
Kok jadi banyak iklan obat si di bulan Ramadhan.? Katanya puasa
itu mencegah kita dari berbagai rasa sakit. Itu banyak ustadz malah jadi
bintang iklan suplemen agar puasanya kuat .hahaha memang terkadang demi uang,
prisnsip sering kalah kok. Tidak apalah saya juga sering seperti itu tidak Cuma
pak ustadz hahahha…
Kalau masalah masjid rame saya tidak berani membahas,
soalnya saya sering sholat sendirian hahaha selamat malam semoga puasa kamu dan
aku berkah. Masalah puasa di terima atau apapun biar Tuhan saja lah yang
menilai. Stop menghami dan saya juga Cuma sharing, teman teman kalau mau makan
sampai buncit yo tak masalah, tapi jangan lupa berbagi biar kenyangmu menyebar.
Monggo yang mau teraweh,.
Berprofesi sebagai petani bukan lah profesi bonafit di
negeri yang ngakunya negeri agraria ini. Petani di nergeri ini kebanyakan hidup
di bawah rata-rata. Kebanyakaan yang memilih berprofesi sebagai petani adalah
orang desa yang tidak bisa merantau ke kota. Bahkan pilihan menjadi petani
adalah pilihan kepepet karena tidak adanya keahlian selain mengangkat pacul da
nasal namam.
Namun beberapa tahun terakhir ini memang petani agak di lirik
oleh sebagai kalangan karena bermunculan petani organic di negeri ini.
Lagi-lagi sialnya tak berlaku di desa , petani di desa tetap tak mengerti apa
itu bertani tanaman organic. Tetap di pikiran mereka kalau tidak menanam padi
ya menanam jagung. Itu pun terus di tekan untuk bertanam yang baik agar
pemerintah bisa suasembada pangan. Duh kok susah bener jadi petani hehehe.
Tapi perlu kita sadari hubungan petani dengan Tuhan itu
sangat dekat. Bagaimana tidak petani itu selalu berdoa agar tanamanya tumbuh
dengan baik dan tak di serang hama. Dan bagi petani yang hanya mengandalkan
hujan, bisa jadi hampir setiap hari berdoa minta hujan. Dan model petani ini
kalau ketemu produsen krupuk bisa adu doa. Satu minta hujan satu minta panas. Tapi
semoga petani tadah hujan dan produsen krupuk tetap hidup damai dan saling
beradu doa dengan fair.
Petani di negeri kita memang di didik dar nenek moyang untuk
hidup dengan bersahaja. Mereka di latih menjadi manusia yang kuat. Kuat secara
mental dan fisik. Kalau teman-teman mau main ke desa desa yang sebagian besar
hidup dari pertanian bisa jadi teman-teman kaget. Mereka hidup dengan harmonis
dan bahagia. Ya meskipun itu tampak diluar tidak tau di dalamnya. Tapi konon
penampakan sebagaian besar menggambarkan apa yang di dalam.
Jadi doa petani kita itu sebenarnya luar biasa. Di tambah
keihlasan mereka menhadapai bagaimana kerasnya pasar. Saat belum pane komoditi
pertanian hargnya naik sangat tinggi. Giliran sudah panen eh pemerintah malah
import dari luar negeri. Opo ra loro ati kui? Nangis darah bisa jadi kalau saya
di posisi itu. Jadi doa petani negeri ini mencakup segal aspek mulai dari awal
membajak sawah atau mengolah tanah, kemudian masuk menanam, masuk masa tumbuh
tanaman dan agar terhindar dari hama, kemudian masuk menjelang masa panen was
was kalau kalau habis panen terus dipasaran malah banyak hasil import. Di tambah
doa semoga ikhlas dan tabah menjalani hdiup hahaha. Tapi anehnya mereka tetap
bisa tertawa dan cengengesan betapa ikhlas dan bersyukurnya petani negeri ini.
Bulog semoga membaca tulisan saya ini biar mereka mau membeli hasil panen
dengan harga bagus hahahhaa..
Apa yang terbesit saat kita
mendengar tradisional? Bagi sebagian dari kita mungkin akan terbesit dengan
lingkungan yang kumuh, becek, bau dan lain sebagainya. Tapi ada sebagaian dari
kita juga yang suka dan senang pergi ke pasar tradisional. Terlepas dari itu
kembali ke diri kita masing-masing menyikapi hal semacam ini. Namun tak dapat
dipungkiri di zaman yang kian modern pasar tradisional tak lagi di lirik
apalagi oleh kaum muda negeri ini. Miris? Pastinya bagi yang peduli bahwa poros
ekonomi sejatinya ada lingkungan yang paling kecil yaitu pasar. Atau bahasa
kerenya UMKM. Dipasarlah barang rakyat kecil bergerak.
Nasib pasar ternyata sekarang ini
bukan lagi sekedar di tinggal oleh rakyat negeri ini. Pasar juga sering kali di
hancurkan dengan cara yang sangat menyakitkan hati kecil kita. Semua tahu image
pasar tradisional pasti terbakar. Seakan tidak ada cara lain selain membakar
pasar untuk mematikan khasanah usaha nusantara ini. Terlepas siapa yang bermain
di balik terbakarnya pasar yang pasti orang-orang yang terlalu egois dan
serakah menyikapi persaingan usaha. Tapi kenapa harus dengan cara di bakar?
Kenapa harus dengan penyebab yang sama yaitu konsleting listrik. Semua pasar di
negeri ini yang terbakar pasrti dengan sebab konsleting listrik. Seakan
penyebab ini menjadi sangat logis. Entahlah ini adalah pekerjaan rumah untuk
kita semua.
Mall super market adalah tempat
yang sangat favorit bagi generasi masa kini. Wooooo keren, gaul. Bagiku
kemodernan sebaiknya tak melupakan tradisional. mestinya tetap berpegang teguh
pada khasanah nusantra. Beberapa hal yang harus kita ingat dari pasar
tradisional yang kini kalian semua tinggalkan.
1. Pasar Tradisional memberimu
semangat gotong royong, dipasar
tradisional kita akan menjumpai orang bersaing saling memeluk bukan saling
menikam. Kalau berat di bantu membawa. Guyub rukun dipasar tak akan kau jumpai
di mall yang kau banggakan itu.
2. Pasar tradisional memberi
ruang untuk rakyat kecil berkarya dan menjual karya. Jika kita hidup dan tak
memberi kesempatan orang lain berkembang apa lagi saudara sebangsa maka hati
nuranimu perlu dipertanyakan. Otakmu perlu ditanyakan kewarsannya. Dipasarlah
mesti kita membantu pengusaha kecil untuk terus menapaki tangga usahanya.
Pengusaha kecil, tukang ojek, becak makan. Berusahalah kesenanganmu berdampak
terhadap kesenangan orang kecil di sekitarmu.
3. Bangsa yang besar selalu tau
identitasnya sendiri, kalau kita tau identitas kita kita akan mampu menjadi
besar dan tak akan terijak-ijak. Dipasar kalian akan menemukan menu tradisional
khas bangsa kita. Jajanan pasar yang lezat dengan harga yang sangat murah.
Murah bagimu namun sangat membantu saudara kita bergerak maju. Kau makan di
mall? Kau nisbahkan untuk siapa kebermanfaatmu? Bukalah mata hatimu.
4. Banyak hal yang harus aku
tulis namun air mataku tak sangup menahan, pasar johor semarang terbakar. Tau
kah kau di sana juga banyak buku yang hangsung dan terbakar.
sekian dulu tulisan yang penuh
emosional ini saya tulis. Apapun itu kembalilah ke identitasmu sebagai
NUSANTARA. CINTAILAH PASAR TRADISIONAL.
Pagi ini aku di kagetkan dengan
daun daun yang berserakan di beranda kamar kosku. Bunga-bungapun berjatuhan
entah angin apa semalam yang membuat semua jadi kian berantakan. Sembari aku
membersihkan beranda, aku mendengar pengumuman di speaker masjid. Ada yang
meninggal seorang remaja yang masih sangat muda.
Kembali aku melanjutkan
membersihkan beranda. Tuhan ternaya punya segala rencana di balik segala hal.
Daun yang jatuh sekalipun benar-benar atas kehendaknya atas izinya. Tak peduli
daun yang masih hijau ataupun yang sudah coklat menua. Jika Tuhan sudah
berkehendak semua bisa saja terjadi.
Hidup kamu apa kabar? masih yang
selalu mengeluh seperti saya ini? selalu kahwatir yang berlebihan padahal
segalanya sudah di atur sesuai dengan kemampuan kita? Apapun ujian dan cobaanya
bukan sudah seporsi dengan kekuatan kita. Apapun masalahnya bukankah sudah
sepaket dengan solusinya? akh nyatanya saya juga masih sangat khawatir dan
takut.
Barangkali memang manusiawi
mearasa takut dan khawatir dengan masa depan. Ya kali kamu tidak seperti saya
ini yang masih cemen tapi sok bijak dan kuat seakan hidup ini mudah. Seakan
semua hal dalam perjalanan hidup ini kita bisa merencanakan sendiri. Akh aku
kan memang suka begitu begitu tidak sesuai dengan apa yang di inginkan saya
selalu menyalahkan Tuhan.
Apa yang baik buat kamu barang
kali tak baik buat Tuhan. Tapi yakin lah apa yang baik buat Tuhan pasti baik
buat kamu. Hidup harus selalu siap dengan segala resiko yang kita ambil. Kalau
kita selalu siap dengan segala resiko kita tak akan terlalu sakit hati
menyikapi kehidupan ini.
Ada yang ditangisi dari kepergian
senja yang terenggut mentari. Keindahan jingga dan kemuning langit di barat
bumi. Seorang gadis termangu duduk diantara pepohonan cemara dan pinus.
Mengingat doa-doa yang ia panjatkan setiap saat kepada Tuhannya. Kedatangan
kekasihnya dari negeri doa yang tiap siang dan malam dia panjatkan. Seorang
laki-laki yang selalu dia doakan datang dan menemuinya. Laki-laki yang tak
pernah dilihatnya di dunia nyata. laki-laki yang hanya ada di dalam mimpi dan
doa-doanya. Alasan apa yang membuat gadis ini tiba-tiba jatuh cinta dan merasa
memiliki laki-laki yang hanya ada dalam dunia khayal dia mungkin hanya dia dan
seorang laki-laki itu saja yang tahu.
Sebut saja dia bernama senja,
gadis cantik dari negeri andalas. Berfrofesi sebagai pekerja rumah sakit
swasta. Kebehagian selalu menyelimutihari-harinya. Sesekali dia terdiam bukan
karena sedih namun sekedar bertafakur. Mengingat betapa kehebatan Tuhan
mengirimkan cinta kepada nya. Yah cinta kepada orang yang tak pernah sekalipun
dia temuinya. Jatuh cinta memang tak pernah direncanakan bagaimana itu bisa
terjadi atau itu bisa ada. Semua sudah diatur dengan sangat elegan oleh Tuhan.
Hari itu tepat tanggal 10 Bulan
November 1930. Tepat dia berusia 26 tahun. senja mulai realisitis tentang
cintanya. Kebahagiaanya tak boleh bergantung kepada siapapun. Apalagi kepada
laki-laki yang tak pernah dia temuinya di dunia nyata. hari itu dia memutuskan
untuk mulai menjalani hidupnya dengan tanpa berharap pada sosok laki-laki itu.
Tetiba seminggu setelah itu ada
secarcik kertas yang tergeletak di kursi di bis yang dia pergunakan sebagai
angkutan tiap kali dia berangkat dan pulang kerja. kertas itu bertuiskan
seperti ini :
Senja barang kali kita tak pernah
bertemu di dunia nyata, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku.
Aku tak lagi berharap kepadamu
senja, aku memilih kebahagiaanku. dan semoga Kau pun bisa memilih kebahagianmu.
Aku pergi dan akan terus pergi
dari kehidupanmu. Sebarapa pahitnya itu, aku akan pergi karena aku tak mau
terus menggoreskan luka dan menyiraminya terus dengan air matamu yang lebih
asin dari air laut.
Aku berdoa semoga impianmu,
cita-citamu kesampaian. Lupakan lah tentang es cream itu. Lupakan lah kalau
kita pernah bermimpi jalan dan menikmati sore hari dengan anak-anak sembari
tertawa menikmati es cream kita yang sudah meleleh.
Aku minta maaf untuk semua janji
yang tak ku penuhi. Aku minta maaf karena telah mencintaimu. Aku minta maaf
telah hadir dalam kehidupanmu. Bahkan hadir dalam doa-doamu yang suci itu.
Tapi senjaa, kau pernah bilang
bahwa hidup harus terus berjalan. seperti layaknya bumi. Jika berhenti semua
akan jadi kacau. Alam akan hancur jika sedetik saja bumi berhenti. Hidup pun
begitu kan? sedetik saja kita mencoba berhenti kita kan kehilangan segala hal.
Ada banyak harapan yang harus kau raih di sana. Ada banyak hal yang harus kau
penuhi. Lupakan lah aku di dalam doamu. Lupakan lah aku dalam setiap tetes air
matamu.
Senja mungkin Tuhan tak akan
mempersatukan kita di dunia nyata. Aku dan kamu akan menjadi bagian dari
khalayan. Aku pernah bahagia dan tertawa bersama kamu. Aku pernah merasa yakin
bahwa kelak kamu dan aku akan hidup di sebuah desa yang damai. Kita pernah
berdebat untuk tak memelihara kambing. Senja semoga kelak kita akan berjumpa
dalam Renacana Tuhan di kehidupan yang tak aku tahu kelak.
senja aku yakin kau akan
menemukan tulisan ini karena aku yakin kau menegrti betapa menyakitkannya
merindui. Tapi akan jauh menyakitkan ketika kita saling berharap pada hal yang
tak pasti. Aku pergi senja kau harus pergi karena gelap akan merenggutmu jika
tak kau pergi dari sini. Kau akan selalu indah sampai kapanpun, sampai aku mati
aku akan mengongatmu sebagai senja yang hiasi soreku.
Menjelang
pemilihan umum yang diadakan besok tanggal 9 April saya mungkin menjadi seorang
warga negara yang bisa disebut tidak ikut membangun negeri. Iyah orang yang tak
mencoblos dinegeriku Indonesia disebut orang yang tak ikut serta membangun
negeri. Orang yang tak ikut andil memperjuangkan nasib bangsa. Atau terserahlah
apa namanya. Namun saya memilih jalan saya sebagai kau putih. Kaum golput, kaum
yang sangat di benci oleh para caleg. Caleg itu calon legeslatif, orang-orang
yang berlomba, bersaing memperebutkan kursi jabatan sebagai wakil rakyat. Konon
si wakil rakyat entah apa kerja besok namanya tetap wakil rakyat.
Namanya
sebenarnya sudah sangat mulia sebagai wakil rakyat. Wakil dari semua rakyat
baik yang memilih atau tak memilihnya. Jadi wali murid satu anak saja sudah
bangga apalagi jadi wakil rakyat banyak yak? Apakah caleg yang sudah jadi besok
itu bakal sebahagia wali murid atau wali kelas? Akh sayang saya tak punya
sahabat seorang wakil rakyat jadi tak pernah menanyakan hal semacam ini.
Pemilihan
umum tahun 2014 meneurut beritanya menghabiskan dana sekitar 26 T. Wiuuh angka
yang luar biasa. Itu biaya resmi buat menyelenggarakan pesta 5 tahunan ini dari
mulai persiapan hingga akhir pemilu. Tapi tidak tahu kalau dikalkulasi dengan
biaya parpol kampanye. Atau legeslatif berkampanye mengeluarkan biaya jutaan
menggaet masa. Dengan biaya yang begitu besar pesta 5 tahunan ini bisa menjadi
pesta rakyat yang sangat luar biasa. Pesta rakyat untuk mengangkat orang
menjadi wakilnya. Dan kelak wakilnya itu juga yang akan membunuh rakyat secara
perlahan dari mulai potong jari kakinya hingga ubun-ubunya hingga mati.
Memang
sungguh menyakitkan hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, memilih salah tidak
memilihpun salah. Mau memilih lah yang dipilih tak sesuai kriteria kita. Bukanya
memilih itu harus sesuai selera? Nah kalau tidak ada yang memberi selera masa
iya kita dipaksa mau suka. Contoh gampangnya gini saja, didepan anda disajikan
aneka kotoran hewan dari yang paling tak berbau hingga yang paling bau apakah
anda akan memakanya meski bukan makanan anda. Hanya jika anda orang gila yang
mau makan sesuatu yang kita anggap kotor. Mohon maaf bukan bermaksud
mengeneralisasikan caleg yang baik dalam kubangan manusia kotor. Namun orang
yang bersih ketika masuk dalam kubangan kotor akan terkotori.
Memang
banyak orang yang baik di negeri ini. Banyak orang yang memperjuangakan
kebenaran di negeri ini. Tapi rasanya sia-sia memperjuangan kebenaran di negeri
pengadop demokrasi yang kebelinger. Menyerahkan kebenaran pada suara terbanyak
adalah pilihan yang fatal. Apalagi yang memilih bukan orang yang memiliki
kredibilitas dalam kebenaran tersebut. Yang ada sekedar orang yang berebut
kebenaran kemudian akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki suara terbanyak. Entah
mendapatkan suara tersebut dari membayar orang atau dengan cara curang lainya. Namun
point terpentingya kebenaran di negeriku hanya di dasarkan pada suara
terbanyak. Bahkan kalaupun penemu teori-teori zaman dahulku hidup diIndonesia
mungkin tak pernah ada teori galileo atau teori lainya yang secara mayoritas
ditolak.
Negeri
ini gagal menggunakan ideologi nya sendiri dan memilih mengadopsi paham dari
luar. Nenek moyang kita dan bahkan di masing-masing agama terutama Islam
mengajarkan untuk bermusyawarah. Bermusyawarah untuk menentukan suatu pilihan,
masing-masing mengadukan kebenaranya an faktanya. Dipilih orang yang ahli
dibidangnya untuk mengarahkan jalanya musyawarah. Nah kalau sekarang? Orang yang
bukan pada bidangnya pun sok ngoyo memeperebutkan jabatan atas nama wakil
rakyat.
Itulah
karena kebenaran hanya didasarkan suara terbanyak.. miriss.. semoga negeri ini
semakin baik entah kapan saat itu tiba. Tapi setidaknya kita sendiri yang
memulai berpikir lebih cerdas, lebih kritis terhadap segala hal yang ada
dilingkungan sekitar kita.
TANYA jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak
dinyana anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak
meningkatkan nada suaranya.
”Saya sangat kecewa mengapa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap
sedemikian lunak kepada orang-orang yang dating ke kuburan untuk meminta
angka-angka buntutan! ” ia menuding-nuding , ”Itu jelas syirik, saya sebagai
warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya yang sejak kelahirannya
bermaksud memberantas segala tahayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus
memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah
penghabisan!”
Bapak ustadz terkesima.
Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun
”semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajaknya Chairul Anwar
”Aku” atau ”Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltage suaranya meningkat?
Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat
perjuangan dari generasi satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk
soal macam apa semangat itu mesti di terapkan, adalah soal kedua.
”Adik manis, maafkan saya kalau memang khilaf,” bapak ustadz berkata dengan
lembut, ”Tapi saya berharap aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga
tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk tidak terlalu dingin
terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuuwun sewu, saya melihat ada sesuatu
yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke
dalam es dawet…”
Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.
”Syirik ya syirik, tapi orang masuk kuburankan macam-macam maunya. Ada yang mau
cari tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekedar
menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta
barang-barang seperti yang diminta tetangganya. Terus terang saya juga sering
masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat
jenuh oleh acara macam yang kita selenggarakan mala mini, jenuh di undang
kesana-kemari untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni
pertanyaan-pertanyaan yang khas kaum muslimin abad-20 dari ’apa hukum merangkul
rambut’ sampai ’memandang wanita itu zina apa tidak’, atau jenuh dengan
pemikiran-pemikiran puber akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan
itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk
merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan.
Apakah buang-jenuh di kuburan syirik?”
”Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda ”saya berbicara tentang orang yang
minta-minta di kuburan.”
”Baiklah,” lanjut pak ustadz. ”Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa,
tidak di kuburan atau kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang,
jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu
anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya saya
juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”
”Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.
”Bikinlah proposal untuk meminta biaya siapa saja yangsebenarnya suka
mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita
memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung
Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali
harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% peanggan kuburan
adalah orang-orang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya
perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancer.
Di samping itu syukurlah posisi social Anda. Anda termasuk dia antara sedikit
anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah
sampai perguruan tinggi. Karena Anda bersekolah sampai perguruan tinggi
sehingga anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih
rasional. Harapan anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil.
Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah,
para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupn menjumpai persoalan-persoalan
umum yang menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan
berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang
memperbincangkan kepentingan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik….”
Seperti ari bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.
”kalaupun anda ogah terlibat bekerja dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau
tempat-tempat lain yang anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemampuan
itu, anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya
masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis
ketergantungan terhadap dana luar negri di mana anda bisa numpang makan, minum,
mrokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas
proposal agar secara pasti anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan
langkah ketiga, menyusun kecanggihal lembaga anda sedemikian rupa sehingga anda
sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan
memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme
perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat anda.
Kemiskinan adalah export non-migas yang subur bagi kelompok priyai pembebas
rakyat di mana anda bisa bergabung…”
Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.
”dengan demikian anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat.
Hal-hal semacam itu tidak bisa di lakukan oleh orang-orang miskin yang hendak
anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada
Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan
hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa
pada orang kecil yangmelarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”
Suasana pengajian menjadi semakin senyap.
”Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi.
”Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau
apakah yang dituhankan orang di negeri anda ini? Apa yang di dambakan orang
melebihi Tuhan? Apa yang di kejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang di takuti
orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang
seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orangtunduk, patuh dan loyal sepenuh
hidupnya kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi
perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan
dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran social Anda, pikiran
politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan structural Anda…”
Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.
”Berankah anda berangkat membrantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh
kekusaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah anda berperang melawan diri Anda
sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah”
Sanggupkah Anda mengalahkan obesis kehidupan Anda sendiri untuk merintis
peperangan-peperangan yang sedikit punya harga diri?”
Napas mulai agak tersengal-sengal.
”Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bukankah Anda tampak
bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah
terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang
terancam oleh badai api sehingga menyingkir kekuburan sepi. Itu karena mata
pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh para ulama-ulama yang
memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencici
mata umatnya, kecuali persoalan yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda
sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu di terapkankan
pada hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah solat lohor
apa belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pake jilbab atau
belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film
citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk
persoalan-persoalan yang lebih luas. Anda tidak pernah mempersoalkan bagaimana
sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang tiap hari Anda pakai
sembayang. Anda marah pada Cristine hakim tidak pakai jiblab padahal ia
muslimah, tetapi anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan
lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan
social yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya
wajib dalam perhitungan makro structural. Anda hanya sibuk mengurusi
sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon
sifatnya… ”
”Pak! Mengapa jadi sejauh itu….?” Sahut sang pemuda.
”Dengar dulu, anak muda!” tegang wajah sang bapak. ”Itu yang menyebabkan Anda
tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat
kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat sesorang mencuri. Anda
hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas
konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya….”
”Apa-apaan ini, Pak?” sang pemuda menyelonong lagi.
”Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan. Dalam rasa ketidakmungkinan
menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai
wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian cermin yang mampu
menyodorkan halusinasi kemenangan kita. Kalau kita tak punya biaya untu knaik
haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan mereka telah naik haji.
Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk kita taklukan.
Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah, kita
berduyun-duyun ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut, diskotik si
Boy,atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur.
Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tan sanggup bersandar pada
udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf
dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam
tempurung. Naluri kekuasan kita tumpahkan dalam tempurung. Kita menjadi
”negara” dalam pesta syairiat dangkal umat di sekeliling kita. Kita mengawasi
muda-mudi yang berboncengan motor, kita menepon pasien-pasien kita di pagi buta
untuk mengecek apakah dia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik
apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi
puritan, menjadi ”manusia amat lokal”. Kita mendirikan kekuasan baru di mana
kita adalah penguasanya… ”
Sang pemuda tak bisa tahan lagi, ”Maf, Pak! Berilah saya sedikit peluang…”