Friday, November 23, 2012

Cinta itu tak Butuh Pengorbanan

0 comments
Cinta itu tak Butuh Pengorbanan

Cinta? Bicara mengenai persoalan cinta memang begitu mengasyikan. Apalagi yang nota benenya masih muda dan masih dalam proses mencari dan menemukan cinta. Cinta terkdang membuat seseorang menjadi begitu tegar dan juga bisa membuat manusia begitu tampak goblok. Sorry bahasanya sengaja saya kasarkan biar kelihatan menekan. Dan para pembaca sadar bahwa cinta seharusnya menguatkan dan memberi kebahagiaan.  
Cinta dewasa ini sering dikaitkan dengan yang berhubungan dengan hal intim baik berupa pacaran ataupun hubungan lainya.  Padahal secara hakekatnya cinta memiliki banyak makna dan denganya kita mampu tersenyum dan berkata aku sayang kamu atau sejenisnya. Baik itu untuk keluarga ataupun untuk orang terdekat kita. Namun cinta yang paling tinggi tentu hanya ke Tuhan kita pastinya.
Dari judul diatas mengkin terasa menentang terhadap kepercayaan yang berkembang dimasyarakat bahwa cinta membutuhkan pengorbanan. Padahal jika kita mau menelaah lebih dalam cinta yang tulus tak lagi memerlukan pengorbanan. Kalaupun ada tindakan untuk membahagiakan pasangan atau orang yang kita sayangi semata harusnya dilandasi karena memang cinta yang tulus. Seorang budayawan Sudjiwo Tejo mengatakan bahwasanya ketika cinta membutuhkan pengorbanan maka cinta mu itu sedang mengalami penurunan.
Iya memang benar tak kala melakukan sesuatu untuk orang yang kita sayangi semata karena kita berkorban itu ada unsur ada balasan. Padahal cinta itu ya tulus ya ikhlas ya bertanggung jawab. Berkorban identik dengan balasan yang hendak dicapai setelah melakukan pengorbanan. Contoh gampangnya, aku datang ke sini hujan-hujan semua ini aku lakuakn berkorban demi kamu. Disitu ada harapan tolong hargai pengorbanan ku. Namun jika kita melakukan segala sesuatunya karena memang cinta beda lagi kata-katanya. Aku kesini karena aku cinta sama kamu yak arena memang cinta tujuannya bukan untuk berkorban dan kemudian mendapatkan sesuatu/perhatia/balasan yang sama.
Jadi mulai dari sekarang belajar tentang rasa yang kita rasakan. Kalau melakukan sesutau hal ya sudah lakukan itu karena memang perlu melakukan itu bukan karena terpaksa atau karena mau berkorban dengan embel-embel pingin ada balasanya.

GAMBARAN CINTA
Alla SWT (Tuhan YME)






Orang Tua





Orang yang kita cintai/Pasangan/sahabat/teman dll





Diri kita harus mampu berhubungan dengan Tuhan kita juga dengan sesama atas nama cinta kita dan penuh dengan ketulusan dan keikhlasan.

Thursday, November 22, 2012

Manusia itu Sempurna

0 comments

MANUSIA ITU SEMPURNA
Aku galau, aku malu, aku minder, aku tidak bisa apa-apa. Beberapa penghakiman trehadapa diri sendiri sering sekali kita lakukan entah dengan alsan apa kita melakukan hal semacam itu. Kita cenderung mematematikan kehidupan. Hidup dipenuhi dengan membadingkan dan hnay terfokus pada kekurangan. Lebih dari itu hidup itu indah, hidup ini tidak ada yang pasti. Semua yang ada di hidup ini seatu waktu pasti bisa berubah dan mau tidak mau kita harus menyadari nya. Jika kesadaran akan kehidupan ini sudah kita tanamkan maka hidup ini akan di lalui dengan penuh irama kehidupan. Pahit manisnya tetap di olah menjadi lebih enak. 




(gambar dengan modal pas bisa muter-muter bali itu bertanda manusia sempurna dan punya banyak cara menjalani hidup)

Terkadang kita terlalu di sibukan memfokuskan diri kita pada kekurangan kita sehingga apa yang menjadi kelebihan kita terabaikanbegitu saja. Potensi kita terkubur oleh ego kita yang hanya mau memikirkan hal-hal yang mungkin kurang kita sukai atau bahkan menurut persepsi orang buruk. Perasaan semacam ini lah yang sering membuat kita menjadi under achievement.
Pandangan bahwa kita tak berguna itu sangat konyol dan naïf sekali. Setiap manusia di ciptakan sudah di gariskan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Jadi setiap manuisa memiliki potensi untuk menjadikan kehidupannya dan hidup dunia menjadi lebih baik. Namun jika yang ada manusia menghakimi dan menggerutu kepada dirinya sendiri tanpa mau merubah pandangannya. Selain itu tidak  mau menggunkan kemampuannya yang ada dunia ini makin di penuhi manusia dengan ketahan hidup yang sangat rendah.
Seperti yang telah kita ketahui angka bunuh diri dunia saat ini setiap tahunnya mengalami peningkatan tajam. Dan hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan. Ini menggambarkan terlalu banyak manusia yang putus asa terhadap kehidupan ini. Terlalu banyak manusia yang enggan untuk berterimakasih dan mau berusaha serta bangkit kembali. Yang di pikirkan hanya hasil akhir bukan bagaimana mengakhirinya dengan sebaik-baiknya dari effort atau usahanya.
Pikiran atau mind set kita telah tertanam kuat bahwa kebahagiaan itu harus perfect, dengan wajah tampat atau cantik, banyak uang, hidup mewah dan di elu-elu kan orang banyak. Sehingga ketika mendapatkan sesuatu yang berbeda sedikit / kekurangan nya, mereka langsung down dan tidak mau bangkit lagi.
Harus nya kita lebih mau membuka mata hati kita akan hakekat kehidupan ini. Kita sadari tujuan dan fungsi kita masing-masing. Kita sadari apa yang ada atau potensi apa yang ada dalam diri kita untuk kita kembangkan. Dengan begitu rasa bersyukur kita akan termanifestasi dalam wujud yang nyata berupa karya nyata. Bukan hanya di tingkatan lidah atau ucapan semata sebagi terima kasih atas kenikmatan. Lebih dari itu implementasi atas ucapanya dalam kehidupan lebih baik dari sekedar ucapan.
Bersyukur artinya mau berusaha dan mau merelakan apa yang bukan menjadi hak tubuh kita. Artinya kita jangan memaksakan apa yang bukan menjadi proporsi bagi tbuh kita. Setiap orang memiliki persepsi tersendiri dalam memandang suatu hal. Barang kali baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita, begitu pun sebaliknya. Jadi yang harus kita pahami tubuh kita memiliki proporsi dan potensi tersendiri. Jangan terlalu memaksakan memasukan sesuatu ke tubuh kita yang justru akan menambah kesusahan tubuh kita terutama hati kita. Jangan terlalu sering menggunkan hati untuk sekedar iri atas kenikmatan seseorang, dengki atas keberhasilan seseorang atau susudzon atas hasil yang di capai seseorang.
Marilah kita mulai melapangkan dada kita memandang kehidupan ini dari sudut pandang yang baik. Kita mulai menyadari diri kenali diri, ingat lah bahwasannya kekurangan itu nikmat karena memang tidak ada  kekurangan di dunia ini. Bukan kah Tuhan menciptakan kita sesuai dengan proporsi yang sangat sempurna? Tidak kah kita menyadari itu? Atau kita memang tidak mau menyadari itu? Tetaplah tegakan langkah mu di muka bumi ini jangan takut dan jangan gentar Tuhan mengiri setiap langakh mu dan Dia adalah sebaik-baiknya penjaga.

Merindumu lagi

0 comments
Aku Merindukanmu lagi
Di ujung derai air mata itu ku lalui demensi
Berhembus kencang angin dan derasnya hujan pertanda malaikat turun
Dan membawa doaku sang Kekasih
Kini waktu berlalu dan ku merindumu lagi dirasa yang berbeda
Dalam ketidakpastiaan akan pertemuan
Apakah ini kesejatian rasa cinta?
Ataukah sekedar keinginan bertemu mu kembali  karena melemahnya tubuh ini tanpa mu
Kini ku telah berbeda dan jauh darimu
Masihkah kunciku dapat ku gunakan memasuki ruang itu lagi?
Sedang kini tubuhku penuh debu dan baju yang kau beri kotor tak terurus
Kekasih aku merindumu lagi dalam dekapan nyaman malam itu
Kekasih sambutlah aku lagi
Kekasih datang dan bawaku lagi ke jalan itu
Jalan dimana ku merasa berarti untukmu
Kekasih ku merindu lagi saat bimbang dan sunyi menghampiri
Mungkinkah pertanda akan hadirnya dirimu masih bisa ku rasakan lagi?
Tapi entahlah yang pasti ku merindukanmu lagi

Indah Pada manfaatnya

0 comments

Semua akan indah pada manfaat nya
Berambisi mendapatkan sesuatu itu wajar, punya keinginan yang menggebu-gebu juga wajar sebagai manusia yang hidup di dunia yang fana ini. Namun tidak kah kita menyadari bahwasannya hal yang kita kejar belum tentu memberikan dampak atau manfaat bagi kita atau bahkan sekeliling kita? Pertanyaan semacam ini lah yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri. Sejauh mana manfaat dapat kita peroleh dari apa yang kita kejar selama ini. Apa mungkin kita hanya memenuhi nafsu atau ambisi sang diri semata. Sudah seharusnya azas manfaat harus kita bangun kembali di sendi-sendi kehidupan yang sekarang ini. Hidup di zaman yang sudah di penuhi kompetensi semata, tanpa memandang lawan atau kawan. Hidup di dunia yang  begitu tragis.
Sebuah cerita lucu namun engelitik akan coba saya bagikan kepada temen-temen semoga kita dapat termotivasi untuk hidup lebih bermanfaat.
Cerita ini bermula saat seorang pemuda  yang kerjaannya setiap hari hanya membawa sepotong kayu dari hutan dekat tempat dia tinggal. Hampir setiap hari dua sampai tiga kali dia bolak balik hutan untuk membawa potongan kayu bekas untuk di kumpulkan. Semua orang yang melihat nya selalu menertawakannya tiap kali dia lewat di hadapan mereka. Namun dengan penuh ketegaran pemuda itu terus melangkahkan kaki nya membawa potongan kayu yang berat.  Satu demi satu batang kayu di kumpulkan di gubuknya yang sederhana. Teman sebayanya kebanyakan lebih memilih menjadi buruh tani demi uang yang jumlahnya tidak seberapa. Di mata orang-orang pemuda itu di anggap pemuda yang tak memiliki masa depan yang cerah dan hanya seorang pengangguran yang kerjanya Cuma membawa ptongan kayu.
Lambat laun kayu-kayu yang dia bawa dari hutan, di potongi kecil-kecil dan dia ukir sederhana. Dengan bentuk yang bermacam-macam, mulai dari kotak, bulat dan oval. Dia bekerja sednririan tanpa di bantu oleh siapa pun. Hanya ayah dan ibunya yang setia melihat hasil karya anaknya yang kian hari kian menumpuk di beranda rumah. Dan mereka hanya mendukung tanpa mengerti banyak apa yang hendak di lakukan anaknya kelak. dan hasil yang bisa di capai dari potongan kayu-kayu kecil sepeti itu.
Setelah beberapa bulan warga desa bingung kenapa pemuda yang biasanya membawa kayu tidak lagi beraktifitas seperti biasanya. Kemudian ada beberapa informasi dari mulut ke mulut pemuda itu sudah pergi ke kota dengan membawa potongan dan ukiran kayunya. Dan dia menjualnya di kota dalam bentuk mainan anak yang uni, kerajianan pot bunga, alat-alat keperluan rumah tangga dan lain sebagainya. Dan semua karyanya laku keras di kota sehingga dia kebanjiran orderan setiap harinya bahkan dari orang-orang asing. Semua yang dia buat ternyata manfaat sangat besar, karena hanya memanfaatkan sisa limbah potongan kayu yang terdapat banyak di hutan dekat tempat dia tinggal di desa. Dan singkat cerita dia menjadi jutawan dan mampu membangun desa nya menjadi lebih baik. Memperkerjakan pemuda-pemuda sebagai pengrajin. Dan membangun jalan-jalan di desanya temapt dia tinggal sebagai sarana transportasi. Sehingga akses ke desa nya pun menajdi lebih mudah dan warga yang tadinya menertawakan kini jadi bangga dengan usahanya. Dan yang membanggakan lagi hutan dekat temapt dia tinggal tetap terjaga karena di samping selalu reboisasi dia juga hanya memanfaatkan kayu-kayu limbah.
Itulah lah bukti bahwa segala hal yang kita lakukan akan indah pada manfaatnya kelak ketika semua orang tepuk tangan bangga pada usaha kita.

Monday, November 19, 2012

Seri hidup harus berusaha 3

0 comments
Entah petunjuk apa yang hendak di berikan kepadaku oleh sang punya jiwa. sepanjang jalanku hari ini menju kampus dan kembali lagi dari kampus suasana begitu menarik perhatianku. Dari berangkat dengan nuansa mendung dan penuh kabut dingin hiruk pikuk manusia tak berkurang sedikitpun dari hari biasanya. Rasa malas yang ada mungkin terpupus oleh rasa hidup bahwa memang hidup harus berkarya atau berusaha. Berusaha menjadikan kehidupan menjadi lebih hidup.

Sepanjang jalan yang ku lalui suara nyaring dari klakson kendaraan yang tergesa-gesa dan ingin mendahului memberi nuansa yang beda dan indah. Setiap persimpangan tampak begitu rame dan sesak penuh dengan para pejuang kehidupan. Lagi-lagi memang muncul pertanyaan apa yang hendak ku lakukan? aku sudah melakukan apa? jawaban itu tak kunjung ku temukan dan hanya hujatan akan diriku yang merasa tak berguna.

Selama ini hidupku hanya dipenuhi dengan rutinitas yang ku rasakan tampak tak memberikan makna apapun untuk hidupku tau orang lain. Aku menjalani hidup bagaikan si alif kecil yang hanya mencari jalan karena tersesat. Bagaikan air yang hanya mengalir makin kebawah dan kebawah. Semakin bertambah kuantitas umurku tak di barengi dengan kualitas umurku. 

Sesampainya dikampus pagi itu, semua orang-orang nampak santai dan tanpa beban menjalani hari-hari merka. Tapi apa iya mereka tak memikirkan apapun tentang hidup? Aku masuk kelas dan berdiam dipojokan tempat yang sekarang jadi tempat favoritku. Nilai ujian tengah semester kemaren dibagikan dalam lembaran klasikal berisi tulisan acak-acakan dan tercantum angka dengan tinta merah 42/100. Angka yang begitu kecil dan berasa bodoh sekali dan rasa tak berguna itu muncul dan kembali muncul. Rutinitasku saat ini cuma kuliah - pulang untuk mendapat nilai yang bagus saja aku tak mampu. Keterlaluan gejolak jiwaku meradang, namun nyatanya itu hasil yang objektif dan tentunya dengan proses yang jeli dari dosenku.

Hari ini memang begitu penuh dengan kode-kode yang tak terungkap entah sebagai tamparan atau penyadaran akan jiwaku. Semuanya terasa kian bobrok dan hati yang kian kotor ataukah mungkin otak yang makin bebal. Entahlah jawabku lirih dalam hati. Sambil keluar dari kelas yang kian bising dengan orang-orang yang kelaparan dan pusing mengerjakan test kreaplin aku lepas canda tawa palsu.

Pulang menuju parkiran beban rasa yang ku padukan dengan tawa palsu ku lemparkan semua orang dengan harapan ku dapat menutupi betapa saat itu suasana hati sedang tak menentu. Perjalanan pulang aku menawarkan diri untuk membawa motor dengan temanku. Betapa terperangah kaget saat di perjalanan sekitar jalan magelang ku melihat nenek tua menggendok dagangan dengan susah payah namun tetap tersenyum. Berjalan lagi dipertigaan indomaret sesudah lampu merah nenek tua sedang tersenyum melayani pembeli yang hendak membeli baju bekas jualannya. Betapa seakan mereka menyadarkan ku dan seakan berkata "ayo bangit ayo bergegas", dengan simbol menutup mata aku mengiyakan semuanya.

Pikiran saat itu tak menentu samapai laju motorpun kebablasan dari rute yang biasanya kita lalui namun ku tak ambil pusing dengan terus membawa nya melalui jalan yang sedikit lebih padat dan jauh. Sepanjang jalan itu aku masih berpikir dan lampu seakan menjadi hijau semua aku melaluinya seakan tak berhenti di persimpangan jalan itu. Ini siapa yang mengatur sebenarnya? atau kebetulan belaka tanyaku penasaran. Akh mas bodoh yang penting ku sampai di kost batin ku menggerutu. 

Kridosono stadiun yang tak terurus menjadi rute perjalanan kami berdua dengan temanku. Tepat di depan ku seorang kakek dengan berjalan pincang dan dengan tongkat kayu sederhana dia membawa gerobak sampah yang melebihi kapasitasnya sebagai seorang kakek. Begitu terenyuh dan tambah tidak menentu rasa ku saat itu. Berhenti lagi aku dipersimpangan lampu merah mandala krida seorang kakek pincang dengan ingus di hidungnya yang molor mencoba menjajakan koran di mobil-mobil dan orang yang berhenti di lampu merah. Aku hanya diam dan menyebut terimaksih ya Allah semoga engkau memberi kekuatan keapada orang-orang yang ku lihat tadi dan telah memberikan pelajaran arti hidup. Seberapapun sulitnya hidup yang harus ku jalani aku harus tetap berguna bagi orang lain. Seberapa menderitanya hidup aku akan mencoba tetap tegar dan terus berusaha dengan semampuku. Dan seberapapun beratnya hidup akan ku coba tetap bersyukur kepada Engaku atas nikmat yang di berikan. Semoga Engkau melindungi hamba, keluarga hamba dan orang-orang yang hidup dalam derita. Sadarkanlah orang-orang yang menghianati hidup dan mengingkari nikmat-Mu, berilah mereka embun sebagai pendingin atas iri dan dengi kepada yang lain.

Hari ini atau nanti kewajibanku hanya berusaha dan Kau penuntun dan pereralisasi jalanku.


Sunday, November 18, 2012

Hidup harus Berusaha 2

0 comments
Apapun yang terjadi di hidup ini kewajiban kita harus tetap berjalan dengan tetap berusaha. Berusaha harus jadi sesuatu yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Kekuatan tulus dan ikhlas menjadikan usaha menjadi begitu ringan. Kadang begitu banyak manusia seperti saya yang suka mengeluh dengan dengan peliknya kehidupan. Baru gagal sekali dalam usaha rasanya sudah berakhir dunia ini. manusia seperti saya ini cenderung mengkebiri kebahagiaan dengan cara pandang yang keliru. Hidup dipandang sama dan memang harus sama dengan keinginan kita. Pandang ini yang menjadikan setiap kejadian yang terjadi di kehidupanku seakan penuh dengan lika-liku kesedihan yang tak berujung. Tapi harus bagaimana lagi? Memang kenyataannya ku tak dapat menghendle rasa yang bagiku begitu aneh. Dari kecil ku terbiasa dengan rasa seperti ini. Kenapa semakin berumur aku malah semakin bodoh mengartikan rasa hidup. Aku jadi banyak sedih dan meikirkan hal yang lebih dari ini pun aku pernah melaluinya. Rasanya menjadi anak kecil yang selalu bahagia dengan kondisi apapun menjadikan warna hidup yang berbeda menjadi pelangi hidup yang indah.

Namun kemampuan memadukan warna hidup itu berlahan mulai hilang dalam kehidupanku. Berbagai rasa dan tekanan dalam kehidupanku menjadikan ku kurang memahami dan meghargai orang lain disekitarku. Aku cenderung cuek ketika pikiran bodoh akan hidup itu datang sebagai kata yang disebut "masalah". Masalah klasik dimasa kecil dan terus menjamur dihidupku memang tak pernah ada habisnya dan harusnya ku sadar memang tak akan ada habisnya. Tapi lagi-lagi aku yang bodoh mengartikan hidupku membuat semua yang harusnya membahagiakan berubah menjadi kesedihan. Memang begitu berat menjalani hidup sebagai orang yang naif dan bodoh di kehidupan.

Jiwaku yang sebenarnya tak pernah mengalami yang namanya kesedihan dan duka. Jiwa yang mengalami kesedihan dan duka hanya jiwa yang rapuh dan memang bukan jiwa yang sejatinya jiwa. Dan itu memang harus ada di jiwa dan kehidupanku.


Saat ku melihat gambar ini aku benar-benar merasa memang ku terlalu bodoh mengartikan dan memaknai kehidupanku. Seorang nenek yang begitu tua dan rentang begitu ringan memperjuangkan kehidupan ini. Denagn kesusahan yang ada dia masih mampu berdiri tegar dan terus berusaha. Harusnya aku pun seperti itu, namun yang ku lakukan berbading 180 derajat. Kesedihan dan meratapi apa yang sedang terjadi dan yang sudah terjadi sering ku lakukan dengan berlandaskan dan dengan alasan mencari solusi. Harusnya bukan itu yang yang ku lakukan, bukan kah Tuhan selalu memiliki lebih banyak solusi dari pada masalah di hidup ini? Barang kali itu yang dipahami nenek ini. Semoga kesdaran akan rasa hidup terus ku temukan dan mampu menjadikan warna hidup ini yang berbeda menjadi pelangi hidup yang indah. 


Saturday, November 17, 2012

Inipun akan Berlalu

0 comments
Apa yang terjadi? 
Bisik ku lirih dalam hati
Ada apa lagi?
Tanya ku penasaran
Hendak kemana lagi ku bawa jiwa ini?
Tanyaku bingung
Takdir ataupun tidak nyatanya itu terjadi di hidupku
Pertikaian logika dan hati yang lagi-lagi tak pernah selesai
Kusederhankan beratnya rasa dan bebalnya logika
untuk menjawab tanya alam akan kenyataan yang ku hadapi
Aku berlari menghindar namun wujud itu tak kunjunung hilang bak bayang tubuhku
Masihkah hidayah itu ada di sela masalah dan derita
Membuka pintu hati yang kuncinya telah terpatahkan
Beri kesejukan jiwa-jiwa suci yang mendampingi
Sadarkan jiwa-jiwa yang melukai dan menghianati 
Beri ketegaran jiwa-jiwa yang membaikan prasangka 
ini pun akan berlalu bagaikan banjir kala itu besar kemudian surut dan kering
lebih dari ini aku tak pernah merasakanya
namun akan ku coba melewatinya secara perlahan


Bercerita dengan Malakaikat

0 comments
Siang hari saat itu terik panas matahari begitu menyengat panas serasa terbakar kulit yang kian hitam ini. Berhamburan manusia bak semut berkerumunan di atas gula. Hiruk pikuk insan bumi seakan tiada berhenti, laju selalu berlawan arah tiada waktu nol dalam jalanan siang itu dan mungkin selamanya. Siang itu ku bercerita bersama turunya malaikat ke bumi dengan seucap permohonan kepada Dia yang mengaturku juga malaikat. Aku tiada peduli kata orang yang kalau malakaikat turun saat hujan turun, saat terik panas mentari pun ku yakin malaikat turun untuk membawa pesan ku ke Dia. Karena bagiku di panas terik mentari saat itu ku merasa badai dan hujan datang di hidupku.  Harapan kecil dari dari ketidak tersinkronisasinya logika dan hati. semoga Tuhanku menunjukan jalan untuk ku mengarungi badai ini dan hujan di terik mentari ini,serta hidayah pembuka hati yang kian hari kian beku. Tetesan air mata yang ku kira itu busuk namun menetes dari keterpautan logika dan dangkalnya perasaan. Dimanakah hati harusku simpan atau ku buang saja jauh-jauh, agar ku berhenti merasakan perih dan hidup bak orang gila yang mengabaikan tersinkronisasinya logika dan hati. 

Berasa naif dan putus asa memang bagi orang lain yang sok menegrti kehidupan manusia, sok menjadi tuhan yang seakan serba tahu dan punya segala solusi permasalahan hidup. Aku mengurai derita dan menyambung kebahagiaan dengan caraku sendiri. Aku pun mengirim pesan dan berkomunikasi dengan caraku yang setahu ku itu tak mneyalahi kodratku sebagai mahluk. Sebagai hamba, sebagai pelayan, sebagai iblis, dan juga sebagai malaikat yang semuanya ada di diriku.


Tuesday, November 13, 2012

Mentari di Sore Hari

0 comments
Mentari di Sore Hari
Aku makin terheran melihat mentari
Tak seperti biasanya aku begitu asyik memandangi mentari yang hendak tenggelam
Warna merahnya begitu indah tertutup awan tipis berbalutkan cahaya
Sore itu juga membuatku terperanggah menatapnya
Matahari menagis di sore dan kembali tersenyum di pagi hari
Sebuah pola yang begitu romantis
Menandakan setiap pertemuan ada kesediahan dalam perpisahan
Mentari mengajarinya agar cinta yang d miliki benar-benar totalitas
Menangisnya mentari tidak membuatnya patah arang dan berhenti di sore hari
Mentari tetap tenggelam dan pergi meninggalkan bumi
Mentari sadar ada pancaran dari wujudnya berupa rembulan yang akan menerangi malamnya bumi
Mentari juga harus beristirahat menyiapkan energy untuk kembali tersenyum di pagi hari
Mentari sore tanda cinta yang tulus.:-)

Hidup itu harus berusaha

0 comments
Hidup itu harus berusaha
Apa jadinya jika dunia ini di penuhi para manusia yang malas dan tidak mau berkarya? Apa jadinya dunia ini jika manusia hanya diam dan menunggu uang jatuh? Belas kasih orang di jalanan? Pengutusan kita hakekatnya menjadi khalifah untuk bumi ini. Dengan di uusnya kita jadi khalifah tentunya kita memiliki peran yang sama. Peran yang bertujuan untuk meninggikan derajat bumi. Hidup harus berkarya dan berusaha dengan tujuan mendekat kepada sang penggenggam jiwa.
Istirahat memang perlu di lakukan oleh seorang dalam menjalani rutinitas kehidupan. Sebagai pemenuhan hak atas kebutuhan badan kita. Tubuh kita memiliki hak untuk tetap segar dan fit untuk berkarya lagi. Namun jika hanya tidur-tidur saja ya kebelingger juga.

Hari-hariku akhir-akhir ini sering di jalani dengan rutinitas yang tak memiliki makna. Hidup tak productive di tengah pencapaian puncak ku sebagai seorang mahasiswa S1. Mengerjakan skripsi yang entah tujuan dan hakekatnya yang masih ambigu bagiku. Bagaimana tidak ambigu kita di suruh mengutip karya orang lain. Kemudian hanya dituangkan di penelitian dan kita akui sebagai karya kita. Sudah gitu dosen pembimbing seakan menjadi hakim atas karya kita, kita seakan di haling-halangi. Dan dibikin sulit untuk menemui dia dan lain sebagainya. Namun kembali lagi kewajiban kita bekerja dan berkarya dengan kemampuan kita sebagai insane manusia yang memiliki peran membangun bumi yang kian mengenaskan.
Semoga hari-hariku semakin membaik, semoga keluargaku semakin baik, di mudah dalam menjalani kehidupan. Di beri jalan yang terbaik untuk menjemput rizki-Nya. Dan semoga orang-orang terdekatku semakin menjadi lebih baik. Semoga jalan kita akan menemukan titik temu di kearifan hidup.

Di Balik Kesusahan itu kesusahan lagi

0 comments
Di Balik Kesusahan itu kesusahan lagi 

Sejenak mungkin kaget ketika membaca judul yang sengaja saya tulis rasa ngawur tapi kenyataannya sepeti itu. Kadang kita terjebak dalam momentum dan imajinasi konyol dengan harapan ketika di balik kesusahan ada kemudahan. Sehingga ujung nya ketika apa yang kita lakukan tidak sepeti yang kita harapkan hasil akhirnya. Ataupun ketika kesusahaan tak berujung pada kemudahan akhirnya kita menggerutu. Dan seperti yang kita ketahui menggerutu itu ujungnya kita tidak mensyukuri nikmat Tuhan bukan? 

 Sebenarnya jika mau menelaah secara dalam-dalam hidup itu penuh dengan nikmat, hidup itu tidak ada yang susah. Susah itu kita yang membuatnya, kesusahan itu mind set kita yang membangunya. Meskipun berbagai peribahsa di elu-elu kan sebagai ideology atau sebagai harapan jika individunya memilih jalan untuk memilih rasa susah ya tetap saja di balik kesusahan itu kesusahan lagi bukan?



 Saya sangat yakin bahwasannya setiap manusia di beri waktu yang sama, di beri bentuk yang hampir sama dengan segala fungsi organ yang ada di tubuh kita. Tapi pertanyaan nya kenapa ada orang yang mudah putus asa? Kenapa ada orang yang malah tumbuh menjadi luar biasa dengan segala kondisinya? Jawabanya tentu depend on your self. Jika memilih menikmati sejenak apa yang dianggap orang-orang sebagai kesusahan niscaya kita tidak akan merasa susah tapi menikmati setiap alur nya. Kita ikuti sejauh mana yang namanya kesusahan mau menemani kita. Setelah sebentar niscaya yang di anggap kebahagiaan pasti datang juga. 

Jadi di balik kebahagiaan pasti akan datang kebahagiaan lagi yang lebih besar jika kita mau mensyukurinya. Dan setiap kesusahaan pasti ada kesusahaan lagi jika kita mengapresiasikannya dengan cara yang keliru. Ingan nikmati kesusahan seraya ikhtiar dan terus mencoba mengolah kesadaran kita akan rasa hidup dengan seperti itu kita mampu menerima dengan lapang dada apa yang di berika di kehidupan ini.

Monday, November 12, 2012

Membuka Mata Hati

0 comments
Disaat keadaan sulit menerpa, kebahagian perlahan mengikis ada saja yang bisa membuat ku bangun dan berkata aku mampu.Hal-hal kecil yang terjadi di hidupku seakan begitu berarti untuk ku. Mulai dari nyanyian anak jalanan yang kadang membuat ku malu banyak bernyanyi lagu sumbang tak bermakna di kehidupan. Orang yang meminta-minta di jalanan membuat ku seakan tercabik-cabik betapa bodohnya aku tak mau bersyukur dan selalu mencari lebih di kehidupan ini. Nenek-nenek dan kakek-kakek yang masih sangat bersemangat berjualan demi hidupnya juga seakan membuatku bertanya aku yang masih muda kok masih saja hidup manja dengan selalu meminta kepada orang tua. Kadang satu sisi ini begitu mendilema kan ku. Namun tidak bisa ku pungkiri ini juga membuatku lebih sadar bahwa aku memang harus bangkit dan lari sekencang-kencangnya mnegejar ketertinggalanku. Kehidupan yang ku tahu ada yang mengaturnya. layaknya siang berganti malam, senang dan susahpun saya yakin bergerak atas dasar perintah-Nya. Dan yang ku tahu Dia juga tanggung jawab atas apa yangdi ciptakannya. semut yang kecil saja bisa mencari makan sendiri dan di beri jalan untuk meraihnya. Dari itu idealnya aku lebih mau merubah diriku menjad lebih memantaskan diriku untu disebut sebagai khalifah. untuk pantas di sebut sebagai mahluk sempurna dalam tataran nafs. apapun alasanku untuk tidak menerima keadaan hidup itu hanyalah kesia-siaan belaka tanpa akan merubah sedikitpun dari roda kehidupan yang memang telah terdesain dengan rapinya. Aku sadar tugas kita memang berusaha dan Dia memang pemutus terbijak di kehidupan manusia. semoga apa yang ku rasakan sebagai kekurangan bukan menjadi halanagan, apa yang ku kenal sebagai kebahagian/kesempurnaan tidak membuat kita buta mata. tulisannya si emang tidak runtut dan ngawur tapi ya tidak apa-apa yang penting ada pesan yang disampaikan. nyari sendiri.:-)