Sebulan ini pohon-pohon agak nya berpesta. Kekeringan yang beberapa bulan mengacam kelangsungya kini sudah mulai berlalu. Hujan datang mengguyur membasahinya, memberikan nyawa energi baru. Putik pun perlahan mulai berkembang. Daun yang tadinya runtuh kini mulai bersemi kembali. Batang yang menyendiri kini mulai di temani warna hijau. Ranting kini tak perlu lagi merasa kesepian, tak perlu lagi takut terpapar sinar matahari yang dahulu menghangus kan tubuhnya.
Daun dan ranting kini kembali berteman lagi. Membicarakan segala hal yang dahulu sempat hadir dan pergi. Ranting berbulan-bulan setia dan berdoa agar daun kembali. Agar hujan menumbuhkan kembali daun pasangan yang sempat hilang itu. Sungguh mesra sekali obrolan mereka ini. Bersatunya mereka begitu terasa manfaatnya, pohon kini jadi lebih siap tumbuh. Dia juga dapat memberi tempat bagi burung tinggal. Memberi tempat berteduh juga bagi siapapun yang hendak berteduh dari terik dan hujan.
Daun dan ranting adalah pasangan yang selalu ikhlas menerima segala kemungkinan buruk yang kelak akan terjadi di masa datang. Dia sadar bahwa segala hal tercipta dari ketiadaan dan akan kembali ke arah tiada lagi. Sebelum memutus kan memiliki, ranting terlebih dahulu memiliki kesadaran bahwa kelak dia akan di tinggalkan. Kesadaran bahwa waktu yang di miliki adalah sementara. Keputusan memilih membahagiakan satu sama lain saat ini adalah pilihan terbaiknya.
Ranting tak pernah protes agar daun tetap tinggal menemaninya sampai habis usia. Karena gugur adalah kepastian. Daun juga tak pernah tak ikhlas melindungi sang ranting. Dia tak pernah protes bahwa peranya hanya melindungi dan akan mati begitu saja kala musim berganti lagi. Yang dia tahu bahagia ranting adalah bahagianya juga. Dia tak pernah menyesal tercipta sebagai daun. Dan rantingpun tak pernah jumawa bahwa dia tercipta sebagai ranting. Selagi bersama daun ranting selalu memberi asupan makanan yang tersalur melewati celah-celah tubuhnya. Dia juga rela mati duluan takala ada yang tega menebangnya. Dia rela menjadi yang pertama terluka agar yang lainya tak tersakiti.
Ah itu cuma bisik dan obrolan ranting dan daun yang terlalu hiperbola saya menggambarkannya. Tapi andai manusia bisa seikhlas itu menjalani kehidipan ini. Mungkin kita akan hidup dalam ketaraturan. Kita akan hidup dalam energi saling menyayangi, saling berkorban dan ikhlas andai kan waktu mengambil segala hal dari kita saat ini.
Hmmm mencintai seikhlas ranting dan daun, bahagia kali yah? Cinta yang tak pernah menghakimi satu sama lain. Cinta yang memgambil peran untuk saling memberikan rasa aman dan bahagia. Cinta yang tak pernah menuntut apapun. Cinta yang tanpa sebab apapun dan syarat apapun. Cinta yang tak pernah mempeduli kan segala hal di luar dari mereka.
Namun percayalah, ada kok manusia yang memilih jalan itu. Jalan ikhlas. Memilih kehilangan sebelum segala halnya di miliki. Manusia yang meski terus di ciderai tapi tetap tangguh dan tetap berbagi. Manusia yang di sakiti tapi tetap mau berbuat baik. Manusia yang memilih tugas menjaga, menemani dan tak peduli bisa memiliki atau tidak. Yang dia tau saat ini, di sini dan bersamanya. Bukan karena dia pengecut atau pecundang. Tapi dia sadar bahwa akan banyak luka ketika egonya menjadi Tuhan atas segala tindakanya. Dia hanya berdoa bahwa kelak musim akan berganti dan yang di cintai akan kembali entah sebagai apapun. Ini seperti ranting yang berdoa agar daun kembali mesti dia akan luka lagi di tinggal pergi. Rasa ikhlas barang kali seperti itu. Andai kita bisa seperti itu yah? Seperti ranting yang selalu percaya bahwa takdir tak pernah salah alamat. Bahwa Tuhan tak pernah salah memberikan bahagia, seberapa lama waktunya. Yang dia tau dia bersyukur.
Bisik Ranting itu seperti ini.
"Aku akan selalu ikhlas menerima segala hal, karena gugur adalah kepastian. Saat ini kau bersamaku, aku tak peduli seberapa berat bebanku menjagamu agar bersamaku. Akupun juga tak peduli seberapa kencang angin mencoba merebutmu dariku. Kau akan menjadi bagian dalam hidupku. Kalau kelak engkau gugur akupun kelak akan menyusulmu kembali ke bumi. Memberi manfaat bagi siapapun yang kita temui. Daun, jangan pernah memikir kan apa yang tak bisa kau lakukan. Mari kita saling menjaga satu sama lain. Agar tugas kita menghadirkan rasa manis ke dunia rampung. Kau tau kan ketika kelak buah sudah ada, orang akan melupakan kita dan mereka hanya akan membicarakan buaj saja. Yuk ikhlas saling mencintai satu sama lain yuk"
Tetiba kaget ternyata saya melamuni seseorang, heheheheh. Dia yang tetiba jadi sumber inspirasku nulis, sebut saja dia Dewi.
Tuhan, aku tahu aku telah salah jalan.
Tuhan, aku tahu aku telah terlalu jauh untuk terus mengukir luka yang mungkin tak akan bisa lagi di obati.
Luka yang tak mungkin bisa di tambal lagi.
Tuhan, si pengecut ini memang seperti ini.
Berperilaku dan bersikap yang terus melukai hati seseorang.
Tuhanku, cabut saja rasa yang begitu mendalam ini.
Hapus lah saja Tuhan perasaan yang terus di salah kan ini.
Tuhan,,
Andai saja si pengecut bisa memilih. tak akan pernah si pengecut ini jatuh sedalam ini dalam kesalahan.
Tuhan,
Mestinya hatiku tak perlu sakit, dengan kata-kata lagi.
Tak perlu terlukai dengan perlakuan orang lain lagi.
Tuhan,
Si pengecut ini apakah tak layak sebentar saja memberi kan bahagia?
Tuhan,
Kau memberikan segala rasa ini
Tuhan Engkau lah yang berhak mengambil segalanya dari hati dan pikiran ini.
Tuhan,
Si Pengecut ini mestinya tak perlu berduka dengan caci maki dan label-label lain yang di sematkan.
Karena memang si pengecutpba ini, manusia yang tak berguna apa-apa.
Pengecut ini yang tak sedikitpun pantas hadir di kehidupan indah seseorang.
Tuhan,,
Hapus lah segala nya.
Karena kebaikan apapun memang tak pernah jadi baik.
Tuhan,
Jangan karuniakan lagi rasa apapun kepada si pengecut ini.
Keras kan saja hati si pengecut ini.
Buang segala cinta, kasih sayang dan empati di hati pengecut ini.
Karena segala hal di tangan pengecut ini memang tak akan pernah jadi apa-apa.
Tapi Tuhan,,
Terima kasih,
Terima kasih telah menjadikan pengecut ini pernah merasa sangat berati.
Menjadikan pengecut ini bisa sedikit merasa dunia ini indah
Tuhan,
Izin kan pagi esok, semua rasa itu hangus terbakar dalam api amarah ini.
Izin kan besok pagi untuk memulai lagi hal baru tanpa rasa apapun.
Tuhanku,,
Izin kan untuk tak lagi menjalani hidup sebagai pecundang.
Tuhanku,
Si pengecut ini menyerah.
Tuhanku,
Si pengecut ini pergi, dan jangan jatuh kan lagi.
Agar tak akan adalagi luka lagi, air mata lagi.
Tuhan sudahi, sudahi dan izin kan pengecut pergi.
Januari, rasanya bulan ini kerap kali judul lagu. Entah yang menyedih kan atau yang membahagiakan. Januari memang menjadi awal permulaan perhitungan dalam tahun masehi. Di januari ini juga banyak resolusi-resolusi di gaung kan. Mimpi-mimpi mulai di nyalakan, ambisi mulai di tanam lagi. Ya meskipun ambisi lama di januari yang tahun sebelumnya juga mungkin cuma jadi sekedar ambisi kosong. Tapi tak masalah sikap dan rasa optimisme, pengharapan adalah sah-sah saja sebagai manusia.
Kalau kita sedang patah hati barang kali lagu nya Glend Fredly yang berjudul Januari bisa sangat menyayat hati. Lagu ini agak nya di buat untuk menyirami luka hati orang yang sedang patah hati dengan air garam. Rasa tercabik-cabik bakal kita rasakan ketika mendengar beberapa liriknya, apalagi suaranya glend yang memang matah hati banget. Di awal lirik saja rasanya sudah mak jleg. "Berat bebanku meninggalkanmu, separuh nafas jiwaku sirna." Istilah sekarang nya pergi pas lagi sayang-sayangnya, woo kalau yang pernah merasakan dunia seakan runtuh hahhaha seriuss.
Tapi ternyata Januari juga bukan cuma tentang lagu sedih ada lagu yang bisa di bilang lumayan berkonotasi bahagia. Gigi misalnya dengan lagu 11 Januari. Lagu yang yang menggambar kan kebahagian seseorang yang di pertemukan di bulan januari. Kalau kita nyanyikan lagu itu sambil boncengan hujan-hujanan, rasanya dunia cuma milik berdua dan yang lain nya cuma ngekost hahaha. Iya lah bagaiama tidak senyumu dan juga sedihmu adalah hidupku. Segala keadaan nya sudah menjadi satu, segala kelebihan dan kekuranganya kita terima.
Apapun memori kita tentang Januri, masuk di geng apapun kita. Entah Glend Fredly atau Geng Gigi Kita. Apapun memori kita berupa kesedihan atau kebahagian semua adalah jalan. Semua adalah kenangan yang sudah berlalu dan tertinggal di memori terdalam kita. Ya namanya juga kenangan itu di simpan di hadir kan sesaat saja. Jangan sampai hidup kita cuma di hantui kenangaan mulu. Bahaya, kita tidak bisa move on ke depan. Lebih parahnya selalu membandingkan terus. Tidak salah sih, cuma mari kita mulai memilih bahagia kita saat ini. Nikmati saja waktu saat ini. Yang lalu sudah biar berlalu, yang akan datang masih rahasia Tuhan. Aku sayang kamu saat ini sudah cukup. Heheh.
Hujan masih deras menemani malamku.
Di pojok angkringan sepasang kucing meneduh kedimginan.
Hiruk pikuk lalu lalang manusia menuju ke tujuan masing-masing.
Mas gondrong dengan ikhlas mengipasi bara membakar potongan jahe.
Aku termanggu duduk menikmati malam yang kejam.
Melepas segala hal yang sedari dahulu aku rawat sendiri.
Benih yang ku semai dan ku pupuk tetiba tersambar petir dan hangus terbakar.
Apinya membakar dan menggores sisi hatiku yang dahulu begitu tegar untuk melepas kan.
Aku pikir hanya pedang yang bisa melukai. Ternyata tidak setelah aku mulai mencintaimu secara terang-terangan.
Tak pernah ku merasa kehilangan sedalam kehilangan tanaman yang ku pelihara sendiri ini.
Mestinya ku sembunyikan saja tanaman baik ini dari manusia-manusia agar kehilangan ini tak perlu ku bagi. Agar kehilangan ini aku simpan sendiri. Agar air mataku dan hujan saja yang menjadi saksi bahwa kehilangamu bak sayatan sembilu yang tetiba datang dan melukai.
Tapi tak apa, hati memang harus di sakiti. Ikhlas harus di uji. Aku akan menjaga kenangam merawatnya.
Puspita seorang gadis yang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sepasang matanya tak bisa melihat apa apa. Gadis berparas manis dengan bibir yang selalu tersnyum itu tak pernah berpikir bahwa kecelakaanya berujung pada penglihatanya. Hari-harinya kini tak bisa melihat apa-apa namun hatinya dapat merasakan ketulusan seseorang. Gadis yang sedari kecil sangat di manja ini beberapa tahun menghabis kan waktunya sendiri. Dia seakan meratapi bagiamana nasibnya dia berubah setelah 3 tahun ini. Kebahagiaanya seakan telah terenggut. Hari-harinya banyak di habis kan dengan air mata.
Namun begitu lah hidup kita tak pernah tahu pasti kejadian apa di masa mendatang yang akan menimpa kita. Puspita bercerita panjang masa-masa bahagianya sembari isak tangisnya terus terdengar lirih. Beberapa hela nafasnya benar-benar mengisyaratkan hatinya terlalu terluka dan mungkin sulit untuk di sembuhkan.
Beberapa bulan ini dia merasa bahagia nya mulai muncul saat ada seorang yang selalu dengan sabar mendengar keluh kesahnya. Dia bisa bercerita panjang lebar tentang segala hal tanpa harus segan atau apapun. Dan orang yang di ajak bicaranya pun menanggapinya dengan penuh antusias dan sangat telaten memahami luka dan duka yang puspita rasakan.
Sampai pada suatu saat, beberapa hari orang yang biasa dia ajak bicara tak lagi duduk di depan teras nya. Dia merasa kehilangan dan mulai murung lagi. Emosinya kembali tak stabil rasa kehilanganya mulai memupuk luka yang sudah mulai kering. Hatinya mulai bertanya-tanya kemana orang itu pergi? Siapa orang yang selama ini datang di teras untuk mendengarkan keluh kesahnya. Dan semua pertanyaan itupun tak pernah ada jawabanya. Sampai pada beberapa hari setelahnya ada seorang dokter ahli mata yang datang ke rumahnya.
"Selamat siang mba puspita,"
Dengan kaget penuh penasaran dia meghampiri pintu dengan tongkatnya dan membuka pintu rumahnya. Dia berharap orang yang dia tunggu datang lagi.
"Iyaa, kemana saja kau selama beberapa hari ini?" Sahutnya
"Maaf mba, saya dokter egi ahli spesialis mata dari rumah sakit YAP"
"Maaf pak saya kira orang yang biasa datang dam duduk di teras saya"
"Iyya mba gak apa-apa, saya datang membawa kabar baik buat mba, besok lusa team kami akan mengoperasi mata mata mba puspita"
"Apa?? Beneran dok?"
"Iya beneran mba, besok mba akan segera kita operasi dan semua biaya nya sudah di bayar lunas oleh seorang donatur yang tak mau di sebutkan namanya"
"Siapa ya dok? Saya penasaran."
"Mohon maaf mba saya tidak bisa memberi tahu kan"
"Iya dok gak apa-apa"
"Mba istirahat yang cukup ya hari ini , besok team kami akan menjemput mbaknya, saya permisi dulu"
"Iya dok terima kasi" Puspita denga penuh penasaran dan bahagia kemudian masuk. Dia tidak sabar nunggu hari esok. Dan dia juga tak sabar untuk melihat sosok yang selama ini dengerin keluh kesahnya. Semoga besok setelah bisa melihat saya bisa mencari orang itu dan melihatnya secara langsung. Doanya dalam hati.
Hari yang di tunggupun tiba. Puspita memasuki ruang operasi selama kurang lebih 5 jam. Dan operasinya berjalan dengan lancar. Namun dia harus menunggu di rumah sakit selama kurang lebih 14 hari agar bisa menggunakan kedua matanya di luar ruangan. Dia sangat bahagia ahirnya dia bisa melihat lagi. Di dalam ruangan dia masih penasaran siapa gerangan orang yang mau menjadi donatur membiayai semua pengobatanya. Doketerpun masih bungkam tentang hal ini.
14 hari di lalui puspita dengan baik, sore harinya langit sore saat itu begitu cerah. Dia tak sabar untuk melakukan kebiasaanya melihat dan memandangi senja yang selama 3 tahunan ini tak dia lakukan. Dan betapa bahagianya dia saat bisa melijat senja lagi, air mata bahagianya jatuh di pipinya yang tak ada jerawat dan berkulit sawo matang itu. Dia sembari duduk doa terus bersyukur karena kini dia dapat melihat dunia lagi. Dia dapat menikmati senja lagi.
"Gimama mba rasanya bisa melihat lagi? " Tanya dokter yang menghampirimya di roottop rumah sakit itu.
"Bahagia banget dok, terima kasih banyak dokter sudah membatu saya"
"Mba ada yang ingin saya sampai kan mengenai sosok donatur nya mba"
"Iya dokter saya penasaran sekali"
"Sebenarnya mba kenal sama dia mba, dia sosok orang yang sangat baik. Dia adalah Keanu. Orang selalu datang di teras rumah mbanya yang setia mendengar cerita mbanya. Dialah orangnya yang menanggung semua biayanya mba"
"Dok antar saya ketemu dia dok, saya pingin melihat dia, saya mau berterima kasih ke dia dok"
"Sabar mba saya selesaikan ceritanya dulu. Keanu membiayai semua biaya rumah sakitnya dari hasil menjual ginjalnya dia. Dan sepasang bola mata yang ada di mata mba adalah sepasang bola matanya yang di sumbangkan ke mba. Dia melakukan ini karena sayang dan cintanya ke mba. Dia tidak ingin mba terlalu larut dalam kesedihan karena tak dapat melihat. Sebelum dia meninggal karena sakit, dia berpesan agar ginjalnya di jual untuk biaya rumah sakit mba. Dia sebenarmya sakit kangker otak stadium ahir. Dan bola matanya minta di pasang di sepasang mata mbaknya. Keanu sudah meninggal 16 hari yang lalu mba."
Seketika puspita jatuh dan menangis sejadi jadinya. Ternyata harapan dia untuk bisa melihat orang yang sabar itu pupus. Dan ternyata orang itu juga yang telah berkorban nyawa untuk kebahagianya. Dokterpun mencoba menenamgkanya dan mengajaknya ke peristirahatan terahir keanu. Dan sembari memberikan sercacik kertas ke puspita.
"Ini ada titipan buat mba"
Sepotongkertas itupun di bukanya.
"Honey, bahagia lah selalu nikmati lah waktu yang ada untuk bahagia. Jangan pernah menunggu hari esok untuk bahagia. Putuskan lah dalam hatimu setiap hari kamu harus bahagia dengan apapun kondisinya. Syukurilah apa yang telah Tuhan karuniakan. Dan terus lah berbuat baik. Dari orang yang setia mendengarmu Keanu.
Puspita benar-benar tak menyadari orang yang begitu tulus mencintainya sudah pergi. Dia merasa begitu bersalah karena tak sadar kalau keanu sangat jatuh hati dam cinta kepadanya. Dan ketika Puspita telah menyadari namun terlambat baginya. Bahkan dia tak bisa melihat secara langsung senyum nya. Dan tak bisa berterima kasih kepadanya yang merubah segala hal dalam hidupnya.
Di zaman yang wah wuh daaan wadow ini kita sering kali terjebak untuk menshow up kebenaran di tingkat yang tidak karu-karuan. Sering kali lebay menampilkan kebenaran ke semua orang. Apa saja, kebenaran materi, kebenaran ilmu serta intelektual dan lain-lain.
Ketika seorang chef mempresentasikan masakan hasilnya itu bukan lah kebenaran tapi kebaikan yang di presentasikan oleh chef ke halayak umum ke pelanggan. Kebenaranya ada di dapur. Semua kebenaranya ada di dapur, bumbu dan segala prosesnya itu lah kebenaran. Di simpan di dalam, sementara kebaikan lah yang di keluar kan, yang di tampilkan.
Namun sering kali kita itu kebalik, membedakan kebenaran dan kabaikan. Kita gagal memahami kebenaran sehingga sering kali terbawa nafsu untuk mengeluarkan semua isi dapur di hadapan orang lain. Pokoknya itu kebenaran ning mboten pener. Kalau bisa pawonya juga di hadap kan sekalian ke orang lain. Atau ekstream nya tai tai nya juga di hidangkan di hadapan orang lain. Entah kui nyakiti, menjijikan atau apapun yang penting bener. Semua isi dapur di kelurakan semua. Karena alesanya satu demi kebenaran.
Padahal dalam kehidupan sehari-hari sesama kita lebih memerlukan kebaikan kita dari pada mungkin kebenaran yang kita miliki. Banyak hal yang harusnya kita diam kadang suka nyerocos membeberkan tanpa kita sadar itu mulukai perasaan orang yang kita ajak bicara.
Kebijaksanaan dalam memahami porsi kita adalah seni menyayangi diri kita sendiri dengan tidak terus melukai sesama kita. Pikiran yang luas, pemahaman yang dalam tentang segala hal membuat kita terlatih untuk menempatkan segala hal dalam porsi yang pas. Tentu tujuanya agar yang kita keluarkan adalah keindahan kita dalam hidup bersama dengan siapapun.
"Haii ibu kau sudah gila kah? Ember bocor seperti itu kau bawa buat ambil air?"
Iyaa tak apa-apa pak jawabnya santai. Berbulan bulan setiap pagi dan sore nenek dewinta ini pergi ke sungai untuk mengambil air untuk mandi dan masak di rumahnya yang terletak di sebuah desa yang tandus. Cemoohan selalu hampir setiap saat dia dapatkan, dia tetep bersikukuh membawa air itu dengan ember yang rusak. Sebulan dua bulan jalan yang di lalui nenek dewinta ini mulai tumbuh, tumbuhan hijau karena setiap pagi dan sore kena siraman air yang dia ambil dari mata air. Lama kelamaan mulai tumbuh tanaman bunga, bahkan ada cabai dan tomat mulai tumbuh di sepanjang jalan yang dia lalui itu. Semua orang yang mencemoohnya pun berangsur berkurang dan mereka mulai menanam tanaman sepanjang jalan menuju sungai.
Kadang kita sering kali di anggap aneh dan gila karena orang lain tak pernah tau bagaimana kita merasa, bagaimana kita berpikir dan cuma diri kita sendiri lah yang berhak memilih jalanya. Tetap lah menanam benih kebaikan itu sepait dan sekeras apapun ujianya. Karena benih kebaikan ini lah yang menjadi nilai kita sebagai manusi. Ingat lah puncak tertinggi hidup manusia adalah manfaatnya bagi sesama dan semua.
Konon ada dua hal yang tak pernah lekang dari ingatan kita. Yang pertama kenangan akan ke indahan suatu hal. Dan yang kedua kenangan yang kurang mengenakan tentang suatu hal. Kedua hal itu memang secara tidak sadar tersimpan di longterm memory kita. Yang pastinya bisa kita kembalikan kenangan tersebut setiap saat atau ketika kita melihat hal yang ada hubunganya dengan kedua hal tersebut.
Jogjakarta barang kali menjadi salah satu kota favorite saya yang di dalamnya tentu memiliki kenangan-kenangan indah. Yang tidak akan pernah hilang dan berlalu begitu saja. Dan satu hal yang tak pernah lekang itu salah satunya kenangan di angkringan. Di samping banyak hal yang membekas di pikiran saya.
Sepuluh tahun yang lalu kenangan itu bermula. Dimana saya sebagai pemuda desa yang baru lulus sma, mencoba menginjakan kaki di kota besar bernama Yogyakarta. Di benak saya hidup jauh dari orang tua adalah momok yang sangat menakutkan. Bagiamana nanti saya makan dan lain lain. Bagaimana kalau tiba-tiba jatah uang bulanan saya yang mepet ini habis dan lain-lain. Meskipun sebelumnya saya sudah terlebih dahulu dengar kalau biaya hidup di Yogyakarta itu murah. Tapi tetap saja yang namanya makan beli itu tetap saja mengkhawatir kan hahahha. Iya murah tapi bagimana kalau porsinya cuma se sendok dan cuma nyangkol di usus besar saya. Padahal sebagai orang desa saya sudah terbiasa makan dengan porsi yang banyak. Karena bagi masyarakat desa kalau anaknya makan banyak orang tuanya senang. Dan berbagai hal tersebut terus membayangi pikiran saya. Aneh memang karena anak yang lain sibuk memilih perguruan tinggi yang bagus saya justru lebih memilih mikir cara hidup di sana dengan modal pas-pasan. Karena sudah pasti bagi saya kuliah dimana saja asal yang biaya nya murah. Itu yang ada di benak saya waktu itu.
Sesampai di Yogyakarta betapa kagetnya saya. Apa yang saya bayangkan tentang hiruk pikuk kota Yogyakarta saat itu luntur. Yogyakarta tak se extream pikiran saya. Hahahaha.. Hal pertama kali yang saya lakukan saat pertama kali turun dari bis adalah mencari tempat makan. Dan jengjeng tengah malam mau makan apa coba? Yogyakarta 2009 masih lumayan sepi di banding sekarang.
Setelah muter mencari pintu keluar terminal yang besar itu, ya terminal giwangan. Batinku menggrutu "Jancuk, terminal sak mene gedene kok pintu keluarnya angel di goleki" hahah maklum di kota saya terminal nya kecil turun dari bis bisa langsung ngojek. Sampai nya di gerbang keluar saya melihat terpal orange rame. Karena penasaran saya mampir ke tenda orange tersebut ternyata tenda jualan makanan dengan modal lampu minyak tanah. "Edan esih ono warung lampune anggo lampu minyak tanah tak pikir desaku paling ndeso jebul nang Yogyakarta esih ono" . Karena lapar saya tak pikir panjang saya pesen teh panas dan makan 4 nasi bungkus kecil (setelah berapa hari di Yogyakarta tau kalau nasi itu namanya nasi kucing) dan lauk gorengan. Mau ambil sate takut harganya mahal. Setelah selesai menanyakan harga twrnyata tidak sampai sepuluh ribu. Nasi 4 empat ribu, gorengan 3 seribu limaratus teh seribu. Edyan bener murah.
Dari situ lah awal saya memiliki kenangan indah bersama angkringan.
Dan sampai sekarang angkringan rasanya memiliki tempat tersendiri di hati saya. Lamban taun setiap kali saya duduk untuk sekedar minum kopi di angkringan saya bisa mendengarkan bapak-bapak ngobrolin berbagi hal meski mereka tidak saling kenal. Di angkringan memang memiliki ke unikan tersendiri ternyata selain tempat makan murah di sini juga tempat mengasah dan belajar berbagi hal. Di angkringan orang bisa ngobrol dari hal remeh temeh sampai geopolitik. Interaksi di angkringan ini memang samgat bagus. Rasanya tidak nyaman kalau duduk di angkringan cuma diam dan membisu. Mau tidak mau terbawa jadi ikutan ngobrol, meskipun sekedar nimpali nggah nggih nggah nggih.
Begitulah Yogyakarta dan angkringanya yang tersebar hampir di setiap sudut kota Yogyakarta, yang sekarang sudah sangat ramai dan macet. Angkringan tetap melegenda dengan tenda orange nya eh sekarang ada yang biru juga dan ada yang di branding tendanya oleh perusahaan besar .
Semoga angkringan tidak pernah punah di makan oleh zaman yang kian sadis ini. Karena sekaramg amgkrimgan model caffe sudah mulai menjamur di Yogyakarta. Namun percayalah di angkringan yamg model tenda kita akan menemukan apa yang tak pernah di temukan di tempat makan lainya. Dia bernama keramah tamahan dan kesederhanaan. Dan dari hal itu lah kenangan dan kecintaan saya ke angkringan takan pernah usai.
Setiap Manusia Memiliki Jalan Sunyinya masing-masing.
Tiada kata yang pas untuk di ucapkan selain rasa syukur. Bersyukur Tuhan masih kasih kehidupan. Tuhan masih kasih kebaikan sehingga takala mata terbuka di pagi hari kita masih melihat matahari terbit. Kita masih mendengar kicau burung. Atau suara gesekan suara sapu.
Kadang dalam perjalanan hidup kita sering kali di hadapkan pada berbagai masalah. Dan percayalah setiap kita pasti memiliki masalah sendiri-sendiri. Dan tau? Uniknya kita juga memilki cara sendiri untuk mampu dan bisa terlepas dari berbagai masalah itu bukan?
Mungkin point bukan di masalahnya. Poinya bagaimana Tuhan kasih kita solusi. Kasih kita jalan keluar. Dan satu lagi, masalahnya tak akan pernah melebihi kemampuan kita. Enak ya? Terus apa lagi yang kita khawatirkan? Heheh
Tapi kekhawatiran memang harus ada dalam perjalanan hidup kita. Khawatir dan ragu kono seperti lubang pada anak tangga. Tanpanya mustahil kita bisa sampai puncak lebih cepat.
Semoga kita selalu berikhtiar menjadi manusia yang lebih baik. See you guys.
Dalam beberapa tahun terakhir bangsaku benar-benar di landa sebuah masalah besar. Bukan cuma politik, ekonomi dan budaya saja. Bangsa kita di landa narsisme akut. Manusia manusia penghuni bangsa ini secara membabi buta menempatkan dirinya sebagai manusia yang benar. Manusia yang mempunyai hak untuk menghardik orang orang yang di anggap salah. Entah berupa kata kafir atau sesat ataupun sejenisnya.
Ini bukan lah hal remeh temeh yang yang harus di biarkan terus manjadi-jadi. Karena hal semacam inilah yang akan terus menggerogoti kita dalam hidup bersama dalam kemajmukan. Yang mana satu mengklaim paling benar dan satunya lagibterus terpojokan. Konflik semacam ini sangat membahayakan dari pada perang senjata. Konflik ini mengakar kuat dan menjadikan kita terus di landa kebencian.
Ada berbagai kubu yang terus tumbuh dan berkembang dengan doktrin menganggap dirinya paling benar. Dan bahkan berhak mengkafling surga dan neraka bagi yang di anggapnya sesat. Caci makibsana sink terua berkembang terlebih di media sosial. Media yang mana manusia menjadi sangat penecut dan takbberyanggung jawab. Menggoreng informasi kemudian menyebarkannya secara tak bertanggung jawab. Bahkan sudah menjadi lahan bisnis. Iya bismis menebar kebencian di media sosial.
Entah apapun yang terjadi dinkehidupan sosial bisa dengan cepat hadir di media sosial untuk memojokan yang lainya. Padahal kalau kita mau sedikit banyak membaca beebagai hal munbkin hal semacam ini setidaknya bisa di minimalisir.
Misal dalam agama saya ada ayat di Al-quran surah al fatehah yang menjelaskan bahwa kita selalu memohon di beribpetunjuk jalan yang lurus setiap hari. Setiap detik kita harus memohon dinberi petunjuk. Kita sebenarnya di ajarkan untuk mawas diri. Dinajarkan untuk bisa rumongso bukan rumongso biso. Untuk rendah hati ketika memiliko kebenaran bukan sombong dan menghardik yang lainya.
Sungguh kalau inibterus berlanjut bukan tak mungkin anak keturunan kita kelak akan hidup dalam kehidupan yang mana satu sama lain saling curiga. Saling mengkucilkan dan lain sebagainya. Mungkin kita sebagai generasi muda mestinua perlahan mulai banyak membaca berbagai hal. Menyerap berbagai hal yang ada di dunia ini. Kita harus menjadi filter atas diri kita sendiri, di tengah over informasi yang datang silih berganti.
Tiada bulan yang paling membahagiakan selain bulan Ramadhan,
itu sih yang saya tau waktu masih kecil. Iya masih kecil,karena di usia usia
kanak-kanak hingga anak anak lah kita bisa merasakan dan menyambut ramdhan
dengan suka cita. Selebihnya hanya orang orang dengan maqom tertentu saja yang
bisa dengan sangat bahagia menyambut Ramadhan. Dan orang seperti saya ini Cuma orang
yang asal puasa,asal sholat di tambah bingungan.
Akhir-akhir ini saya sering melihat fenomena setiap kali Ramadhan
datang semua kebutuhan perut manusia mengalami kenaikan. Konsumsi kita naik hampir
100 % prosentase yang sangat tinggi mengingat kita hanya makan mungkin maksimal
2 kali itupun malam hari. Lalu kenapa ini bisa terjadi? Aku yo jane memeng
mikir koyo ngene hahaha tapi baiklah saya mencoba sedikit berbagi analisis gila
saya kenapa Ramadhan di negeriku yang sangat saya cintai ini agak sedikit lucu.
Bagi saya entah bagi sampean semua.
Bulan ramadha adalah bulan dimana seharusnya kita menahan
diri untuk berkata iya pada hal yang biasa kita lakuakan sebagai aktivitas
sehari hari yang notabene kurang baik. Bulan ini momentum untuk berani dengan
tegas mengatakan tidak untuk melakukan hal yang kurang baik.
Kenapa tidak sederhana saja di bulan Ramadhan ini? Kenapa kita
harus dengan sangat sibuk menyiapkan segala hal hanya untuk yang namanya
berbuka puasa? Semua makanan rasanya pengen kita beli semua? Sebenarnya puasa
kita kita itu untuk belajar menahan atau buka itu hanyalah balas dendam dari
keseharian kita yang tak makan apa-apa? Katanya makan makanlah hanya untuk
menegakan tulang rusuk kita? Puasa kita ini puasa balas dendam atau puasa yang
belajar menempa diri kita menjadi manusia yang sederhana dan berlebihan.
Menjelang buka kita di suguhi aneka jajanan di pinggir
jalan, dan hampir semua kota melakukan hal semacam ini. Kita justru sibuk
mencari makanan ketimbang berdoa menjelang senja. Jalanan macet total semua
manusia berlomba mengumpulkan makanan sebanyak-banyak nya, setelah itu apa itu
makanan di makan semua? Ini yang menyebabkan konsumsi dan pengeluaran kita naik
salah satunya.
Harga daging sapi katanya naik yah? Udah biasa kali g usah
kaget, menjelang Ramadhan harga daging kok bisa naik ? tau kan kenapa harga
suatu barang bisa naik? Konsumi banyak sedangkan stok sedikit? Ramadhan mbalik
lagi ke masalah perut dan perut hahaha.
Kok jadi banyak iklan obat si di bulan Ramadhan.? Katanya puasa
itu mencegah kita dari berbagai rasa sakit. Itu banyak ustadz malah jadi
bintang iklan suplemen agar puasanya kuat .hahaha memang terkadang demi uang,
prisnsip sering kalah kok. Tidak apalah saya juga sering seperti itu tidak Cuma
pak ustadz hahahha…
Kalau masalah masjid rame saya tidak berani membahas,
soalnya saya sering sholat sendirian hahaha selamat malam semoga puasa kamu dan
aku berkah. Masalah puasa di terima atau apapun biar Tuhan saja lah yang
menilai. Stop menghami dan saya juga Cuma sharing, teman teman kalau mau makan
sampai buncit yo tak masalah, tapi jangan lupa berbagi biar kenyangmu menyebar.
Monggo yang mau teraweh,.
Berprofesi sebagai petani bukan lah profesi bonafit di
negeri yang ngakunya negeri agraria ini. Petani di nergeri ini kebanyakan hidup
di bawah rata-rata. Kebanyakaan yang memilih berprofesi sebagai petani adalah
orang desa yang tidak bisa merantau ke kota. Bahkan pilihan menjadi petani
adalah pilihan kepepet karena tidak adanya keahlian selain mengangkat pacul da
nasal namam.
Namun beberapa tahun terakhir ini memang petani agak di lirik
oleh sebagai kalangan karena bermunculan petani organic di negeri ini.
Lagi-lagi sialnya tak berlaku di desa , petani di desa tetap tak mengerti apa
itu bertani tanaman organic. Tetap di pikiran mereka kalau tidak menanam padi
ya menanam jagung. Itu pun terus di tekan untuk bertanam yang baik agar
pemerintah bisa suasembada pangan. Duh kok susah bener jadi petani hehehe.
Tapi perlu kita sadari hubungan petani dengan Tuhan itu
sangat dekat. Bagaimana tidak petani itu selalu berdoa agar tanamanya tumbuh
dengan baik dan tak di serang hama. Dan bagi petani yang hanya mengandalkan
hujan, bisa jadi hampir setiap hari berdoa minta hujan. Dan model petani ini
kalau ketemu produsen krupuk bisa adu doa. Satu minta hujan satu minta panas. Tapi
semoga petani tadah hujan dan produsen krupuk tetap hidup damai dan saling
beradu doa dengan fair.
Petani di negeri kita memang di didik dar nenek moyang untuk
hidup dengan bersahaja. Mereka di latih menjadi manusia yang kuat. Kuat secara
mental dan fisik. Kalau teman-teman mau main ke desa desa yang sebagian besar
hidup dari pertanian bisa jadi teman-teman kaget. Mereka hidup dengan harmonis
dan bahagia. Ya meskipun itu tampak diluar tidak tau di dalamnya. Tapi konon
penampakan sebagaian besar menggambarkan apa yang di dalam.
Jadi doa petani kita itu sebenarnya luar biasa. Di tambah
keihlasan mereka menhadapai bagaimana kerasnya pasar. Saat belum pane komoditi
pertanian hargnya naik sangat tinggi. Giliran sudah panen eh pemerintah malah
import dari luar negeri. Opo ra loro ati kui? Nangis darah bisa jadi kalau saya
di posisi itu. Jadi doa petani negeri ini mencakup segal aspek mulai dari awal
membajak sawah atau mengolah tanah, kemudian masuk menanam, masuk masa tumbuh
tanaman dan agar terhindar dari hama, kemudian masuk menjelang masa panen was
was kalau kalau habis panen terus dipasaran malah banyak hasil import. Di tambah
doa semoga ikhlas dan tabah menjalani hdiup hahaha. Tapi anehnya mereka tetap
bisa tertawa dan cengengesan betapa ikhlas dan bersyukurnya petani negeri ini.
Bulog semoga membaca tulisan saya ini biar mereka mau membeli hasil panen
dengan harga bagus hahahhaa..
Apa yang terbesit saat kita
mendengar tradisional? Bagi sebagian dari kita mungkin akan terbesit dengan
lingkungan yang kumuh, becek, bau dan lain sebagainya. Tapi ada sebagaian dari
kita juga yang suka dan senang pergi ke pasar tradisional. Terlepas dari itu
kembali ke diri kita masing-masing menyikapi hal semacam ini. Namun tak dapat
dipungkiri di zaman yang kian modern pasar tradisional tak lagi di lirik
apalagi oleh kaum muda negeri ini. Miris? Pastinya bagi yang peduli bahwa poros
ekonomi sejatinya ada lingkungan yang paling kecil yaitu pasar. Atau bahasa
kerenya UMKM. Dipasarlah barang rakyat kecil bergerak.
Nasib pasar ternyata sekarang ini
bukan lagi sekedar di tinggal oleh rakyat negeri ini. Pasar juga sering kali di
hancurkan dengan cara yang sangat menyakitkan hati kecil kita. Semua tahu image
pasar tradisional pasti terbakar. Seakan tidak ada cara lain selain membakar
pasar untuk mematikan khasanah usaha nusantara ini. Terlepas siapa yang bermain
di balik terbakarnya pasar yang pasti orang-orang yang terlalu egois dan
serakah menyikapi persaingan usaha. Tapi kenapa harus dengan cara di bakar?
Kenapa harus dengan penyebab yang sama yaitu konsleting listrik. Semua pasar di
negeri ini yang terbakar pasrti dengan sebab konsleting listrik. Seakan
penyebab ini menjadi sangat logis. Entahlah ini adalah pekerjaan rumah untuk
kita semua.
Mall super market adalah tempat
yang sangat favorit bagi generasi masa kini. Wooooo keren, gaul. Bagiku
kemodernan sebaiknya tak melupakan tradisional. mestinya tetap berpegang teguh
pada khasanah nusantra. Beberapa hal yang harus kita ingat dari pasar
tradisional yang kini kalian semua tinggalkan.
1. Pasar Tradisional memberimu
semangat gotong royong, dipasar
tradisional kita akan menjumpai orang bersaing saling memeluk bukan saling
menikam. Kalau berat di bantu membawa. Guyub rukun dipasar tak akan kau jumpai
di mall yang kau banggakan itu.
2. Pasar tradisional memberi
ruang untuk rakyat kecil berkarya dan menjual karya. Jika kita hidup dan tak
memberi kesempatan orang lain berkembang apa lagi saudara sebangsa maka hati
nuranimu perlu dipertanyakan. Otakmu perlu ditanyakan kewarsannya. Dipasarlah
mesti kita membantu pengusaha kecil untuk terus menapaki tangga usahanya.
Pengusaha kecil, tukang ojek, becak makan. Berusahalah kesenanganmu berdampak
terhadap kesenangan orang kecil di sekitarmu.
3. Bangsa yang besar selalu tau
identitasnya sendiri, kalau kita tau identitas kita kita akan mampu menjadi
besar dan tak akan terijak-ijak. Dipasar kalian akan menemukan menu tradisional
khas bangsa kita. Jajanan pasar yang lezat dengan harga yang sangat murah.
Murah bagimu namun sangat membantu saudara kita bergerak maju. Kau makan di
mall? Kau nisbahkan untuk siapa kebermanfaatmu? Bukalah mata hatimu.
4. Banyak hal yang harus aku
tulis namun air mataku tak sangup menahan, pasar johor semarang terbakar. Tau
kah kau di sana juga banyak buku yang hangsung dan terbakar.
sekian dulu tulisan yang penuh
emosional ini saya tulis. Apapun itu kembalilah ke identitasmu sebagai
NUSANTARA. CINTAILAH PASAR TRADISIONAL.
Pagi ini aku di kagetkan dengan
daun daun yang berserakan di beranda kamar kosku. Bunga-bungapun berjatuhan
entah angin apa semalam yang membuat semua jadi kian berantakan. Sembari aku
membersihkan beranda, aku mendengar pengumuman di speaker masjid. Ada yang
meninggal seorang remaja yang masih sangat muda.
Kembali aku melanjutkan
membersihkan beranda. Tuhan ternaya punya segala rencana di balik segala hal.
Daun yang jatuh sekalipun benar-benar atas kehendaknya atas izinya. Tak peduli
daun yang masih hijau ataupun yang sudah coklat menua. Jika Tuhan sudah
berkehendak semua bisa saja terjadi.
Hidup kamu apa kabar? masih yang
selalu mengeluh seperti saya ini? selalu kahwatir yang berlebihan padahal
segalanya sudah di atur sesuai dengan kemampuan kita? Apapun ujian dan cobaanya
bukan sudah seporsi dengan kekuatan kita. Apapun masalahnya bukankah sudah
sepaket dengan solusinya? akh nyatanya saya juga masih sangat khawatir dan
takut.
Barangkali memang manusiawi
mearasa takut dan khawatir dengan masa depan. Ya kali kamu tidak seperti saya
ini yang masih cemen tapi sok bijak dan kuat seakan hidup ini mudah. Seakan
semua hal dalam perjalanan hidup ini kita bisa merencanakan sendiri. Akh aku
kan memang suka begitu begitu tidak sesuai dengan apa yang di inginkan saya
selalu menyalahkan Tuhan.
Apa yang baik buat kamu barang
kali tak baik buat Tuhan. Tapi yakin lah apa yang baik buat Tuhan pasti baik
buat kamu. Hidup harus selalu siap dengan segala resiko yang kita ambil. Kalau
kita selalu siap dengan segala resiko kita tak akan terlalu sakit hati
menyikapi kehidupan ini.
Ada yang ditangisi dari kepergian
senja yang terenggut mentari. Keindahan jingga dan kemuning langit di barat
bumi. Seorang gadis termangu duduk diantara pepohonan cemara dan pinus.
Mengingat doa-doa yang ia panjatkan setiap saat kepada Tuhannya. Kedatangan
kekasihnya dari negeri doa yang tiap siang dan malam dia panjatkan. Seorang
laki-laki yang selalu dia doakan datang dan menemuinya. Laki-laki yang tak
pernah dilihatnya di dunia nyata. laki-laki yang hanya ada di dalam mimpi dan
doa-doanya. Alasan apa yang membuat gadis ini tiba-tiba jatuh cinta dan merasa
memiliki laki-laki yang hanya ada dalam dunia khayal dia mungkin hanya dia dan
seorang laki-laki itu saja yang tahu.
Sebut saja dia bernama senja,
gadis cantik dari negeri andalas. Berfrofesi sebagai pekerja rumah sakit
swasta. Kebehagian selalu menyelimutihari-harinya. Sesekali dia terdiam bukan
karena sedih namun sekedar bertafakur. Mengingat betapa kehebatan Tuhan
mengirimkan cinta kepada nya. Yah cinta kepada orang yang tak pernah sekalipun
dia temuinya. Jatuh cinta memang tak pernah direncanakan bagaimana itu bisa
terjadi atau itu bisa ada. Semua sudah diatur dengan sangat elegan oleh Tuhan.
Hari itu tepat tanggal 10 Bulan
November 1930. Tepat dia berusia 26 tahun. senja mulai realisitis tentang
cintanya. Kebahagiaanya tak boleh bergantung kepada siapapun. Apalagi kepada
laki-laki yang tak pernah dia temuinya di dunia nyata. hari itu dia memutuskan
untuk mulai menjalani hidupnya dengan tanpa berharap pada sosok laki-laki itu.
Tetiba seminggu setelah itu ada
secarcik kertas yang tergeletak di kursi di bis yang dia pergunakan sebagai
angkutan tiap kali dia berangkat dan pulang kerja. kertas itu bertuiskan
seperti ini :
Senja barang kali kita tak pernah
bertemu di dunia nyata, aku mencintaimu seperti kau mencintaiku.
Aku tak lagi berharap kepadamu
senja, aku memilih kebahagiaanku. dan semoga Kau pun bisa memilih kebahagianmu.
Aku pergi dan akan terus pergi
dari kehidupanmu. Sebarapa pahitnya itu, aku akan pergi karena aku tak mau
terus menggoreskan luka dan menyiraminya terus dengan air matamu yang lebih
asin dari air laut.
Aku berdoa semoga impianmu,
cita-citamu kesampaian. Lupakan lah tentang es cream itu. Lupakan lah kalau
kita pernah bermimpi jalan dan menikmati sore hari dengan anak-anak sembari
tertawa menikmati es cream kita yang sudah meleleh.
Aku minta maaf untuk semua janji
yang tak ku penuhi. Aku minta maaf karena telah mencintaimu. Aku minta maaf
telah hadir dalam kehidupanmu. Bahkan hadir dalam doa-doamu yang suci itu.
Tapi senjaa, kau pernah bilang
bahwa hidup harus terus berjalan. seperti layaknya bumi. Jika berhenti semua
akan jadi kacau. Alam akan hancur jika sedetik saja bumi berhenti. Hidup pun
begitu kan? sedetik saja kita mencoba berhenti kita kan kehilangan segala hal.
Ada banyak harapan yang harus kau raih di sana. Ada banyak hal yang harus kau
penuhi. Lupakan lah aku di dalam doamu. Lupakan lah aku dalam setiap tetes air
matamu.
Senja mungkin Tuhan tak akan
mempersatukan kita di dunia nyata. Aku dan kamu akan menjadi bagian dari
khalayan. Aku pernah bahagia dan tertawa bersama kamu. Aku pernah merasa yakin
bahwa kelak kamu dan aku akan hidup di sebuah desa yang damai. Kita pernah
berdebat untuk tak memelihara kambing. Senja semoga kelak kita akan berjumpa
dalam Renacana Tuhan di kehidupan yang tak aku tahu kelak.
senja aku yakin kau akan
menemukan tulisan ini karena aku yakin kau menegrti betapa menyakitkannya
merindui. Tapi akan jauh menyakitkan ketika kita saling berharap pada hal yang
tak pasti. Aku pergi senja kau harus pergi karena gelap akan merenggutmu jika
tak kau pergi dari sini. Kau akan selalu indah sampai kapanpun, sampai aku mati
aku akan mengongatmu sebagai senja yang hiasi soreku.
Menjelang
pemilihan umum yang diadakan besok tanggal 9 April saya mungkin menjadi seorang
warga negara yang bisa disebut tidak ikut membangun negeri. Iyah orang yang tak
mencoblos dinegeriku Indonesia disebut orang yang tak ikut serta membangun
negeri. Orang yang tak ikut andil memperjuangkan nasib bangsa. Atau terserahlah
apa namanya. Namun saya memilih jalan saya sebagai kau putih. Kaum golput, kaum
yang sangat di benci oleh para caleg. Caleg itu calon legeslatif, orang-orang
yang berlomba, bersaing memperebutkan kursi jabatan sebagai wakil rakyat. Konon
si wakil rakyat entah apa kerja besok namanya tetap wakil rakyat.
Namanya
sebenarnya sudah sangat mulia sebagai wakil rakyat. Wakil dari semua rakyat
baik yang memilih atau tak memilihnya. Jadi wali murid satu anak saja sudah
bangga apalagi jadi wakil rakyat banyak yak? Apakah caleg yang sudah jadi besok
itu bakal sebahagia wali murid atau wali kelas? Akh sayang saya tak punya
sahabat seorang wakil rakyat jadi tak pernah menanyakan hal semacam ini.
Pemilihan
umum tahun 2014 meneurut beritanya menghabiskan dana sekitar 26 T. Wiuuh angka
yang luar biasa. Itu biaya resmi buat menyelenggarakan pesta 5 tahunan ini dari
mulai persiapan hingga akhir pemilu. Tapi tidak tahu kalau dikalkulasi dengan
biaya parpol kampanye. Atau legeslatif berkampanye mengeluarkan biaya jutaan
menggaet masa. Dengan biaya yang begitu besar pesta 5 tahunan ini bisa menjadi
pesta rakyat yang sangat luar biasa. Pesta rakyat untuk mengangkat orang
menjadi wakilnya. Dan kelak wakilnya itu juga yang akan membunuh rakyat secara
perlahan dari mulai potong jari kakinya hingga ubun-ubunya hingga mati.
Memang
sungguh menyakitkan hidup di negeri ini. Bagaimana tidak, memilih salah tidak
memilihpun salah. Mau memilih lah yang dipilih tak sesuai kriteria kita. Bukanya
memilih itu harus sesuai selera? Nah kalau tidak ada yang memberi selera masa
iya kita dipaksa mau suka. Contoh gampangnya gini saja, didepan anda disajikan
aneka kotoran hewan dari yang paling tak berbau hingga yang paling bau apakah
anda akan memakanya meski bukan makanan anda. Hanya jika anda orang gila yang
mau makan sesuatu yang kita anggap kotor. Mohon maaf bukan bermaksud
mengeneralisasikan caleg yang baik dalam kubangan manusia kotor. Namun orang
yang bersih ketika masuk dalam kubangan kotor akan terkotori.
Memang
banyak orang yang baik di negeri ini. Banyak orang yang memperjuangakan
kebenaran di negeri ini. Tapi rasanya sia-sia memperjuangan kebenaran di negeri
pengadop demokrasi yang kebelinger. Menyerahkan kebenaran pada suara terbanyak
adalah pilihan yang fatal. Apalagi yang memilih bukan orang yang memiliki
kredibilitas dalam kebenaran tersebut. Yang ada sekedar orang yang berebut
kebenaran kemudian akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki suara terbanyak. Entah
mendapatkan suara tersebut dari membayar orang atau dengan cara curang lainya. Namun
point terpentingya kebenaran di negeriku hanya di dasarkan pada suara
terbanyak. Bahkan kalaupun penemu teori-teori zaman dahulku hidup diIndonesia
mungkin tak pernah ada teori galileo atau teori lainya yang secara mayoritas
ditolak.
Negeri
ini gagal menggunakan ideologi nya sendiri dan memilih mengadopsi paham dari
luar. Nenek moyang kita dan bahkan di masing-masing agama terutama Islam
mengajarkan untuk bermusyawarah. Bermusyawarah untuk menentukan suatu pilihan,
masing-masing mengadukan kebenaranya an faktanya. Dipilih orang yang ahli
dibidangnya untuk mengarahkan jalanya musyawarah. Nah kalau sekarang? Orang yang
bukan pada bidangnya pun sok ngoyo memeperebutkan jabatan atas nama wakil
rakyat.
Itulah
karena kebenaran hanya didasarkan suara terbanyak.. miriss.. semoga negeri ini
semakin baik entah kapan saat itu tiba. Tapi setidaknya kita sendiri yang
memulai berpikir lebih cerdas, lebih kritis terhadap segala hal yang ada
dilingkungan sekitar kita.
TANYA jawab pengajian itu menjadi hangat. Tak disangka tak
dinyana anak muda berpeci yang lehernya berkalung sajadah itu mendadak
meningkatkan nada suaranya.
”Saya sangat kecewa mengapa dan memprotes keras mengapa Bapak bersikap
sedemikian lunak kepada orang-orang yang dating ke kuburan untuk meminta
angka-angka buntutan! ” ia menuding-nuding , ”Itu jelas syirik, saya sebagai
warga organisasi Islam yang sejak kelahirannya yang sejak kelahirannya
bermaksud memberantas segala tahayul, bidah, khurafat, dan syirik, akan terus
memberantas gejala-gejala semacam itu dalam masyarakat kita sampai titik darah
penghabisan!”
Bapak ustadz terkesima.
Isi pemikiran pemuda itu tidak aneh, meskipun bukan tidak menggelisahkan. Namun
”semangat juang”-nya ini! Apakah ia baru saja membaca sajaknya Chairul Anwar
”Aku” atau ”Persetujuan dengan Bung Karno” sehingga voltage suaranya meningkat?
Tapi marilah bersyukur. Ini yang namanya sukses pewarisan nilai dan semangat
perjuangan dari generasi satu ke generasi yang lain. Proporsi di mana dan untuk
soal macam apa semangat itu mesti di terapkan, adalah soal kedua.
”Adik manis, maafkan saya kalau memang khilaf,” bapak ustadz berkata dengan
lembut, ”Tapi saya berharap aspirasi kita tidak terlampau berbeda. Saya juga
tidak bermaksud menularkan kebiasaan orang-orang tua untuk tidak terlalu dingin
terhadap gejala-gejala. Tetapi, nyuuwun sewu, saya melihat ada sesuatu
yang tidak pada tempatnya. Pernyataan Anda tadi ibarat memasukkan sambal ke
dalam es dawet…”
Para jamaah tertawa, meskipun pasti mereka belum mengerti maksudnya.
”Syirik ya syirik, tapi orang masuk kuburankan macam-macam maunya. Ada yang mau
cari tengkorak, ada yang sembunyi dari tagihan rentenir, ada yang sekedar
menyepi karena pusing bertengkar terus dengan istrinya yang selalu meminta
barang-barang seperti yang diminta tetangganya. Terus terang saya juga sering
masuk kuburan dan nyelempit di balik gerumbul-gerumbul karena sangat
jenuh oleh acara macam yang kita selenggarakan mala mini, jenuh di undang
kesana-kemari untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas, jenuh meladeni
pertanyaan-pertanyaan yang khas kaum muslimin abad-20 dari ’apa hukum merangkul
rambut’ sampai ’memandang wanita itu zina apa tidak’, atau jenuh dengan
pemikiran-pemikiran puber akrobat pikiran intelektualnya over-dosis. Kejenuhan
itu sendiri sunnatullah atau hukum alam. Tuhan mengizinkan kita untuk
merasa jenuh pada saat-saat tertentu sebagai bagian dari peran kemanusiaan.
Apakah buang-jenuh di kuburan syirik?”
”Bukan itu maksud saya!” teriak sang pemuda ”saya berbicara tentang orang yang
minta-minta di kuburan.”
”Baiklah,” lanjut pak ustadz. ”Syirik itu letaknya di hati dan sikap jiwa,
tidak di kuburan atau kantor pemerintah. Sebaiknya kita jangan gemampang,
jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh orang. Saya terharu
anda bersedia memerangi syirik sampai titik darah penghabisan, namun saya saya
juga prihatin menyaksikan Anda bersikap begitu sombong kepada orang miskin….”
”Apa maksud Bapak?” sang pemuda memotong.
”Bikinlah proposal untuk meminta biaya siapa saja yangsebenarnya suka
mendatangi kuburan, terutama yang menyangkut tingkat perekonomian mereka. Kita
memang tahu para pejabat suka berdukun ria dan para pengusaha mendaki Gunung
Kawi, tapi siapakah pada umumnya yang berurusan dengan kuburan untuk menggali
harapan penghidupan? Saya berani jamin kepada Anda bahwa 90% peanggan kuburan
adalah orang-orang kehidupan ekonominya kepepet. Orang seperti Anda ini saya
perhitungkan tidak memerlukan kuburan karena wesel dari orang-tua cukup lancer.
Di samping itu syukurlah posisi social Anda. Anda termasuk dia antara sedikit
anak-anak rakyat yang beruntung, memiliki peluang ekonomi untuk bisa bersekolah
sampai perguruan tinggi. Karena Anda bersekolah sampai perguruan tinggi
sehingga anda menjadi pandai dan mampu mengelola kehidupan secara lebih
rasional. Harapan anda untuk menjadi pelanggan kuburan termasuk amat kecil.
Anda akan menang bersaing meniti karier melawan para tamatan sekolah menengah,
para DO atau apalagi para non-sekolah. Kalaupn menjumpai persoalan-persoalan
umum yang menyangkut ketidakadilan ekonomi, misalnya, Anda bukan merencanakan
berkunjung ke makam Sunan Begenjil, melainkan bikin kelompok diskusi yang
memperbincangkan kepentingan ekonomi dan kemapanan kekuasaan politik….”
Seperti ari bah kata-kata bapak ustadz kita meluncur.
”kalaupun anda ogah terlibat bekerja dalam jajaran birokrasi kekuasaan atau
tempat-tempat lain yang anda perhitungkan secara sistematik mendukung kemampuan
itu, anda masih mempunyai peluang non-kuburan, misalnya, bikin badan swadaya
masyarakat. Langkah pertama gerakan ketidaktergantungan itu ialah merintis
ketergantungan terhadap dana luar negri di mana anda bisa numpang makan, minum,
mrokok, dan membeli jeans baru. Langkah kedua, meningkatkan kreativitas
proposal agar secara pasti anda bisa memperoleh nafkah dari gerakan itu. Dan
langkah ketiga, menyusun kecanggihal lembaga anda sedemikian rupa sehingga anda
sungguh-sungguh bisa mengakumulasikan kekayaan, bikin rumah, beli mobil, dan
memapankan deposito. Juklak saya untuk itu adalah umumkan ide-ide sosialisme
perekonomian sebagai komoditi kapitalisme perusahaan swadaya masyarakat anda.
Kemiskinan adalah export non-migas yang subur bagi kelompok priyai pembebas
rakyat di mana anda bisa bergabung…”
Bapak ustadz kita sudah tak terbendung lagi.
”dengan demikian anda bisa selamat dari budaya kuburan sampai akhir hayat.
Hal-hal semacam itu tidak bisa di lakukan oleh orang-orang miskin yang hendak
anda berantas syiriknya itu. Mereka tak mampu membuat proposal, takut kepada
Pak Camat dan Babinsa, karena bagi mereka lebih mengerikan dibandingkan dengan
hantu-hantu kuburan. Satu-satunya kesanggupan revolusioner yang masih tersisa
pada orang kecil yangmelarat adalah minta harapan secara gratis ke kuburan.”
Suasana pengajian menjadi semakin senyap.
”Bapak ini ngomong apa?” potong sang pemuda lagi.
”Kepada siapa dan apa sajakah Allah cemburu pada zaman ini? Siapakah atau
apakah yang dituhankan orang di negeri anda ini? Apa yang di dambakan orang
melebihi Tuhan? Apa yang di kejar diburu melebihi Tuhan? Apa yang di takuti
orang melebihi Tuhan? Apa yang sedemikian menghimpit memojokkan menindih orang
seolah-olah berkekuatan melebihi Tuhan? Apa dan siapa yang mendorong orangtunduk, patuh dan loyal sepenuh
hidupnya kepadanya melebihi Tuhan? Apa yang memenuhi pikiran orang, memenuhi
perasaan dan impian orang lebih dari keindahan Tuhan? Lihatlah itu, pikirkan
dan terjemahkan melalui pikiran kebudayaan Anda, pikiran social Anda, pikiran
politik Anda, pikiran ekonomi Anda, perhitungan structural Anda…”
Suara bapak ustadz kita menjadi agak gemetar meskipun nadanya meninggi.
”Berankah anda berangkat membrantas syirik-syirik besar yang dilatari oleh
kekusaan, senjata, dan fasilitas? Beranikah anda berperang melawan diri Anda
sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah”
Sanggupkah Anda mengalahkan obesis kehidupan Anda sendiri untuk merintis
peperangan-peperangan yang sedikit punya harga diri?”
Napas mulai agak tersengal-sengal.
”Anda begitu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bukankah Anda tampak
bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik sampai titik darah
terakhir. Tetapi Anda menodongkan laras senjata Anda ke tubuh semut-semut yang
terancam oleh badai api sehingga menyingkir kekuburan sepi. Itu karena mata
pengetahuan Anda tak pernah dicuci kecuali oleh para ulama-ulama yang
memonopoli kompetisi pemikiran keagamaan, padahal mereka begitu pemalas mencici
mata umatnya, kecuali persoalan yang menyangkut kepentingan posisi mereka. Anda
sudah tahu wajib, sunat, halal, makruh, dan haram, tetapi itu di terapkankan
pada hal-hal yang wantah. Anda hanya bertanya orang sudah solat lohor
apa belum, orang ke kuburan atau tidak, si keponakan sudah pake jilbab atau
belum, mengapa Cut Nyak Dien mengelus-elus paha Teuku Umar padahal itu film
citra Islam. Anda tidak merintis penerapan kualifikasi hukum lima itu untuk
persoalan-persoalan yang lebih luas. Anda tidak pernah mempersoalkan bagaimana
sejarah politik perekonomian dari tikar plastik yang tiap hari Anda pakai
sembayang. Anda marah pada Cristine hakim tidak pakai jiblab padahal ia
muslimah, tetapi anda tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan
lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan, terhadap ketidakadilan
social yang luas. Anda tidak belajar tahu apa saja soal-soal yang kualitasnya
wajib dalam perhitungan makro structural. Anda hanya sibuk mengurusi
sunah-sunah dan tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon
sifatnya… ”
”Pak! Mengapa jadi sejauh itu….?” Sahut sang pemuda.
”Dengar dulu, anak muda!” tegang wajah sang bapak. ”Itu yang menyebabkan Anda
tidak memiliki perhitungan yang menyeluruh untuk akhirnya menemukan hakikat
kasus syirik yang sebenarnya. Anda hanya sanggup melihat sesorang mencuri. Anda
hanya tahu bahwa mencuri itu hukumnya haram, padahal melalui relativitas
konteks-konteks, pencuri itu bisa halal sifatnya….”
”Apa-apaan ini, Pak?” sang pemuda menyelonong lagi.
”Kita ini dibesarkan dalam kekalahan-kekalahan. Dalam rasa ketidakmungkinan
menang, subyektivitas kita tumbuh subur. Kalau kita bercermin dan menjumpai
wajah kekalahan di biliknya, kita ciptakan kemudian cermin yang mampu
menyodorkan halusinasi kemenangan kita. Kalau kita tak punya biaya untu knaik
haji, naiklah kita ke puncak Gunung Bawakaraeng dan mereka telah naik haji.
Kalau tak sanggup perang melawan kekuatan manusia, kita cari tuyul untuk kita taklukan.
Kalau tak ada juga peluang untuk tampil di panggung sejarah, kita
berduyun-duyun ke panggung narkotik kebudayaan di bidang ndangdut, diskotik si
Boy,atau mengangkat seorang pencoleng menjadi dermawan sehingga hati terhibur.
Kalau risi berpegang pada pilar-pilar kufur dan tan sanggup bersandar pada
udara, maka melianglah kita pada lubang sempit pengetahuan keagamaan kita yang muallaf
dan nadir. Kita tak kuat naik gunung, kita susun gunung-gunung dalam
tempurung. Naluri kekuasan kita tumpahkan dalam tempurung. Kita menjadi
”negara” dalam pesta syairiat dangkal umat di sekeliling kita. Kita mengawasi
muda-mudi yang berboncengan motor, kita menepon pasien-pasien kita di pagi buta
untuk mengecek apakah dia sudah salat subuh, kita sembahyang jamaah sambil melirik
apakah orang di samping kita sudah cukup khusuk sembahyangnya. Kita menjadi
puritan, menjadi ”manusia amat lokal”. Kita mendirikan kekuasan baru di mana
kita adalah penguasanya… ”
Sang pemuda tak bisa tahan lagi, ”Maf, Pak! Berilah saya sedikit peluang…”