Monday, June 10, 2013

Petaka di Bulan Desember

0 comments

Desember adalah bulan penuh dengan kebahagian. Di Bulan desember  cairnya gaji ke tiga belas. Bulan desember penuh dengan target atau yang sering di sebut resolusi awal tahun. Bulan di akhir perhitungan masehi ini memang di rasa begitu spesial bagi sebagian besar orang di dunia ini.
Namun bulan desember agaknya tidak begitu indah bagi si Atun. Gadis pekerja sebagai cleaning service di salah satu pabrik di kota jakarta. Sebagai seorang cleaning service Atun bisa dibilang cantik. Temen-temennya di tempat kerja sering menggodainya dengan sebutan cleaning service berparas pramugari. Tubuhnya yang tinggi dengan rambut panjang dan gigi yang tertata rapi, memang membuat atun lebih pantas bekerja sebagai pramugari. Namun apa daya pendidikan atun hanyalah seorang gadis tamatan SMP. Bisa bekerja di pabrik saja sudah bersyukur. Temen-temenya di pabrik sesama Cleaning Service memang lebih banyak berpendidikan tamatan SMA. Entah kenapa Atun bisa di terima bekerja di perusahaan tersebut. Atun datang dari sebuah desa di kecamatan paguyangan dengan bermodalkan tekat ingin merubah keadaan ekonomi keluarga.
Di desanya atun termasuk lulusan sekolah yang cukup tinggi. Pasalnya temen-temen sebaya atun tamatan SD bahkan kebanyakan tidak lulus SD. Atun di besarkan di keluarga yang bisa di bilang kental dengan agamis. Pada saat sekolah dasar paginya atun sekolah formal dan siangnya sekolah di madrasah diniyah. Sekolah diniyah merupakan sekolah untuk memperdalam ilmu agama. Jarak yang harus di tempuh pun untuk sampai di sekolah diniyah cukup jauh. 30 menitan dengan jalan kaki cepat. Melewati sungai dengan arus yang deras. Atun kecil memang penuh dengan semangat yang tinggi bersama teman-temanya dalam mencari ilmu pengetahuan.
Atun semasa sekolah dari SD, Madrasah Diniyah hingga SMP selalu mendapatkan ranking pertama. Atun memang gadis yang penuh tata krama dalam menjalankan aktivitasnya. Setiap kali berbicara dengan orang yang lebih tua dari dirinya selalu menggunakan bahasa kromo inggil. Bahsa yang dalam suku jawa menunjukan ketata kramaan. Di zaman sekarang agaknya bahasa semacam ini sudah hilang dari jiwa anak muda. Namun karena pendidikan dari orang tuanya atun mampu berkomunikasi dengan bahsa kromo ingil dengan fasih dan menunjukan betapa gadis ini penuh dengan sopan santun.
Juni 2009 Atun telah tamat dari SMP swasta di kecematan Paguyangan. Sabtu pagi saat itu orang tua Atun dengan memakai batik serasi seakan bangga menunjukan bahwa telah berhasil menyekolahkan anaknya lebih tinggi. Mereka bertiga bergegas menuju sekolah Atun yang jaraknya cukup jauh bisa di tempuh 1 jam jalan kaki. Karena memang tidak ada kendaran umum jadi jalan kaki menjadi pilihan paling tepat menuju sekolah Atun. Selain itu jalan yang harus di laluinya juga cukup terjal melalui bukit dan lembah yang kalau hujan bisa sangat licin dan becek. Namun pagi yang cerah saat itu seakan melengkapi kebahagian orang tua Atun.
Pak Sutrisno dan Ibu Saliem iya itulah nama orang tua Atun. Nama yang santer jadi pembicaraan warga desa karena meski hidup serba kekurangan namun masih bisa menyekolahkan anaknya hingga tamat SMP. Hampir semua warga dusun membicarakan Pak Sutrisno yang dengan gigih menyekolahkan Atun. Pak Sutrisno dan Ibu Saliem hanyalah seorang petani. Mereka berdua hidup hanya dengan bergantung pada tanah hutan. Tanah yang hanya bisa ditanami 2 kali dalam setahun dengan tanaman jagung. Dan di selingi dengan tanaman ubi dan pisang. Memang bukan hanya Pak Sutrisno saja yang menggantungkan hidup di hutan hampir semua warga menggantungkan hidupnya dari hasil hutan.
Pukul 13.00 WIB Pak Sutrisno, Ibu Saliem dan Atun kelihatan dengan muka bahagia meski terik mentari saat juni itu sedang musim kemarau. Dengan wajah merah-merah ciri khas orang gunung kalau terkena sinar mentari langsung merah. Belum sampai di rumah warga yang ada di jalan bertanya-tanya. “lulus gak tun? Lulus gak tun?, Ranking berapa tun?” dengan bangga meski keringat masih berkucurang Pak Sutrisno menjawab dengan latang “Alhamdulillah lulus Ranking 2”.
Rasa bangga Pak Sutrisno berlanjut malamnya dengan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Mengumpulkan warga dan memanjatkan doa di rumahnya. Menaruh harapan agar Atun bisa bermanfaat dan ilmunya bisa di gunakan dengan semestinya. Malam itu atun tampak begitu ceria serasa bebanya telah selesai. Mungkin Atun juga menyadari bahwa selesai dari SMP ini dia tidak akan melanjutkan ke SMA. Sekolah yang mungkin jadi dambaannya namun dia kubur dalam-dalam mimpinya untuk sekolah di SMA. Malam itu begitu khidmat dan penuh haru.
Dua minggu setelah Atun lulus, Atun memutuskan untuk pergi merantau ikut tetangganya yang bekerja di Jakarta. Jakarta memang bagi orang desa selalu menjanjikan. Segala impian mereka untuk menjadi kaya agaknya memang terukir di Jakarta. Dengan berpikiran semacam itu orang tua Atun pun merelakan dan mengizinkan anak Putri yang di sayanginya pergi ke ibu kota.
Malam senin tepatnya Atun meninggalkan desa dan merantau ke ibu kota. Hanya dengan mengantongi uang RP.400.000 hasil menjual kambing Atun nekat mengadu nasib di ibu kota. Dasarnya Atun memang baik, sesampainya di Jakarta tanpa menunggu lama dia di terima di sebuah Pabrik sepatu kulit. Menjadi karyawan cleaning service pabrik tak membuatnya minder atau surut semangat. Gadis yang masih di bawah umur harus di pekerjakan di pabrik. Aturan pemerintah saat itu masih membolehkan karyawan di bawah umur. Andai saja sekarang mungkin Atun tidak bisa bekerja. Karena untuk bekerja seorang harus memenuhi umur.
Hari terus berlalu sebulan sudah Atun bekerja sebagai Cleaning Servie. Saat tiba gaji pertama Atun cair. 1.000.000, uang yang nampaknya begitu besar bagi gadis desa seperti atun. Atun memang anak yang berbakti kepada orang tua. Hasil kerjanya setiap bulan dia kirimkan ke orang tuanya tentunya setelah di potong untuk kebutuhan di ibu kota yang memang begitu mencekik. Setiap bulan sembari kirim surat lewat pos Atun mengirimkan uangnya lewat wesel. Meskipun orang tuanya tidak dapat membaca dan menulis namun ada tentangga mas Abik yang biasanya membacakan surat untuk warga dusun. Mas Abik adalah guru ngaji Atun dan anak-anak dusun.
September akhir adalah lebaran. Momen yang begitu sakral dan hampir semua anak rantau pada kembali ke kampung halamanya. Semua seakan menunjukan keglamoran betapa kerja di Jakarta memang menjanjikan. Tak terkecuali Atun, sekarang Atun nampak bersih dan sudah bisa dandan. Meskipun masih berumur belasan badan Atun bisa di bilang bongsor (cepet tumbuhnya). Atun yang biasanya pake rok dari tambalan-tambalan kain kini sudah memakai jeans dan dengan kaos yang serasi. Paras Atun yang cantik memang membuat mata terpana melihatnya. Dan tak banyak mengira kalau gadis itu baru kemaren lulus SMP.
Sepekan sudah Atun berada di kampung halamanya. Sudah saatnya dia harus kembali menuju ibu kota tentunya untuk kembali mengadu nasib. Sembari berpelukan dengan ibu bapaknya Atun berpamitan.
Sesampai tiba di jakarta Atun di datangi temen-temen kontrakanya. Menanyakan oleh-oleh seperti biasanya orang yang baru pulang dari kampung. Atun mengeluarkan jajanan khas kampungnya dan dimakan bersama teman-temanya.
Bulan terus berlalu hingga akhirnya bulan desember. Iya bulan dimana cerita ini bermula. Cerita ini di hadirkan dalam goresan luka dan air mata. Atun gadis berparas cantik, klinik service dengan penampilan pramugari.
Menjelang malam pergantian tahun tanggal 31 Desember 2009. Atun pergi bersama teman-temanya untuk berlibur akhir tahun dan merayakan tahun baru 2010. Pabrik dan kantor libur dengan cuti bersama hingga 4 hari. Puncak menjadi pilihan Atun dan tema-temanya. Puncak memang selalu menjadi tempat favorit warga ibu kota ketika libur panjang. Puncak menghadirkan panorama yang begitu indah dan elok yang tentunya tidak akan di temui di kota metro politan seperti Jakarta.
Sesampainya di vila atun dan teman-temanya bergegas ke kamar dan membersihkan diri. Siap-siap untuk malam tahun baru dengan pesta kembang api. Bakaran dan jagung muda sudah siap. Tinggal di bakar saja. Minuman dari coca-cola hingga vodka tersaji di meja.
Semua bernyanyi dan begitu larut dalam pesta kecil-kecilan akhir tahun. Tibalah pukul 23.45, semua siap-siap untuk menyalakan kembang api dari berbagai ukuran dan bentuk. Semua akan teriak Happy new year. Dan apa yang menjadi petaka itu tiba. Pukul 23.55 tepatnya. 5 menit menjelang pergantian tahun baru. Kembang api telah menghiasi langit puncak malam itu. Dari berbagai vila dari berbagai sudut. Dengan warna warni menghiasi langit yang saat itu begitu cerah. Tiba-tiba tabung 3 KG lpj produk pemerintah meledak. Tabung LPG yang di gunakan untuk menggoreng naget. Yang sengaja di bawa ke taman. Harus meledak entah karena apa? Mungkin produk yang menjadi banggaan pemerintah pegganti minyak tanah ini penuh dengan permsalahan. Tabung itu mengenai muka dan sisa belahanya harus menghujam menusuk Atun dan seketika itu Atun menghembuskan nafas terakhir akibat terkena ledakan Gas LPG 3 Kg.
Gadis tulang punggung keluarga. Gadis cerdas yang harus terhenti sekolah karena biaya sekolah yang mahal yang tak bisa di jamah oleh kalangan ekonomi bawah. Gadis desa cerdas yang harus mati sia-sia karena ledakan Gas LPG 3 Kg.


Thursday, June 6, 2013

KARENA

0 comments
Karena
Bukan karena emosi puisiku tercipta
Bukan karena duka lara setiap jengkal kata ku rangkai mendayu-dayu
Bukan karena senja saja langit sore nampak indah merona
Bukan karena bahagia aku tersenyum
Bukan karena derita aku bersedih hati
Aku menulis puisi memang sudah seharusnya aku tulis
Mendayu-dayu memohon memang hanya Kau yang sanggup mendengarkan
Senja adalah perantara aku dan Kau melihat sore
Aku tersenyumpun karena Kau selalu mendekap dan menghiburku
Dan aku bersedih hati karena telah jauh namun Kau masih setia menanti hadirku
Tak pernah Kau marah meski aku datang dengan lusuh dan kumuh
Memang hidupku bukan karena apa-apa
Tetapi Kau menjadi kan hidup penuh Karena
Selamat malam aku Rindu Kekasih

Friday, May 10, 2013

Adakah Rindu lagi

1 comments


Luka baru selalu saja tertumpuk di duka lama
Tak pernah kering kubangan air mata ini
Sayatan demi sayatan tergores di relung hati yang terdalam
Pejamkan mata sudah tak lagi menutup beban
Pejaman mata hanya mengingatkan betapa bodoh dan tololnya mengarungi samudra ini
Tak kuat dikuatkan, tak tegar di tegarkan sampai kapan?
Rindu sudah tak lagi menggebu
Cinta sudah tak lagi terasa manisnya
Derita dan airmata memang sudah begitu bersahabat
Kekeliruan demi kekeliruan menghiasi warna menjadikanya pelangi
Apakah alif akan tetap berdiri atau kelak akan runtuh termakan rasa
Akankah hancur tergerus oleh putusnya asa di tengah samudra ini?
Jika masih rindu lagi kembalikan kami di beranda itu
Jika rindu lagi dekaplah dan bawalah ke sana
Tempat dimana angin, air, api dan tanah sudah menyatu
Tempat dimana berakhirnya rindu
Tempat dimana ku melihat secangkir kopi di menja menikmati senja di sore hari

Thursday, May 9, 2013

Kasih sayang yang kau salah artikan.

0 comments

Bicara masalah salah arti sebenarnya sudah sangat famikier kita itu dengan budaya salah arti. Faktor utamanya jelas karena kita terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan dalam menanggapi setiap jengkal permasalahan. Kemudian kita terburu-buru mengambil langkah penyelesaian. Yang jelas endingnya sudah bisa di tebak bukan? Kita tersiksa dengan persepsi kita yang keliru itu. Bagaimana tidak ternyata yang kita persepsikan 180 derajat berbalik dengan pandangan kita. Nah loh kalau sudah begini mau apa? Menyesali yang sudah terjadi dikira akan mengembalikan semua yang telah berlalu? Jelas tidak.
Berbicara masalah cinta dan kasih sayang saya sendiri sebenarnya juga masih ragu-ragu dan agak canggung menulis tentang topik tersebut. Bukan karena apa, saya sendiri menyadari betapa diri saya ini masih jauh dari rasa peka terhdap rasa kasih sayang yang barang kali di berikan oleh orang lain. Disamping itu juga yang namanya perasaan itu bersifat sangat subjektive. Kita bisa sangat lihai dan pandai dalam bermain-main memakai kedok kita dalam menutupi apa yang kita rasakan. Itu sebabnya membahas perasaan memang tiada habisnya dan akan selalu menjadi pembahasan yang menarik.
Kasih sayang dan cinta yang di berikan oleh orang lain memang kerap kali berbeda-beda. Itu sebabnya kenapa manusia sering kali terjebak dalam miss perception. Orang yang dengan tampang galak bisa jadi dia justru memiliki rasa kasih sayang yang luar biasa terhadap kita. Atau mungkin sebaliknya. Jadi semua memang tidak serta merta kita tarik kesimpulan dengan pengetahuan kita apalagi hanya dari maujud seseorang. Kemudian kita simpulkan baik dan buruk. Hati-hati pandangan semacam ini juga jangan sampai membuat kita juga terjebak untuk menilai kasih sayang Tuhan. Waah bahaya sekali kalau seperti itu.
Pandangan yang keliru dalam menanggapi suatu hal memang terkadang begitu menyesatkan apa lagi kalau telah menjadi habit. Saya mencoba menjabarkan beberapa analogi cerita. Seorang ayah sedang bercanda dengan anaknya di ruang beranda. Tiba-tiba anaknya menjerit nangis. Sontak seisi rumah kaget dan lari ke beranda apa yang terjadi pada anak tersebut.? Ternyata di beranda hanya ada si anak dengan ayahnya yang malah justru sedang tertawa. Dan di tanya kenapa ade nangis kencang seperti itu? Tanya si ibu. Ayah mencubit pantatku bu. Anak laki-laki yang gendut dan gemesi itu menjawab dengan tersendu-sendu. Apakah ayah ini penjahat anak? Apakah ayah ini tidak sayang kepada anaknya? Tentu saja jawabanya ayah ini sayang banget dengan anaknya. Tetapi kenapa dia buat nangis anaknya itu? Anda tidak perlu nanya sebanyak itu, lihat dulu permasalahan dan konteksnya. Ayah ini bisa jadi dia gemes sama anaknya dan ingin bercanda dengan anaknya. Mungkin maksudnya meledek anak agar humor dan komunikasi terbangun dengan erat. Apakah sang anak kemudian tidak mau lagi deket dengan ayahnya setelah di cubit? Iya tidak mungkinlah semuanya kan kembali ke sedia kala. Anak akan main lagi sama ayahnya, dan mau kembali lagi di gendong. Itu lah kasih sayang kalau kita tidak hati-hati menyimpulkan hal semacam ini kita bisa jadi menghakimi ayah tersebut dengan sebutan ayah brutal atau apa? Dan kemudian kita ngopor-opori anak untuk tidak mau lagi bermain dengan ayahnya nanti di cubit lagi. Ini pandangan keliru tadi.
Lalu bagaimana jika kekeliruan itu kita maksudkan untuk Tuhan Sang Maha pencipta kita. Dia yang menggengam hati kita. Jiwa kita serta semesta dan seluruh isinya ini. Barangkali anda dan saya sering salah kaprah mengartikan kasih dan sayang Tuhan. Karena kita tak pernah menyadari betapa dekatnya Tuhan dengan kita ciptaan-Nya. Kita agaknya cenderung menutup rapat kesadaran kita. Setiap Tuhan mencoba bergurau dan gemes dengan kita, kita malah mikirnya Tuhan sedang menguji. Di kira semua yang terjadi di kehidupan kita berupa derita mungkin, duka mungkin, kita sudah menyimpulkan bahwa Tuhan sedang menguji kita. Kenapa kita itu suka mendadak sok alim, sok hebat. Kenapa saya bilang sok? Jelas lah orang yang di uji itu orang yang sudah siap naik tingkatan, orang yang sudah tahu/paham. Sedangakn kalau menilik ke dalam apa kita telah seperti itu belum? Kalau belum ya sudah jangan bilang itu ujian atau cobaan. Pikirkan saja Tuhan memang sedang bergurau dengan kita atau lebih ekstrem nya dosa masa lalu kita sedang kita nikmati sekarang.
Tuhan itu memiliki sifat Maha Cemburu, kalau hamba terus berpaling apa ya Tuhan gak cemburu? Kalau kita mendapatkan sesuatu entah itu menyedihkan atau membahagiakan jangan terburu-buru bilang cobaan, siapa tahu Tuhan sedang meanjakan kita.
Jadi salah persepsi dalam melihat setiap jengkal permasalahan akan juga berdampak bukan hanya ke diri sendiri bahkan bisa ke orang lain lebih parahnya ke Tuhan. Saran saya mari kita mau berbuka-bukan dalam memandang suatu hal. Jangan hanya terfocus dari depan, belakang, atas atau bawah, tapi semuanya harus kita pakai. Semuanya harus kita lehat dengan seksama. Selamat malam bahagia selalu malam ini apapun kondisi kita Tuhan sedang memberi kita waktu di Manja.

Wednesday, May 8, 2013

Carut Marut Negeriku

0 comments

Menikmati perjalan agaknya hal yang begitu special di negeri ini. Bagaimana tidak jalanan di negeri ini bisa di bilang masih jauh dari harapan bagus. Terutama jalanan yang berada di sekitar perkampungan. Dan jalanan yang ada di kecamatan-kecamatan yang nota bene berada di kota yang kecil. Jalanan yang nampaknya halus ternyata bergelombang. Jalanan berlubang adalah hal yang wajar bagi sebagian warga negeri ini. Itu masih mending dari pada jalan-jalan di pedesaan yang masih menggunakan batu dan rusaknya parah. Dimana peran pemerintah? Jenuh sebenarnya bertanya ke pemerintah dalam mnegatasi infrastruktur di negeri ini. Perubahan memang harus di mulai dari sendiri tapi kalau masalah ini kita sebagai rakyat kecil ya jelas tidak punya cukup uang untuk membangun jalanan. Kita di beri kewajiban bayar pajak bagi saya itu sebagai upaya perubahan, sebagai langkah perubahan tinggal bagaimana yang mengelola negeri ini mau tidaknya memanejemen dengan baik. Jelas di kembalikan ke masyarakat sebagai pondasi utamanya. Jelas bukan partai, ingat jelas bukan partai.

Keberalihan fungsi di negeri ini memang sudah begitu parahnya. Mohon maaf saja kalau kita sering melintasi penyebrangan di jalan. Mohon maaf bukanya polisi lalu lintas yang kerap kali menyebrangkan masyarakat, anak-anak, atau orang tua. Tapi tukang parkir, dan orang-orang yang dengan suka rela berdiri di tengah jalan menyebrangkan mobil atau orang-orang yang hendak melintasi jalan. Saya rasa mereka melakukan bukan karena kebutuhan mereka semata yakni mencari uang yang jumlahnya jelas tak seberapa. Tapi lebih karena hati mereka terketuk untuk menyelamatkan nyawa-nyawa yang hendak menyebrang jalan yang sekarang sudah makin amburadul karena ugal-ugalannya para pengendara. Jangan khawatir toh presiden juga sering ugal-ugalan dijalan loh. Buktinya kalau mau melintasi jalan harus di iringi dengan mobil-mobil dan motor yang mohon maaf tidak mungkin laju mereka 20 km/jam pasti tuit-tuitt dengan kencangnya.

Kemaren tanggal 5 mei 2013 saya melakukan perjalan pulang dari Jogjakarta ke Paguyangan Kabupaten Brebes. Gosipnya si brebes masuk kabupaten termiskin Jawa Tengah ironis sekali.  Di tengah melimpahnya sumber daya alam brebes masuk dalam daftar kabupaten termiskin jawa tengah. Bukanya apa-apa selama perjalanan dengan motor saya mengamati betul betapa memang jawa tengah terkenal dengan rusaknya infrastruktur terutama jalananya. Bisa anda coba sendirilah, tanpa membading-bandingkan ketika sehabis DIY anda memsasuki Jawa Tengah akan sangat terasa betapa jalanan itu sudah terasa rusaknya. Suntikan dan tambalan agaknya lebih di pilih ketimbang membangun dan memperbaiki. Padahal jalan adalah bagian yang begitu penting dalam kegiatan ekonomi suatu daerah. Kembali lagi ke daerah brebes, bisa jadi daftar kebupaten termiskin jawa tengah menyeret brebes karena alasan infrastuktur brebes yang memang begitu kacau. Jalanan di brebes terkesan tidak pernah di urus. Kalau mau investigasi lagi ke plosok-plosok daerah bisa di bayangkan betapa tersiksanya masyarakat negeri ini dengan keadaan jalan ini. Jalanan yang rusak bukan hanya menghambat laju ekonomi tapi juga akan membahayakan masyarakatnya. Ini lah yang agaknya kurang di sadari oleh pemerintah kita. Percuma dan sia-sia kalau kampanye taat lalu lintas itu di gembor-gemborkan toh kalau jalananya rusak tetap membahayakan masyarakat bukan?

Terus apa pokok pembangunan pemerintah yang menyentuh rakyat miskin di pedesaan? Apa program kerja pemerintah untuk kawasan yang sangat jarang di jamah oleh program pemerintah? Saya pernah dengar ada kementrian Daerah Tertinggal tetapi kok hanya ke beberapa daerah saja apa mereka tidak punya staff yang bisa menginvestigasi ke plosok-plosok negeri ini? Stigma bahwasanya jawa tidak termasuk dalam golongan desa atau daerah tertinggal ini hanyalah kedok busuk. Di jawa banyak daerah yang tertinggal. Pemerintah harusnya lebih menggunakan barometer yang tepat untuk mengukur seberapa tertinggalnya suatu daerah kemudian menyiapkan program kerja yang berbeda pula untuk masing-masing daerah. Ada skala target yang mesti pemerintah utamakan dalam setahun dalam sebulan dalam seminggu dalam sehari. Jadi semua bekerja atas dasar target bukan karena awang-awangan/analisis buta.  Orang-orang pemerintah harus mau melihat pedesaan harus mau melihat kondisi pedesaan. Kan ada kelurahan sebagai wakil pemerintah? Kan ada wakil lurah di masing-masing dusun? Kan ada wakil RT di setiap kompleks. Memang semua ada wakilnya tetapi apakah yakin dengan kinerja mereka di lapangan? Masyarakat desa yang jelas tidak tahu menahu mau dana di korupsi mau tidak tidak peduli yang mereka tahu fasilitas yang memperlancar kehidupan di penuhi. Jadi perlu ada perencanaan dalam setiap mengambil langkah dengan terjun langsung melihat permasalahan yang ada.

Jangan biarkan masyarakat negeri ini merasa tersiksa di negeri sendiri. Merasa terjajah di negeri sendiri merasa jadi budak di negeri sendiri. Jangan biarkan masyarakat kecil mengorbankan jiwa raganya demi para koruptor. Mayrakat sejatinya sudah jenuh dengan carut marut negeri ini. Cuma presiden dan ajajaranya yang terlalu tuli terlalu enggan untuk membaur dengan mayarakat. Akun twitter presiden yang semestinya jadi bahan curhat mayarakat ke pimpinanya di pegang stafnya. Lah masyarakat ini sudah tidak bodoh lagi. Apa kah jawaban staff akan sama dengan presiden? Jelas bedalah lah wong beda kepala kok. Ini lah betapa mirisnya hidup di tengah kemunafikan yang terorganisir. Sekali ada yang baik pasti di bilang pencitraan, jelas lah lah masyarakat sudah sering di kibulin sih. Jadi jangan salah kalau pandangan masyarakat seperti ini. Jangan sakit hati juga kalau di bilang pencitraan.

kembali lagi ke masalah jalan sebagai poko utama bahasan saya. Entah kenapa saya sering terkagum-kagum dengan orang yang sering di jalanan meminta uang ala kadarnya. Mohon maaf bukan menjelek-jelekan peranan mereka, bukan. Justru saya malah bangga dengan mereka yang mau mengatur lalu lintas kala jembatan atau jalanan rusak. Mereka dengan papan putih bertuliskan “hati-hatai ada pembangunan jalan atau jalanan rusak” dengan warna merah dan semacam ember atau kotak sejenisnya meminta pungutan uang. Jelas uang ala kadarnya untuk menganjal perut mereka yang mengatur lalu intas. Yang ajdi pertanyaan saya kenapa kembali lagi masyarakat yang jadi korban? Kenapa pengatur lalu lintas bukan mereka yang sudah menempati jabatan dengan diskripsi pekerjaan ngatur lalu lintas?  Sopir-sopir jelas tidak keberatan memberikan uang 500 samapai 1000 perak. Namun keahlian mengatur lalu lintas juga perlu di pertanyakan. Kalau asal ngatur bukan saja membahayakan si pengatur namun juga yang melintasi jalanan tersebut. Ini kembali menjadi potret suram betapa kita saat ini masih terjajah di negeri sendiri.

Semoga siapapun yang membaca tulisan saya yang setengah emosi ini mampu menyerap yang baik dan mampu membuang yang kotor. Generasi muda harus tetap menajdi observer dan perubahan bagi lingkungan negeri ini. Semata karena kewajiban kita. Luangkan lah waktu untuk memikirkan negeri ini meskipun negeri ini kurang menganggap adanya kita.



Jemput Aku

0 comments
Jemput aku

Bersama rindumu
Bersama deritamu
Bersama tangismu
Bersama bahagiamu
Jemputlah aku di kesunyian malam
Jemputlah aku di pojokan ini yang pekat tanpa cahaya
Aku terlampau takut tersesat dan hilang arah tanpa genggaman tanganmu

Sajak Pencundang

0 comments
Hujan di Terik Mentari
Kenyataan kadang membingungkan
Atau impian juga jauh lebih membingukan
Di terik panas mentaripun bagi pemimpi masih akan datang hujan
Namun kenyataanya panas terik menyengat itu tak akan menghasilkan butiran air hujan
Bau tanah ini hanyalah liarnya imajinasi
Harum tanah usai hujan ini hanyalah mimpi bolong
Aku bingung
Kata-kata ku inipun sudah tak lagi dengan rasa hati penuh cinta
Kata-kata ini kata-kata kebimbangan dan kebingungan
Kau tak perlu mengartikannya cukup tersenyum dan tertawa membaca
Seraya hujatlah aku sebagai pecundang
Hujatlah aku sebagai pemimpi tanpa aksi
Hujat lah aku agar akupun dapat mendekapmu dipanas ini 

Tuesday, May 7, 2013

Setetes Madu yang kau teguk kemaren sore

0 comments
Setetes Madu yang kau teguk kemaren sore
Manis itu masih terasa katamu sambil tersenyum
Di diding bibirmu yang belum sempat kau usap bekas madu sore itu
Madu alami yang kau panen dari hutan di dekat rumah mu itu
Kini kau tiba-tiba ceritakan kisah mu di depanku dengan tetesan air mata
Kau bilang hendak membuang kotak sederhana berisi madu itu
Kau bilang hendak melupakan manis madu yang memberimu energi
Kau bilang dan akan memilih pahitnya brantawali yang baru kau tanam seminggu itu
Kaupun dengan berkeyakinan akan lebih sehat mengkonsumsi brantalawali
Kau bilang semakin cepat malupakan madu semakin cepat pula kau akan bebas peryakit
Kau tau setetes madu sore itu bukankah madu terakhir yang lebah hasilkan
Duka mu tak berarti duka mu hanya mengkuliti luka baru diatas duka lama
Pergilah dan jangan pernah kembali bercerita tentang madu di hadapku



Thursday, May 2, 2013

HARDIKNAS?

0 comments
HARDIKNAS MOMENTUM MEMBAIKAN KULAITAS
Tersadar atau tidak, kualitas pendidikan kita sebagai bangsa yang bisa di bilang sebagai bangsa yang dengan jumlah penduduk terbesar ketiga dunia masih sangat rendah. Gagasan pendidikan gratis yang dijanjikan para calon pemimpin kita di negeri ini hanya menjadi isapan jempol belaka. Bagaimana tidak ketika mereka sudah menempati suatu jabatan yang penting mereka secara otomatis melupakan janjinya. Gagasan pendidikan gratis sampai sekarang hanya mimpi disiang bolong.
Wajib belajar 9 tahun yang di gagas pemerintah sebagai upaya peningkatan mutu SDM bangsa ini juga di kotori oleh berbagai oknum yang mencari untung. Dengan alasan komite sekolah tak segan-segan meminta uang pembangunan kepada siswa baru yang masuk sekolah. Anak pintar dengan kondisi ekonomi kurang hanya akan mendambakan sekolah di sekolah favorit. Karena untuk masuk ke sekolah favorit di butuhkan biaya yang tidak rendah. Alasannya tentu banyak mulai dari peningkatan mutu sekolah, peningkatan fasilitas sekolah dan lain sebagainya. Namun kalau mengkebiri hak anak yang secara kualitas mampu bersaing hanya karena keterbatasan materi tidak bisa masuk ke sekolah favorit itu sungguh di sayangkan.
Hari ini tanggal 2 mei di peringati sebagai hari pendidikan nasional. Iyaa dari namanya saja sudah terlihat jelas nasional pasti produk dalam negeri. Cintai produk dalam negeri istilah kasarnya, anaknya presiden malah sekolahnya di luar negeri. Terus bagaimana rakyatnya bisa percaya dengan kualitas dalam negeri? Miris.  Hari ini mungkin agaknya hanya di peringati sebagai ceremonial belaka. Hari ini bukan menjadi koreksi buat para pejabat yang mengurusi masalah pendidikan. Masalah pendidikan nasional sesungguhnya begitu kompleks dan ada suatu permasalahan yang begitu luar biasa.
Kegagalan pemerintah dalam melaksanakan UN menunjukan persiapan yang sangat minim. Sungguh sangat memalukan untuk mengurusi hal ujian nasional dalam pendistribusian soal saja pemerintah gagal. UN yang dengan niatan di sejajarkan semua kualitas pendidikan semua kota se Indonesia ini merupakan tindakan yang saya bilang keliru. Mohon maaf untuk masalah fasilitas semestinya yang harus di dahulukan di sesajarkan. Kualitas fasilitas sekolah, pendidik dulu yang di setarakan. Pemerintah ini memang hanya lebih suka melihat suatu hal yang sifat di permukaan. Di kira dengan memenuhi target UN kualitas pendidikan meningkat? Tidak. Justru ujian nasional ini menjadi momentum kejahatan terorganisir. Penyebaran dan mafia kunci jawaban bertebaran dimana-mana. Jelas hal ini ada hubunganya dengan para pembuat soal dan orang dalam kementrian pendidikan. Bagaimana mereka bisa tahu jawaban sebelum soal di sebarkan padahal soal dalam keadaan di segel?
Jujur saja kenyataannya memang seperti itu. Saya bukanya under estimate terhadap mereka yang mengaku mengerjakan UN murni saya bilah bohong. Bocoran dalam UN sudah menjadi rahasia umum namun sayang pemerintah kita itu sengaja menutup telinga tak mau mendengar keluhan. Pemerintah itu buta tak mau melihat kenyataan. Bagaimana tidak kalau UN di hapus jelas dana hasil UN itu kan besar tidak mereka dapatkan lagi. Ujung-ujungnya sudah bisa di baca KKN. Kejahatan terorganisir ini menunjukan betapa kapasitas pendidikan kita rendah karena di bentuk peraturan yang tak jelas.
Kita bisa melihat moralitas anak muda zaman sekarang mengalami degradasi moral. Tawuran pemerkosaan yang dilakukan remaja dalam negeri meningkat dari tahun ke tahun. Kasus bully di sekolah marak. Guru mencabuli anak didik juga tidak jarang kita dengar berita tersebut. Pendidikan kita kok makin ke sini makin jauh dari nilai-nilai yang mengajarkan kebaikan? Nilai-nilai yang membuat semau anak didik menjadi sadar mana yang hak dan mana yang bukan hak. Budaya menghargai kita turun drastis. Budaya egois dan iri agaknya sudah menjadi suatu hal yang melekat. Saya tidak terlalu menyalahkan para guru yang mengajar. Guru juga mungkin agaknya bingung dengan segala permainan dia tas sana. Bagaimana tidak kurikulum di bolak-balik di ganti. Ujian sudah mengalami berapa kali perubahan? Cuma ganti nama saja esensinya sama terus buat apa?
Kadang miris juga ketika melihat kondisi sekolahan di pelosok-pelosok negeri ini. Pendidikan bagaikan suatu hal yang begitu suatu yang begitu special. Namun di perkotaan anak sekolah malah demen banget ribut. Anak sekolah kerjaanya pacaran. Anak sekolah kerjaanya main-main yang sedikitpun yang memberikan manfaat. Sementara di pelosok mereka harus menempuh jarak berkilo-kilo untuk sampai di sekolah.
Ketimpangan pendidikan memang sudah sangta lama di rasakan di negeri yang pada sila ke lima menyebutkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nyatanya hal semacam itu hanya menjadi naskah entah kapan akan terealisasikannya keadilan tersebut.
Bangsa ini agaknya tidak belajar pada bangsa-bangsa di luar sana yang sukses dan maju karena pendidikanya yang luar biasa. Kunjungan pemerintah luar negeri hanya menggodok undang-undang yang entah nilai kegunaanya apa buat masyarakat kecil. Semestinya kunjungan mereka ke luar negeri sebagai momentum belajar kemudian di share kan ke masyakat terutama hal pendidikan. Sebagai contoh bangsa jepang adalah bangsa yang bangkit dari pendidikannya. Sehingga sekarang tidak heran kalau jepang menjadi negeara yang maju. Sedangkan kita? Ngurus UN saja gagal total.
Rasa-rasanya kita mesti kembali ke zaman dahulu dimana ilmu di ajarkan dari pendopo-pendopo. Ilmu yang di tekankan adalah ilmu moral ilmu dasar dalam kehidupan. Sekolah agaknya sekarang menjadi momok yang menakutkan yang secara psikis dampaknya begitu luar biasa. Berapa banyak kasus kesurupan sebelum UN? Kasus kriminalitas sehabis UN? Pembunuhan atau bunuh diri sehabis UN? Pesta sex sehabis UN? Moralitas nya diamana? Nilai-nilai pendidikannya dimana?
Sekali lagi saya tegaskan semoga momentum hardiknas ini menjadi momentum perubahan. Menjadi momentum kembalinya negeri ini menjadikan pendidikan sebagai pokok utama yang mesti di perhatikan. Para penjabat tidak lagi hanya memikirkan nasib partainya belaka. Penjabat harus mau buka mata, telingga dan hati nurani untuk menjadikan pendidikan lebih baik lagi. Masyarkat harus bahu-membahu membangun pendidikan yang berkarakter timur yang berpondasikan moralitas dan nilai keluhuran.

Wednesday, May 1, 2013

Buruh adalah tolak ukur Perekonomian Negara

0 comments

Buruh, terdengar begitu kasar secara konotasi bahasa. Orang yang bekerja dalam suatu jabatan di suatu perusahaan yang entah dengan posisi apapun namun biasanya dengan posisi yang dianggap kurang strategis. Buruh atau karyawan, saya menyebutnya karyawan sajalah agar tedengar lebih halus. Ini juga berarti saya munafik terhadap kata buruh, namun lebih karena menghargai betapa berat menjadi seorang buruh. Sudah bekerja dengan sekuat tenaga hasilnya tak sesuai dengan harapan. Parahnya di potong outsourching yang melalui outsourching. Seperti yang kita ketahui masalah outsourching di negeri ini tak kunjung usai. Permasalahannya sederhana lapangan pekerjaan sempit namun jumlah pencari pekerja membludak nah hal semacam ini yang kerap di manfaatkan oleh segelintir oknum atau pihak yang tak bertanggung jawab untuk memanfaatkan kondisi semacam ini.
Hari ini adalah tanggal 1 mei, tanggal yang oleh orang di seluruh dunia di peringati dengan hari buruh sedunia. Sudah barang tentu kalau hari ini tiba yang dilakukan buruh adalah demostran. Meskipun cara seperti ini kurang efektif pasalnya para petinggi di negeri ini memang agaknya tuli untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Aspirasi mereka hanya menjadi bahan teriakan tanpa tindak lanjut, buktinya dari zaman bahela tuntutan mereka sebenarnya sama namun sampai sekarang tak kunjung selesai bukan? Miris sekali. Mereka hari ini pun akan menuntut dengan tuntutan yang sama seperti 2 tahun atau 4 tahun yang lalu. Ini menunjukan kurang seriusnya para petinggi negeri ini baik pengusaha atau pemerintah dalam meyikapi nasib para buruh.
Saya itu sering membayangkan kalau saja tidak ada buruh terus mau menggunkan apa untuk menggerakan roda ekonomi negeri ini? Agaknya memang para petingi dan pemerintah itu lupa akan esensi. Keuntungan seakan menjadi suatu perioritas yang paling utama dan melupakan bagaimana kesejahteraan para pegawainya. Mau pegawainya bisa memberi makan keluarganya atau tidak yang terpenting bagi perusahaan, perusahaan tetap berjalan. Wuiikh kapitalisme di praktekan di negara yang konon demokratis tapi demokratis adopsi luar. Demokrasi hanya m enjadi sebuah kedok dan penutup, buktinya yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ini demokrasi? Kalau ada orang DPR yang hidupnya miskin saya mau deh di jitak kepalanya. Mereka itu semua kaya, orang kaya tak akan pernah merasakan rasa pahit atau melilitnya perut saat menahan lapar.
Perundang-undangan yang melindungi buruh juga hanya menjadi aturan baku yang tak di terapkan. Bagaimana mau di terapkan ada kongkalikomg dengan pembuat peraturan denga para pengusaha. Kalau di terapkan perusahaan untungnya kecil, oknum tak dapat uang. Coba kalau sangsi yang tegas bagi perusahaan yang tak menajlankan perundang-undangan tersebut jelas nasib buruh bisa jadi tak separah ini.
Serba tidak enak memang menjadi seorang buruh. Tidak jadi buruh tidak punya penghasilan atau pekerjaan. Jadi buruh seakan di eksploitasi habis-habisan. Di porsir tenaganya dengan upah yang bisa di bilang minim. Saya matematikan sekarang kalau upah buruh sekarang UMR katanlah Jakarta 2.2 Juta. Biaya Kost paling murah katakanlah 300 ribu/bulan. Kemudian makan seadanya 2x makan 30 ribu dikali 30 hari 900 ribu. Loundry pakaian katakanlah minimal 100 ribu /bulan. Kemudian Uang pulsa minimal 100 ribu/ bulan. Itu untuk menghidupi satu orang, sekarang bayangkan buruh punya istri dan katakanlah 2 anaknya. Gaji segitu apa ya cukup untuk sekolah anaknya. Ya wajar saja program pendidikan minimal 9 tahun hanya jadi omong kosong bagi sebagian orang. Loh kan ada BOS? Silahkan cek meskipun ada BOS tetap ada dana komite yang besarnya sama saja mahalnya.
Kemudian untuk mengatasi berbagai kritikan pemerintah mencanangkan program wirausaha. Konon kalau negara ini punya pengusaha 2-5 % dari seluruh penduduk maka akan jadi negara maju. Wah memang ide keren pemerintah ini. Tapi sekali lagi omong kosong. Apa artinya mencanangkan program wirausaha toh pemerintah masih suka mengimpor barang dari luar negeri. Produk dari luar negeri di biarkan mambanjiri pasaran lokal. Para pengusaha di suruh bersaing denga produk impor yang dengan harga yang sangat murah. Jelas pengusaha lokal bangkrut.
Kampanye pengusaha ini bisa di bilang begitu gencar tapi mlompong (kosong). Program peminjaman dana hanya di manfaat kan oleh segelintir orang bukan? Silahkan berkunjung ke plosok desa-desa apakan dana simpan pinjam menyentuh mereka? Kalau iya bagus tapi setahu saya masih banyak desa di plosok negeri ini yang tak tersentuh. Kemudian semua orang beramai-ramai mncari nafkah ke kota jelas sasaranya Jakarta. Kota ini memang sengaja di buat dengan ketimpangan yang tinggi dengan magnet yang tinggi agar semua pusat perekonomian terpusat disini. Wajar dan sangat wajar. Kemudian menjadi buruh adalah solusinya bagi masyarakat kecil.
Memang sungguh menakjubkan sekaligus mengherankan negeri yang begitu subur ini masyarakatnya bisa di bilang hidup di taraf yang rendah. Sudahlah mari kita melek, buka mata kita lebar-lebar, buka mata hati kita. Sudah jangan jadi orang sok agamis. Negeri ini orangnya tak beragamis kok. Buktinya kemiskinan sudah separah ini. Rakyat kecil selelu saja menjadi objek yang begitu terpuruk. Silahkan ngaku agamis kalau di lampu merah sudah tidak lagi ada orang yang minta-minta. Silahkan mengaku agamis kalau pendidikan anak negeri ini tercukupi. Silahkan mengaku agamis kalau semua masyarakat pada jam makan sudah makan dan tak kelaparan. Silahkan ngaku agamis kalau gizi buruk sudah hilang. Silahkan ngaku agamis kalau orang-orang sudah tidak lagi hidup dengan sampah, tidur diatas jalan pinggir trotoar.
Memperingati hari buruh sedunia ini semestinya menajadi momentum bagi pemerintah untuk ngaca. Momentum untuk pemerintah menggampar dirinya sendiri. Sudah seberapa besar mereka melindungi masyarakatnya. Sudah seberapa kuat mereka menerapkan UUD dan Pancasila sebagai tonggak menajalankan negeri ini. Kalau hari ini hanya sebagai momentum ceremonial itu percuma dan sangat percuma. Apa lagi konon presiden menjadikan hari ini sebagai hari libur nasional. Sebuah solusi yang kurang tepat, janganlah menganggap kesengsaraan kaum buruh itu hanya di rasa tanggal 1 mei. Dengan meberikan dan menetapkan hari ini sebagai nasional. Seakan-akan kaum buruh dianggap sebagai anak SD yang senang ketika mendapat libur. Kaum buruh menuntut keadilan bukan menuntut hari ini sebagai hari libur. Buat apa kalau hari ini di tetapkan sebagai hari libur kalau hak buruh tak kunjung di penuhi? Buat apa hari ini di tetapkan sebagai hari libur nasional kalau oknum yang membuat sengsara buruh masih gentayangan menghantui kehidupan buruh.
Tetapi buruh itu menuntut haknya keterlaluan? Biasanya kata ini sebagai kambing hitam dan perlawanan. Itu jelas-jelas sebagai tugas bapak-bapak bagaiamana melindungi rakyatnya. Kalau mau membiarkan rakyatnya terus di jajah di era modern ya silahkan saja terus berlindung di balik kata itu. Buruh itu menuntut hak mereka yang secara logika memang itu hak mereka. Kerja keras ya sudah barang tentu harus di bayar denga sepadan juga. Tapi keinginan seorang itu tidak ada batasnya.? Salah ada diaman mereka sudah sesuai dengan keinginannya. Makanya pemerintah membuat dan menerapkan aturan yang jelas untuk semata-mata melindungi warganya. Semata-mata untuk melindungi rakyatnya. Untuk memenuhi amanahnya sebagai pemimpin negara ini.
Akhirnya selamat hari buruh sedunia. Jadilah pekerja yang sejati. Jadilah pekerja yang berwibawa. Jadilah pekerja yang cerdas yang mau memilah dan memilih pekerjaan. Jangan sampai terjatuh pada jurang kenistaan. Semoga hak dan tuntutan para buruh kunjung terselesaikan. Biar bagaimanapun buruh adalah agent yang akan memabwa negeri ini ke arah yang lebih baik. Buruh juga termasuk pahlawan bagi keluarganya. Bagi para pengusaha atau perusahaan berikanlah hak sesuai dengan pekerjaanya. Berikanlah sebagai upaya membangun negeri ini menjadi lebih baik, sebagai upaya pendekatan terhadap sila Pertama. Marilah kaya sama kaya dan menderita sama menderita. Hilangkan rasa sombong dan tamak yang menutup mata hati dan tak mau melihat bagaimana derita orang lain.


Monday, April 29, 2013

Cinta di Bukit Gunung Sumbing

0 comments

Pagi memang selalu memberikan nuansa indah dengan pancaran sinar mentari di ufuk timur. Sinar yang memancarkan vitamin D dipagi itu yang di berikan Sang Maha Kasih selalu di nanti di Nola gadis berumur 18 tahun yang hidup bersama keluarganya di puncak gunung sumbing. Suatu puncak pegunungan di sebuah kabupaten Brebes. Keluarga kecil ini hidup dengan bergantung pada alam sekita pegunungan yang subur. Apapun yang di tanam di sini selalu tumbuh. Jadi persediaan pangan di sekitar pegunungan ini selalu melimpah. Baik yang berupa umbi-umbian ataupun buah-buahan seperti pisang dan pepaya yang sangat baik untuk pencernaan manusia.
Pagi itu tak seperti biasanya bagi nola gadis yang hampir setiap hari hidupnya bisa di bilang tak pernah mengetahui dunia luar.  Kehidupan yang dia  ketahui hanya sekitar kampung di puncak gunung tempat dia tinggal. Gadis dengan paras tinggi dan berambut panjang lurus terurai dengan kulit putih. Iya gadis-gadis di sekitar pegunungan memang terkenal dengan kulit yang putih mungkin karena cuaca yang dingin. Namun ketika kena sinar mentari sekita wajahnya nampak kemarah-merahan. Tampak begitu menawan dan cantik. Nola selalu duduk di depan rumahnya tak kala pagi dan sore menjelang. Sebuah kursi yang terbuat dari bambu menjadi tempat yang begitu special bagi si nola. Waktunya di habiskan dengan menunggu mentari pagi dan senja di kala sore hari.
Nola adalah gadis yang dengan kondisi badan cacat ganda. Gadis canti ini mengalami gangguan Tuna Netra, Tuna Rungu dan Tuna Wicara. Gangguan ini secara psikologis sering di sebut dengan sebutan Tuna Grahita atau cacat ganda. Untuk mengatasi seorang dengan kondisi fisik seperti ini memang begitu susah. Tokoh yang mampu tambil luar biasa dengan kondisi Buta, Tuli dan Bisu adalah Hellen Khaler. Iya tokoh yang begitu fenomenal dengan kondisi badan cacat. Dan mampu memotivasi orang-orang di berbgai belahan dunia dan mampu membuat buku.
Untuk menjadi tokoh yang fenbomenal mungkin jelas tidak terbesit di pikiran nola. Bisa makan dan minum saja suatu kebahagiaan bagi nola. Terapi untuk orang dengan gangguan fisik seperti nola membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan suatu hal yang berat bagi keluarga nola. Terlebih nola hidup di keluarga yang nota bene suatu keluarga besar. Orang tua nola memiliki anak 6. Dan nola merupakan anak ketiga dari ke enam bersaudara. Kakak nola cewe Mona namanya sudah berkeluarga dan hidup bersama dalam satu keluarga bersama nola. Kakak cowonya  Baharudin dengan kondisi tuli dan gangguan tempramental dan harus dipasung dikamarnya. Adik nola Widiya yang berumur 12 tahun putus sekolah karena biaya. Dan si kembar Dina dan Dini berumur 5 tahun.
Dari keluarga, nola bisa di bilang yang paling malang hidupnya secara kasat mata. Nola tak pernah mengenyam pendidikan. Keseharian nola hanya duduk di teras dan saat makan masuk ke dalam di antar Widya dan kembali duduk di teras lagi. Dia baru memasuki rumah ketika mentari di ufuk barat telah menghilang dan langit kemerahan muncul bagai pijaran api. Nola karakternya begitu penurut dan tak seperti biasanya seorang dengan kondisi badan seperti itu. Dia selalu mau di suapin tak kala waktu makan tiba. Dia juga selalu mau mandi tak kala sore menjelang. Tak kala malam menjelangpun dia selalu bergegas ke kamar tidurnya untuk beristirahat.
“Selamat pagi mba” sapa seorang yang entah dari kampung mana. Tapi nola hanya diam saja menikmati hangat mentari yang kebetulan pagi itu begitu cerah semilir angin juga sejuk disertai dengan nyanyian burung yang berlirik kesedihan melepas kekerinagn embun pagi. “pagii mba permisi” sapa orang tersebut dengan nada yang agak kesel. “mbaaaaa selamat pagiiii permisi mbaa” sapa orang tersebut dengan anda marah dan kesel. Teriakan orang ini sontak membuat keluarga nola keluar dari rumahnya. “maaf mas ada apa yah kok teriak-teriak?” sapa bapak Nola. “maaf pak saya tadi nyapa mbanya mau nanya rumah ketua RT sini pak tapi mbanya cuek saja” sanggah si cowo yang berbaju compang camping serta bertato ular naga di tanganya. “maaf mas Nola memang mengalami tuli, buta serta bisu mas jadi bukanya dia cuek tapi memang tak bisa mendengar apapun yang mas teriakan, kalau rumah pat RT di ujung kampung ini mas, adalagi mas yang ditanyakan?” sahut bapak nola dengan sabar. Cowo itu seketika diam dan mulai memperhatikan Nola yang pagi itu memang nampak anggun dengan gaun ungu dan rambut panjang terurai. “mass..” sahut bapak Nola. “oooooh iyaa bapak maaf bapak, iya Pak terimaksih bapak untuk alamatnya pak mohon maaf bapak saya kira tadi anak bapak tidak seperti yang bapak ucapkan tadi”. “iya mas tidak apa-apa kami sudah terbiasa kok, itulah resiko punya anak seperti nola mas oiya kalau bingung nanti bisa tanyakan saja ke warga di sana mas”. “iyaa bapak terimakasih pak” jawab pemuda itu dengan muka yang malu dan perasaan tidak enak kepada nola dan keluarganya.
Nolapun masih diam dan mungkin sedikit mendengar teriakan yang kencang dari pemuda tadi dan gaduh di dekatnya duduk. Dia menoleh kemudian bapaknya memgang tangannya serta memeluk anak gadisnya itu. Sembari meneteskan air mata dan di kuti sang ibu yang mendekap dari belakang nola. “yang sabar ya nak, hidup di dunia memang seperti ini” meski tak mendengar apapun ibu nola menasehati anaknya dengan suara yang pelan. Namun nola tetap meneteskan air mata, mungkin dia merasakan kesedihan yang dialami keluarganya. Dari matanya keluar butiran air mata yang mengalir di pipinya yang nampak kemarahan terkena sinar mentari.
Kemudian nola di tuntun di bawa masuk oleh ayah dan ibunya diajak untuk sarapan bersama karena hidangan pagi saat itu telah siap. Teh anget dengan gula batu sudah tersaji di meja makan, nasi jagung dengan lalapan daun singkong sambal terasi juga telah siap di meja. Ikan asin yang goreng kering dengan bumbu penyedap rasa khas desa (micn saset) dengan potongan cabai serta bawang merah menjadi menu yang begitu special bagi keluarga nola. Ibu nola menyuapi si kembar dina dan dini sedangkan nola di suapin adiknya Widya. Adik nola ini memang begitu perhatian sama nola dia sambil makan juga menyuapin nola. Sedangkan kakak nola memang mendapat jatah terakhir karena dia dikamar di pasung. Ibu nola selalu menyuapi kakak nola sehabis sarapan itu. Kakak perempuan nola memilih memasak sendiri dan makan bersama suaminya dengan meja yang berbeda. Mungkin karena merasa sudah berkeluarga. Padahal orang tuanya tak pernah sedikitpun melarang kakaknya nola untuk bersama-sama pait asam, hambar asin makan bersama. Menu makanan sederhana namun begitu spesial itu telah di lahap nola sekeluarga. Seperti biasanya bapak nola pergi ke hutan untuk menggarap ladang dan saat itu di tanami jagung dan singkong serta beberapa pohon pisang susu dan pisang ambon.
Widya bisa di bilang gadis yang begitu tanggap dia selalu membantu ibunya mencuci piring dan perlengkapan masak. Ibu nola juga pergi keladang untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak buat makan siang nola dan keluarga.
Nola yang masih dengan baju ungu dan rambut masih terurai kembali duduk di bangku bambunya. Widya memang mendandani nola dengan segitu cantiknya. Maklum satu sisi widya juga beranjak ke masa remaja. Masa yang kita tahu serba pingin mencoba hal baru dan suka berdandan bagi cewe.
Matahari mulai beranjak tinggi terik panasnya menyengat dirasa nola. Dan dia pun dengan nalurinya mencari-cari pintu dan memasuki rumahnya. Sebelum dia masuk datanglah lelaki yang saat pagi itu datang kerumahnya namun nola tak tahu cowo itu. Nola berontak dan tak mau di tuntun. “Ekhh ekkkh ”  hanya penolakan seperti itu yang dilakukan nola. Dia terus memberontak menolak si cowo yang hendak membantu menuntunya masuk. Kejadian itu di dengar widya yang berada di belakang rumah sedang menyapu. “kakak, kakak,” dengan panik widya mendekap nola. “Ada apa ya mas?” tanya widya dengan nafas yag tak teratur. “gak de, tadi pas aku jalan melihat nola sedang merambat-rambat mau masuk niatnya mau membatu nuntun dia de” jawab sang cowo. “gini mas mba nola memang buta, tuli, dan bisu. Tapi dia bisa merasakan sentuhan orang yang dia kenal dan bau keringatnya juga mas”. Sahut widya. Sambil mencium keteknya cowo itu tersenyum, “sial aku baru sadar kalau sudah 5 hari belum mandi”. “mass, mass malah senyum-senyum sendiri mas?” tanya widya. “Kenalin saya Bagas, Bagas Wiwoho” sambil njulurin tangan mengajak salaman. “Widya dan ini..” “Nola” ptong Bagas. Kok sudah tau kakak saya mas? Tadi pagi bapak sudah bilang ke saya kalau ini namanya nola, saya yang tadi pagi teriak-teriak”. “ walah mas to orangnya?” tanya widya menegaskan.
“gini mas mba nola ini memang sudah dari umur 11 tahun mengalami penyakit ini mas, keseharianya ya duduk di kursi bambu itu mas, mba nola ini memang paling cantik di keluarga kita hehehe.. mba ini orang nya baik mas, kalau mau tidur saja saya selalu di peluk sama mba nola. Kalau subuh juga dia selalu bangun duluan dan membangunkan aku. Gak tau padahal dia mba tak mendengar suara yang kecil apa lagi adzan dari masjid yang jawaknya jauh. Mungkin itu karunia dari Tuhan ke mba. Mba di beri insting yang tinggi kalau bangun buat sholat subuh mas. Saat waktu sholat tiba kaya dhur atau asharmba juga langsung masuk rumah mas ya dengan gaya seperti itu yang mas lihat. Tapi tak perlu khawatir mba sudah terbiasa meraba-raba jalanya gitu tapi nyampai kamar juga kok. Mba selalu sholat karena diajari ibu waktu kecil. Bacaan dan gerakanya masih mba ingat dan itu begitu luar biasa mas.” Sambil menghela nafa widya. “terus?” sambung bagas.
“iya kata ibu dulu mba gak separah ini mas, sedikit-dikit masih bisa dengar dan bisa melihat tapi lambat laun pertyakitanya mulai menjakiti tubuh mba mas dan akhirnya seperti ini”. “emang gak berobat ya wid?” tanya bagas penasaran. “wah mas jangankan untuk berobat mba bisa makan saja kami bersyukr bange mas, saya saja sekolah Cuma sampai SD mas”. Bagas diam sambil memandang nola. “dulu tu ibu bilang juga kalau mba sempat kaget karena petir yang menyambar pohon kelapa depan rumah itu mas, deket tempat mba duduk yang sekarang tinggal pohon tanpa daun itu mas”.
“kasiahan Nola kalau mandi gimana dia, kalau makan bagaimana?”. “kalau mandi kadang saya yang mandiin mas, kadang juga ibu mas, mas bagas orang mana sedang apa di desa kami? Saya dari kecil tidak melihat mas soalnya”. “saya memang bukan orang sini wid, saya disini Cuma kepengen melihat pemandangan saja wid, indah banget soalnya melihat dari puncak gunung ini wid.” Tegas sambil menghela nafas. “iya sudah wid saya tak pergi dulu kayanya nola juga mau sholat duhur kan? Mkasih loh wid, besok-besok bisa dilanjutkan ya wid?”. “oiya mas hati-hati mas?” sambung widya.
Sambil jalan keluar Bagas pun memikir kan widya. Agaknya bagas merasa jatuh cinta pada saat melihat Nola. Cowok dengan tampang serem itu agaknya luluh di hadapan wanita bernama nola. Bagas pun merasakan getaran perasaan kepada nola sigadis yang meamng begitu cantik. Sambil memukul-mukul pipinya bagas berjalan meninggalkan rumah nola.
Bagas di desa itu menempati sebuah rumah warga dekat rumah pak RT. Sesampainya di rumah itu bagas masih tak percaya perasaanya saat itu mamng bercampur aduk. Paginya bagas memutuskan untuk mengutrakan perasaanya kepada orang tua nola dan heranya bagas berniat meminang nola.
Pagi menjelang seperti biasanya burung selalu bernyanyi namun kini entah kenapa banyak burung mprit bernyanyi kegembiraan. Matahari yang sayup-sayup dan ta terlalu menyengat namun cerahnya membuka cakrawala pagi. “tok-tok” suara ketukan pintu. Nola yang sudah cantik baru keluar dari kamar dan mau berjemur nola memang selalu mengambil vitamin yang di berika Tuhan di pagi hari itu. Bapak pun membukakan pintu, “kreeeekett.” Suara pintu yang sudah rusak yang terbuiat dari bambu menyerupai gerbang orang kota. “eeekh kamu mas, silahkan masuk mas,” dudukalah bagas di meja kayu memanjang yang terbuat dari kayu pinus dan meja yang penuh dengan noda hitam. Ini disebabkan oleh getah pinus yang terkena panas teko air minum. “ada apa ya mas pagi-pagi ini sudah mampir ke rumah?”. Sambil memandang nola sebentar yang hendak keluar bagas menajwab “gini pak saya yang petama mohon maaf atas kejadian kemaren, yang kedua nama saya bagas pak saya sudah banyak cerita dengan widya kemaren pak, asli saya dari kampung seberang pak kampung Karang Gedang Pak. Kedatangan saya mungkin membuat bapak kaget dan apa lagi kalau bapak tahu maksdu dan tujuan saya juga pagi ini pak. Gini pak langsung saja ya pak? Jujur pak sejak kejadian kemaren pagi saya  masih teringat denga wajah nola pak. Apa lagi kemaren sempat ngobrol dengan widya pak. Saya merasa menyukai dan cinta ke putri bapak si Nola pak. Iya mungkin bapak menganggap saya main-main karena saya baru kenal kemaren pagi. Tapi inilah yang saya rasakan pak. Saya berniat meminang putri bapak. Kalau bapak masih ragu besok saya akan membawa keluarga saya sowan ke sini pak. Gimana bapak?”
“gini mas bagas [ertama bapak bahagia sekalai baru pertama kali ini ada seorang yang berniat meminang nola. Tapi apa gak mas bagas pikirkan ter;lebih dahulu keadaan nola itu bagaimana mas? Gini saja mas, mas bagas pulang dan mas bagas diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga mas bagas bagaimana baiknya mas. Menikah itu bukan hanya suatu hal yang dilandasi oleh nafsu memiliki atau dilandasi suka semata. Nikah juga diharapkan hanya sekali seumur hidup mas. Kalau bapak setuju saja mas. Mas musyawarahkan dulu mas dengan keluarga mas. Kalau sudah mantap barulah datang lagi ke sini mas. Begitu ya mas? Sekali lagi bapak tidak melarang mas, tapi mas pertimbangkan dahulu mas, kalau perlu mohon ke yang Maha kuasa mas.”
Seketika itu juga bagas mohon pamit ke ayah nola dan bergegas untuk pulang. Dan selang beberapa hari kemudian datanglah bagas dan keluarga besarnya. Tak di duga ayah dan ibu bagas tenyata tuna netra. Bagas terlahir dengan keadaan normal. Kemudian bagas menjelaskan latar belakang keluarganya yang semuany tuna netra yaitu ayah dan ibunya. Bagi bagas mencintai bukan hanya tentang permaalahan kulit atau maujud mencintai teteap sejatinya mencintai esensi yang nantinya akan kembali ke  Tuhanya. Bagas juga menjelaskan bagaimana keluarganya hidup dengan rukun dan harmonis. Bisa di bilang ayah dan ibu bagas bangga punya anak seperti bagas yang selalu bekerja keras dan mau berjuang menghidupi keluarganya. Bagas juga mampu membelikan rumah orang tuanya serta mencukupi semua kebutuhan orang tuanya. Bagas adalah anak tunggal.
Dan akhirnya pada hari jumat usai sholat jumat Bagas Wiwiho dengan Nola Yolanda menikah dan mengucapkan ijab dan qobul sebagai syarat syah bagas meminang Nola. Yang di ikuti tangisan di dalam masjid. Keadaannya begitu haru. Nola tak henti-henti meneteskan air matanya. Prang tuanya nola juga terus menangis bahagia melihat anaknya duduk cantik di hadapan penghulu menjadi istri syah Bagas Seorang pengusaha seni. Widya yang begitu sayang dengan nola juga menangis bahagia melihat kakaknya menikah. Semua warga di pegunungan sumbing itu berkumpul di masjid dan berdoa demi kebahagian bagas dan nola. Suara meriam bambu silih berganti berbunyi. Burung-burung berterbangan diatas langit yang siang itu begitu cerah namun tak menyengat karena angin yang berhembus begitu sejuk. Kemudian pengatin ini diarak hingga sampai di rumah Bagas. Bagas dan Nola berada di kereta kudanyasedang warga berjalan kaki yang berjarak 8 km. Sesampai di rumah bagaspun warga sudah mempersiapkan penyambutan pengantin baru ini. Bagas menggendong nola di ikuti senyum di bibir nola yang tipis bak wilat (sayatan bambu).



Friday, April 26, 2013

0 comments
Pintu yang masih tertutup
Malam membalikan mentari
Cahaya rembulan yang diharapkan menjadi pengganti
Hangatnya tak terasa
Bintang yang menaburkan keindahan hanya mengkedipkan cahaya
Suara yang berbisik di pojokan itu kian terdengar merdu bak melodi
Seorang menggigil dan menangis dalam kelam malam di kamar kecil
Meratapi penyesalan akan patahnya kunci pintu pagi itu
Kecerobohan membawanya tertunduk lesuh di emperan kamar
Sampai kapan harus menunggu? Ketika mendobrakpun tak lagi mampu
Pintu itu kapan hendak dia buka dengan atau tanpa dobrakan?
Hanya kepada pemilik pintulah semestinya dia adukan
Hanya kepada si pemilik pintu juga lah mestinya dia meminta kunci cadangan
Karena setiap pintu akan memiliki 2-3 kunci
Bangun dan berbicaralah wahai kau si alif kecil

Tuesday, April 23, 2013

Iyaa

0 comments
Hujan di Terik Mentari
Kenyataan kadang membingungkan
Atau impian juga jauh lebih membingukan
Di terik panas mentaripun bagi pemimpi masih akan datang hujan
Namun kenyataanya panas terik menyengat itu tak akan menghasilkan butiran air hujan
Bau tanah ini hanyalah liarnya imajinasi
Harum tanah usai hujan ini hanyalah mimpi bolong
Aku bingung
Kata-kata ku inipun sudah tak lagi dengan rasa hati penuh cinta
Kata-kata ini kata-kata kebimbangan dan kebingungan
Kau tak perlu mengartikannya cukup tersenyum dan tertawa membaca
Seraya hujatlah aku sebagai pecundang
Hujatlah aku sebagai pemimpi tanpa aksi
Hujat lah aku agar akupun dapat mendekapmu 

Wednesday, April 10, 2013

Bagaikan Api dalam Sekam

0 comments
Bagaikan Api di dalam Sekam
Pepetah ini agak nya mencoba menguraikan suatu kejahatan yang terus disimpan akan lama membebesar. Karena saya kurang suka dengan kenegatifan maka saya mempersepsikan hal itu sebagai kekuatan yang terpendam dalam diri seorang. Bagaimana tidak api yang dalam sekam itu tidak tampak adanya api tapi di dalamnya berupa bara yang kalau kita mbuluske (memasukan) tangan kita ke situ hangus tangan kita. Api dalam sekam sering kali kurang di pandang sebagai api yang menyala-nyala, karena memang tak nyala sih. Orang hanya melihat kepula asap putih atau bahkan hitam pekat.
Api, merupakan unsur yang tidak bisa lepas dari  kehidupan manusia. Entah apa yang bakalan terjadi jika hidup ini tidak ada yang namanya api. Makan yang serba mentah lah, minum air mentah lah. Semua serba alami, natural tanpa pembakaran atau sejenisnya. Api yang konon di temukan pada masa lamau karena adanya petir ini sampai sekarang menjadikan kehidupan kita terasa lebih baik. Ada kehangatan yang kita dapati ketika adanya api ini. Adanya kelezatan ketika makan ketika adanya api. Api adalah kekutan, apa adalah unsur yang mengajarkan berbagai hal tentang hidup ini.
Api yang dalam sekam tadi mengilustrasikan suatu kekuatan yang sangat luar biasa dari seorang manusia. Kekuatan inilah yang kurang di pandang oleh kita. potensi-potensi yang terpendam dalam diri kita sering kali terabaikan oleh diri kita sendiri. Sehingga sosial hanya memandang kita sebagai api dalam sekam. Kita hanya terlihat sebagai asap yang mohon maaf hanya sebagai polusi. Atau akalu kita kembalikan ke diri kita, kita hanyalah sebagai sampah masyarakat. Adanya kita tidak dianggap sebgai adanya kita. kita useless, ini sangat miris sekali ketika hidup yang begitu singkat ini kita menjadi manusia yang tidak memiliki peran apa-apa dalam bermasyrakat. Kita tidak memiliki peran apa-apa untuk kehidupan diri kita, keluarga dan sahabat-sahabat kita.
Api yang hanya dalam sekam, kekuatan atau potensi yang hanya tersimpan untuk diri sendiri. Kekuatan apapun kalau hanya untuk diri sendiri tiada akan memberikan dampak apapun dalam kehidupan kita ini. Entah itu kekayaan, jabatan yang tinggi, kepinteran atau kemampuan kita dalam bidang tertentu dan lain sebagainya kalau kita tidak memanfaatkanya itu percuma. Seperti ilmu saja kalau tak bermanfaat seperti pohon yang tak berbuah (sabda nabi Muhammad) pohon yang tak berbuah hanya akan menjadi pohon sebagai tempat berteduh tanpa memberikan esensi pohon itu untuk kebermanfaatan. Itu masih mending pohon nah kalau yang terjadi di kita sebagai manusia yang useless?
Manusia sekarang memang agaknya sudah menjadikan segala sesuatunya serba sendiri. Rasa saling berbagi manusia menurun drastic. Andai saja LSI juga mau mensurvei tingkat berbagi rakyat Indonesia mungkin akan menunjukan grafik dari tahun ke tahun selalu menuru. Tapi lembaga yang konon independent dan semoga memang independent ini terlalu sibuk ngurusi elektabilitas calon pemimpin negeri. Akh biarkan sajalah semua memang sudah menjadi bagian masing-masing. Tapi saya mengajak diri saya dan semuanya saja mari kita menjadi pensurvei setiap apapun penurunan nilai moral kita yang waduh dampaknya tidak sepele loh. Kalau masing-masing kita menjadi pengkontrol setidaknya nilai-nilai yang mulai memudar dari masyarakat dapat kita bangun kembali kita jaga lagi.
Berbagi segala hal merupakan ciri yang telah di wariskan kepada kita sebagai insan yang terlahir di bumi nusantara ini. Dengan konsep berbagi ini semua tataran masyarakat akan berjalan dengan harmonis. Iya orang yang tidak memiliki beras bisa meminjam ke tetangganya. Orang yang lapar tidak terus-terusan lapar. Istilah modernya yang kaya tidak semakin kaya, yang miskin tidak makin miskin. Ini konon dampak dari isme dari luar yah? Akh saya tidak mau tahu isme apa ini. Dan saya juga menganjurkan isme tersebut untuk tidak di cari di google. Kembalilah ke gotong royong, kembalilah ke nilai saling memberi saling berbagi.
Gotong royong meskipun sekarang mungkin hanya di pakai partai politik saat pencalonan presiden saja. Kemudian setelah menjadi pejabat mereka tidak lagi mau bergotong royong membangun negeri malah mementingkan partainya. Akh itu juga biarkan sajalah, kita jagan terlalu jauh untuk berpikir ke sana kembali sudah ada bagian masing-masing. Yang sudah saatnya kita lakukan yaitu menanamkan kembali gotong royong di masyarakat. Dulu saat saya masih kecil kalau tetangga membuat rumah kita berduyun-duyun membantu, misalnya menaikan genteng. Bahagia dengan upah makan dengan telur goreng santan. Namun sekarang sialnya pemikiran materealisme menjalar ke darah mereka yang berkantong tebal. Gotong royong di bayar, jadi ekspektasinya ketika tidak di bayar mereka masyarakat bawah akan enggan untuk melakukanya. Timbulnya semuanya berubah seketika menjadi serba materealisme. Orang menarik sumbangan saja jangan di kira mereka tidak di kasih bayaran? Mereka meminta jatah dari hasil uang sumbangan itu. Padahal sebelumnya masyarakat bergotong royong dengan suka rela ketika melakukan hal semacam sumbangan atau ngelolak (memasang batu) di jalan mereka begitu antusias dan bersemangat. Hal semacam ini terjadi di desa tempat saya tinggal loh, beberapa tahun belakang ini sih saya tidak tahu kalau ditempat anda, semoga saja tidak.
Lapisan masyarakat kita terkesan rapuh, dan memang nyatanya sekarang begitu rapuh. Karena semua beranjak dan memulai segala hal sendiri-sendiri. Memang tujuannya untuk mendidik menjadi manusia mandiri. Tapi perlu digaris bawahi mandiri bukan berarti anti sosial, anti empaty terhadap sesama. Hal inilah yang mungkin menurut saya di salah mengerti oleh kita saat ini. Kita terkesan mandiri dan segala sesuatunya bisa dilakukan sendiri dengan kekuatan kita. dengan tangan kita semua bisa kita lalukan sendiri. Rupanya hal ini yang kemudian manjdikan masyrakat kita mudah hancur, mudah pecah, mudah tersulut emosinya.
Marilah kita hidup saling berbagi dengan apa yang kita miliki. Kuatkan lagi nilai-nilai moral kita untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik lagi.


Sunday, March 17, 2013

Mencintai

0 comments


Tuhan kenapa kau bangun cinta yang begitu besar jika nantinya Kau takdirkan aku tak bersamanya? Kata-kata ini terlontar dari tokoh pewayangan yang di mainkan sudjiwo tedjo. Takdir seseorang memang begitu beragam, semua orang agaknya memang miliki takdir yang berbeda-beda. Dalam masalah cinta pun manusia memang di ciptakan dengan segitu sempurnyanya. Manusia di ciptakan dengan di beri hak dicinta dan mencinta.
Pilihan mencinta juga berisiko, di cintai juga berisiko. Lah memang di dunia ini tiada yang tanpa resiko bukan? Hidup ini sejak kita lahir sudah berisiko. Saat kita baru lahir kita di wanti-wanti (dikhawatirkan) oleh orang tua. Kita berlatih berjalan resikonya kepala kita sering kebentur tembok, jatuh lecet-lecet dan sebagainya. Kita gedhe sedikit, kita bermain di nakali anak-anak kita berantem dengan anak tetangga juga resiko. Tapi buktinya sampai sekarang kita masih bisa hidup kan? Begitupun dengan mencintai dan di cintai semua bersiko sakit kata sebagian orang. Cintakah yang salah? Jelas tidak bukan cinta yang salah kitalah yang lemah kitalah yang mudah menyerah begitu kata Candra Malik dalam ma’rifat cintanya.
Mencintai hak semua manusia tiada terkecuali semua mahluk yang ada di muka bumi. Di cintai juga semestinya menjadi hak manusia juga. Namun bagi saya mencintai itu adalah kewajiban. Bukan lagi hak, dengan kita menganggap mencintai itu kewajiban kita akan berusaha mendamaikan diri untuk mencintai sehingga yang kita dapati adalah kedamaian.
Mencintai tak harus memiliki? Mencintai memang tak harus memiliki karena kita telah merasa memilki. Dengan merasa saja kita bisa bahagia kenapa kita mesti ngoyo untuk memiliki, memiliki itu ada tangan takdir yang bermain di situ. Kita hanya di perintahkan untuk saling mengenal kehidupan yang bhineka ini. Untuk bisa menebar cinta ke semua mahluk yang ada di muka bumi ini.
Mencintai yang lebih tua itu secara norma malu-maluin? Bisa jadi malu-maluin, bisa jadi juga gak. Tergantung dari sisi mananya kita mau menilai, tergantung dari sisi manaya kita mau mempresepsikan nya bukan? Seorang gadis belasan tahun nikah sama kakek yang berumur 60 tahun ya malu-maluinlah, meskipun seorang laki-laki itu sampai mati masih bisa kuat secara biologis. Tapi apa ya mau dengan kulit keriput? Sebaliknya seorang jejaka menikahi nenek-nenek usia 60 tahun, ya sudah mens pause di tambah tidak subur secra biologis. Kita mau Cuma ngurus seperti baby sister saja? Kalau jawabanya iya saya acungin jempol ketulusan anda sudah sangat tinggi.
Akh sebenarnya saya sendiri juga bingung dengan tema tentang cinta, karena bagi saya anda sendiri sudah punya pengalaman cinta yang lebih dari pada saya. Barang kali cinta anda juga sudah mampu termanifestasi sebagai cinta yang tulus, bukan lagi ke hamba tapi juga ke sang Maha Cinta bukan? Semoga iya amiin.
Banyak sekali manusia menyalah artikan cinta mereka tiada menyadari dan tiada mampu membedakan antara cinta dan nafsu. Lah gimana mau menyadari cinta orang cintanya juga di balut dengan nafsu iya kan? Kalau ada orang yang hamil duluan itu kalau bilang kita sama-sama cinta kepret saja yang bilang seperti itu. itu sama-sama nafsu bukan sama-sama cinta.
Kenapa lagu-lagu di dunia banyak bertemakan cinta? Bagi saya ya biarin saja hak mereka mau mencipta lagu cinta. Dari pada menciptakan lagu-lagu yang mengandung kebencian? Hayoo. Cinta memang tak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia. Penciptaan manusia juga tak lepas dari yang namanya cinta. Dari cinta kasih ayah dan ibu kemudiana atas izin dan ridho Tuhan kita tercipta. Algu-lagu yang bertemakan cinta juga agaknya lebih laku, karena jumlah pemuda dan pemudi lebih banyak. Coba kalau yang banyak lansia nya pasti lagu-lagunya bertemakan akhirat, bertemakan religiusitas dan itu lebih laku dipasaran.
Cinta identic dengan pemuda benarkah? Gak juga kali, cinta itu tak memandang usia, ruang dan waktu. Datang dengan tiba-tiba, lewat obrolan pertama, atau pandangan pertama atau apa-apalah yang pertama terserah anda saja maunya mana yang pertama. Yang terpenting itu justru yang terakhir sebenarnya. Kita harusnya lebih memilih jadi yang terakhir kalau konteks cinta kita relashionship, buat apa kita jadi yang pertama kalau ujungnya tak jadi yang terakhir? Tidak apa-apa jadi yang ke sepuluh atau yang ke seratus asalkan kita itu yang terakhir sebagai tempat berlbuhan cinta dari pasangan kita.
Lalu cinta itu apa? Kenapa aku bisa cinta kenapa dia bisa cinta? Nah ini jawabanya. Sebanarnya cinta itu tanpa kenapa? Cinta yang berlandaskan kenapa itu hanya merujuk ke sebab akibat. Sebab kau cantik, sebab kau ganteng, sebab kau kaya, sebab kau pintar, sebab kau terkenal dan lain sebagainya. Kemudian akibatnya aku suka, aku cinta. Cinta itu benar-benar bukan masalah sebab akibat. Cinta itu hadir dengan perantara tangan takdir, itulah cinta yang tulus. Tak perlu memaksakan kehendak itulah cinta yang tanpa kenapa. Cinta yang tanpa kenapa tidak akan memandang seseorang dari persepsi sudut yang sempit. Jika ada 1000 pasangan batu bata, cinta yang tanpa kenapa akan memandang 999 batu bata yang terpasang rapi, sedang merekan yang mencinta dengan kenapa akan hanya memandang satu batu bata yang di pasang agak kurang rapi.
Cinta itu mestinya tidak hanya memfocuskan pada titik namun lebih ke kertasnya. Cinta itulah yang akan saling menguatkan kehendak satu sama lainya. Kalau dia kelak tak bersama ku bagaimana? Itu bukan ranah kita membahas hal semacam itu, itu sudah menjadi kehendak dan jalan Tuhan, barang kali dengan orang lain dia akan jauh lebih baik jika di bandingkan dengan diri kita.
Marilah mencintai dan di cintai dengan tanpa alasan. Mencintailah hanya karena memang kita memang sudah seharusnya mencitai. Marilah tetap arungi samudra hidup, dan berlabuhlah dipulau yang tepat bukan sekedar pulau indah di penampakan indrawi. Berlabuhlah di pulau yang akan menghidupi kita, hingga kita tak bisa merangkai kata menjelaskan pujian kepada-Nya atas kenikmatan di berikan pulau yang memberi manfaat kepada kita.